Chapter 10

6 2 0
                                        



Malam itu, Tasya merenung lebih dalam. Setelah percakapan telepon dengan Vino, pikirannya bergumul hebat. Ia memang ingin terus berjuang, tetapi di sisi lain, kata-kata Vino terus menghantuinya. Vino tidak meminta bantuan. Vino tidak ingin Tasya terlibat lebih jauh. Apakah ini saatnya untuk mundur? Apakah ini saatnya menerima kenyataan bahwa ia tak bisa menolong Vino, seberapa pun ia menginginkannya?

Alya mengetuk pintu kamar kos Tasya dan masuk tanpa menunggu jawaban. "Gue udah denger semuanya dari lo tadi, Sya. Gue ngerti gimana beratnya, tapi lo tau, kan? Mungkin sekarang waktu yang tepat buat lo ambil langkah mundur."

Tasya menatap Alya, hatinya berdebar kencang. "Gue nggak tau, Ly. Di satu sisi, gue ngerti apa yang Vino bilang. Gue tau dia cuma mau melindungi gue. Tapi di sisi lain, gue nggak mau ninggalin dia sendirian. Gue tau dia nggak baik-baik aja."

Alya duduk di sebelah Tasya, meletakkan tangannya di atas bahu sahabatnya. "Terkadang, kita harus percaya sama orang yang kita sayang. Kalau dia bilang lo harus mundur, mungkin itu yang terbaik untuk sekarang. Lo harus percaya bahwa Vino tahu apa yang dia lakukan."

Tasya memejamkan mata, menghela napas panjang. Kata-kata Alya terasa masuk akal, tetapi hatinya menolak untuk menerima begitu saja. "Tapi gimana kalau... kalau dia sebenarnya butuh gue tapi nggak bisa bilang? Gimana kalau dia nyerah karena nggak mau nyeret gue ke masalahnya? Gue cuma nggak mau dia ngerasa sendirian."

Alya tersenyum kecil, meski nadanya tetap serius. "Gue yakin, Sya. Vino nggak sendirian. Dia punya keluarganya, meski situasinya rumit. Tapi lo juga punya hak untuk melindungi diri lo sendiri. Lo nggak bisa nolongin orang lain kalau lo juga terluka."

Tasya terdiam, membiarkan kata-kata itu meresap. Mungkin benar, untuk sementara waktu, ia perlu memberikan ruang bagi Vino. Bukan berarti ia menyerah, tetapi mungkin inilah cara terbaik untuk menghormati keinginan Vino.

***

Keesokan harinya, di kampus, suasana tetap terasa tegang. Gosip tentang keluarga Vino masih bergulir liar, meski sekarang dengan lebih banyak detail. Tasya berjalan melewati beberapa mahasiswa yang berbisik-bisik, merasa aneh karena dulu ia dan Vino sering berjalan di tempat yang sama, bercanda tanpa beban. Kini semuanya terasa jauh lebih rumit.

Di ruang kelas, Revan duduk di sebelahnya, menatapnya dengan ekspresi bertanya. "Lo oke?"

Tasya mengangguk, meski tidak sepenuhnya yakin dengan jawabannya. "Gue lagi coba nerima keadaan. Gue nggak bisa terus-terusan ngeyel kayak kemarin. Mungkin memang udah waktunya gue biarin Vino ngurus masalahnya sendiri."

Revan menatapnya dengan serius. "Itu keputusan yang berat, Sya. Tapi mungkin itu yang terbaik untuk saat ini. Kadang, memberi seseorang ruang juga bentuk dari cinta."

Tasya tersenyum kecil, merasa sedikit lebih lega mendengar kata-kata Revan. "Lo bener, Van. Mungkin gue cuma terlalu keras kepala buat nerima kenyataan kalau ada hal-hal yang nggak bisa gue kendalikan."

Revan mengangguk pelan. "Gue ngerti. Tapi lo masih bisa dukung dia dengan cara lain. Lo nggak harus ada di tengah masalahnya buat nunjukkin kalau lo peduli."

Tasya berpikir sejenak. Revan benar. Meskipun dia tidak bisa berada di samping Vino secara langsung, bukan berarti dia harus benar-benar melepaskan perasaan dan dukungannya. Mungkin dengan mundur sedikit, dia justru bisa membantu lebih banyak daripada terus memaksakan diri terlibat dalam situasi yang berbahaya.

***

Hari-hari berikutnya berlalu lebih tenang. Tasya tetap berusaha menjalani aktivitasnya seperti biasa, meski sesekali pikirannya masih melayang pada Vino. Ia merindukan kehadiran Vino di kampus, senyum tipisnya, bahkan percakapan kecil mereka. Namun, setiap kali rasa rindu itu datang, Tasya mencoba mengingat bahwa ini adalah jalan yang Vino pilih—demi mereka berdua.

Suatu sore, Tasya duduk di taman kampus sambil membaca buku ketika ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Hati Tasya berdebar, takut kalau itu adalah ancaman lain. Namun, ketika ia membukanya, pesannya ternyata berbeda kali ini.

"Terima kasih sudah mengerti. Gue harap suatu hari nanti, kita bisa bertemu lagi tanpa bayang-bayang masalah ini."

Pesan singkat itu jelas dari Vino. Tasya tersenyum tipis, merasa lega sekaligus sedih. Meskipun pesan itu tidak memberikan kepastian tentang kapan mereka akan bertemu lagi, setidaknya ia tahu bahwa Vino masih memikirkannya, masih peduli.

Tasya mengetik balasan, "Gue akan selalu nunggu lo, Vin. Sampai kapanpun." Namun, sebelum ia sempat mengirimnya, Tasya berhenti. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengirimkan pesan itu. Ia ingin memberikan ruang pada Vino, seperti yang telah ia putuskan. Jadi, ia menghapus pesan itu dan hanya menyimpan rasa itu dalam hati.

***

Beberapa minggu berlalu tanpa kabar lebih lanjut dari Vino. Kehidupan kampus kembali berjalan seperti biasa, meskipun gosip tentang keluarganya masih terus terdengar samar di sana-sini. Tasya mencoba fokus pada studinya, sambil tetap menjaga hatinya untuk Vino.

Suatu hari, ketika Tasya sedang berjalan keluar dari perpustakaan, dia melihat sosok yang familiar berdiri di dekat pintu masuk. Sosok itu tinggi, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan—Vino. Jantung Tasya berhenti sejenak, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Vino?" panggil Tasya setengah tak yakin.

Vino menoleh, dan meskipun wajahnya tampak lelah, ada senyum tipis yang muncul di bibirnya. "Hai, Tasya."

Tasya terdiam sejenak, tidak tahu harus berkata apa. Perasaannya bercampur antara senang, cemas, dan bingung. "Lo... apa yang lo lakuin di sini?"

Vino mengangkat bahu, tampak lebih tenang dari sebelumnya. "Gue pikir, gue perlu ketemu lo. Ada banyak hal yang perlu gue jelasin, Tapi... bisa kita ngobrol di tempat yang lebih tenang?"

Tasya hanya bisa mengangguk, meskipun hatinya dipenuhi dengan seribu pertanyaan. Vino sudah kembali, dan ia berharap, kali ini, ada kejelasan yang lebih baik di antara mereka.

Bersambung...

---
adudu jelasin apa ya kira kira ini
jangan lupa vote bestt
감사합니다

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 05, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Love SempiternalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang