✮
✮
✮
Setelah pertemuan dengan ayah Vino, Tasya merasa dirinya seperti berdiri di antara dua jurang yang dalam. Satu sisi adalah keinginannya untuk membantu Vino, sementara sisi lain adalah peringatan dingin dari keluarga Trizyan. Tasya tahu bahwa dia telah melangkah terlalu jauh untuk mundur, tetapi setiap langkah berikutnya terasa semakin berbahaya.
Keesokan harinya, saat langit mendung menggelayut rendah, Tasya duduk di kafe kampus, mencoba mengalihkan pikirannya dengan segelas kopi. Namun, benaknya tetap terisi penuh oleh Vino, keluarga Trizyan, dan pesan-pesan ancaman yang ia terima. Tak lama, Alya dan Revan datang, wajah mereka terlihat penuh kekhawatiran.
"Alya udah cerita soal lo ketemu ayahnya Vino kemarin," kata Revan sambil duduk. "Gue masih nggak percaya lo nekat masuk ke sarangnya kayak gitu."
Tasya mengangguk pelan, menatap kosong ke cangkir kopinya. "Gue nggak punya pilihan, Van. Semuanya semakin rumit, dan gue cuma mau tahu Vino baik-baik aja."
Alya menyandarkan tubuhnya ke kursi, ekspresinya penuh keraguan. "Tapi lo sadar kan, apa yang lo hadapi ini bukan masalah biasa? Keluarga Vino itu berkuasa. Mereka bisa ngelakuin apa aja kalau ngerasa lo udah terlalu dalam ikut campur."
Tasya terdiam sejenak sebelum menjawab. "Gue tau, Ly. Tapi gue nggak bisa ninggalin Vino. Semakin banyak yang gue dengar, semakin yakin gue kalau Vino butuh bantuan kita."
Revan menatap Tasya dengan serius. "Gue ngerti lo peduli, tapi lo juga harus hati-hati. Gue denger ada investigasi besar-besaran soal keluarga Vino sekarang. Bisa aja ini jadi lebih berbahaya daripada yang lo bayangin."
Tasya tahu Revan dan Alya benar, tapi rasa khawatirnya terhadap Vino tetap mendominasi. Dia ingin melindungi Vino, tapi bagaimana caranya? Setiap upaya untuk mendekatinya justru membuat semuanya semakin kacau. Tasya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Apa gue salah kalau terus berusaha, ya?" gumam Tasya pada dirinya sendiri.
Alya menggeleng. "Lo nggak salah, Cuma... mungkin sekarang lo harus lebih berhati-hati. Jangan terburu-buru, kita cari cara lain untuk bantu Vino. Lo nggak sendirian."
Tasya menatap Alya dan Revan dengan mata berkaca-kaca, bersyukur memiliki teman yang selalu mendukungnya. Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, tiba-tiba ada sebuah pesan yang masuk ke ponselnya. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal lagi.
"Ini peringatan terakhir. Jika kamu terus mencampuri urusan keluarga kami, akan ada yang menyesal. Ini bukan permainan."
Tasya terdiam sejenak, lalu menunjukkan pesan itu ke Alya dan Revan. Wajah mereka berubah tegang.
"Ini udah nggak main-main lagi, Sya'' kata Revan dengan nada serius. "Lo harus berhenti sebelum ada yang bener-bener bahaya."
Tasya menelan ludah. Dia tahu ancaman ini bukan sekadar gertakan. Tapi, semakin banyak ancaman yang ia terima, semakin ia merasa harus menemukan kebenaran di balik semua ini. Ada sesuatu yang sangat salah dengan situasi Vino, dan dia tidak bisa berpaling begitu saja.
***
Malam itu, Tasya berbaring di tempat tidurnya, memandangi langit-langit kamar kos yang sepi. Pikirannya terus berputar-putar, mencoba mencari jalan keluar dari situasi ini. Namun, semakin dia memikirkannya, semakin terasa mustahil untuk melawan keluarga besar dan berpengaruh seperti keluarga Trizyan.
Di tengah kebingungannya, ponselnya berdering. Tasya segera meraih ponsel itu dengan harapan besar. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berdetak kencang—Vino.
Tanpa pikir panjang, Tasya segera mengangkat telepon itu. "Vino! Kamu di mana? Apa yang terjadi?"
Suara Vino terdengar berat, seperti orang yang kelelahan secara fisik dan mental. "Tasya, gue minta maaf. Gue udah bikin lo terlibat dalam masalah yang nggak seharusnya."
Tasya merasakan hatinya mencelos. "Vino, gue nggak peduli seberapa besar masalah ini. Gue cuma mau tahu lo baik-baik aja."
Ada keheningan di seberang telepon, sebelum Vino akhirnya berkata dengan suara yang lebih rendah, "Gue nggak bisa bilang gue baik-baik aja. Tapi gue juga nggak bisa biarin lo terus nyariin gue. Ini terlalu bahaya buat lo."
"Vino, gue nggak peduli sama bahaya itu! Gue cuma peduli sama lo. Tolong, biarin gue bantu."
Vino menghela napas panjang, suaranya terdengar penuh rasa putus asa. "Lo nggak ngerti. Keluarga gue... mereka nggak akan tinggal diam kalau lo terus terlibat. Gue udah dapet ancaman, Mereka bilang... mereka akan ngelakuin sesuatu ke lo kalau gue nggak jauhin lo."
Tasya tercekat. "Apa maksud lo?"
"Gue harus pergi," kata Vino dengan nada tegas. "Gue nggak bisa ngelibatin lo lebih jauh. Lo harus janji sama gue, lo nggak akan cari gue lagi."
Tasya merasa seperti ditampar. "Tapi Vino... kenapa lo nggak percaya sama gue? Kita bisa hadapin ini bareng-bareng."
"Gue percaya sama lo, Sya. Tapi ini bukan tentang kepercayaan. Ini soal keselamatan lo. Gue nggak mau ngeliat lo terluka karena gue."
Terdengar keheningan yang panjang, seolah Vino berjuang untuk mengatakan sesuatu yang lebih. Akhirnya, dengan suara yang hampir berbisik, Vino menambahkan, "Gue... gue sayang sama lo, Sya.
Tapi karena itu gue harus ninggalin lo."
Setelah kata-kata itu keluar, sambungan telepon terputus. Tasya menatap layar ponselnya yang kini gelap, tangannya gemetar. Kata-kata Vino menggema di kepalanya. Rasa sakit menyelip masuk ke dadanya—perasaan campur aduk antara kebingungan, kehilangan, dan kepedihan.
Vino mencintainya, tapi dia memilih untuk pergi. Dan sekarang, Tasya harus memutuskan apakah dia akan menghormati keinginan Vino dan mundur, atau tetap bertahan meskipun itu berarti menghadapi ancaman yang semakin nyata.
Tasya tahu, apapun yang dia pilih, tidak akan ada jalan kembali.
Bersambung...
---
jangan lupa vote
감사합니다
KAMU SEDANG MEMBACA
The Love Sempiternal
Teen Fiction--- Kisah ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama, melainkan cinta yang tumbuh perlahan, seperti embun pagi yang menetes di dedaunan, seiring waktu, mengukir garis-garis halus di kanvas kehidupan. Tasya, gadis yang selalu berpijak pada logika...
