Chapter 8

6 2 0
                                        



Matahari sore memancarkan cahaya hangat ke jendela perpustakaan, membentuk bayangan panjang di atas meja tempat Tasya dan Revan duduk. Berita skandal keluarga Trizyan terus terngiang di kepala Tasya. Skandal besar yang melibatkan Vino dan keluarganya telah membawa masalah ini ke ranah publik. Tasya menatap layar ponsel Revan yang masih memperlihatkan berita tersebut, merasa sulit untuk percaya bahwa orang yang ia kenal begitu dekat bisa terjebak dalam situasi seperti ini.

"Tasya, lo nggak boleh nekat. Ini bukan cuma masalah kecil," kata Revan, memecah keheningan.

Tasya menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang letih. "Gue nggak akan mundur, Van. Gue nggak peduli sebesar apa pun masalah ini. Vino butuh seseorang yang ada di sisinya, dan gue nggak akan ninggalin dia."

Revan menatap Tasya dengan khawatir. "Gue ngerti lo peduli sama Vino, tapi ini bisa jadi berbahaya. Kita bahkan nggak tau seberapa dalam masalah keluarganya."

Tasya menggigit bibirnya. "Gue tahu, tapi gue nggak bisa duduk diam. Gue harus bicara langsung sama Vino."

Revan tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Kalau lo mau, gue bakal bantu lo. Kita bisa coba cari dia lagi, tapi gue rasa dia sekarang di bawah pengawasan ketat. Keluarganya pasti nggak mau ada orang luar yang ikut campur."

***

Beberapa hari setelah berita skandal itu muncul, kampus mulai dipenuhi bisik-bisik tentang Vino. Mahasiswa mulai berbicara di belakang, menyebarkan gosip tentang keterlibatan keluarganya dalam korupsi besar. Tasya merasa tidak nyaman setiap kali melewati kerumunan yang sedang membicarakan Vino, tapi dia tidak bisa menghindarinya.

Suatu pagi, ketika Tasya sedang berjalan menuju kelas, sebuah suara yang familiar menghentikannya. "SYA!" Alya berlari kecil menghampirinya, wajahnya terlihat serius.

"Ada apa, Ly?" tanya Tasya, menahan napas, takut mendengar kabar buruk lagi.

Alya menarik napas dalam sebelum berbicara. "Gue baru denger gosip dari temen sekelas gue yang kenal salah satu staf kampus. Katanya, Vino udah di-drop out dari kampus."

"Apa?!" Mata Tasya melebar. "Kok bisa?"

Alya mengangkat bahu, tampak tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. "Gue nggak tau detailnya. Mungkin karena skandal keluarganya. Tapi katanya sih."

Perasaan Tasya seperti dihantam keras. Vino di-DO? Itu berarti Vino benar-benar tersingkir dari kehidupannya—seolah semua masalah ini belum cukup, ia berfikir bahwa Vino tidak melakukan kesalahan apapun kenapa harus di-DO hanya karena skandal. "Gue harus pastiin sendiri," gumam Tasya, berlari meninggalkan Alya tanpa penjelasan lebih lanjut.

***

Tasya tiba di gedung administrasi kampus dengan napas terengah-engah. Di dalam, dia melihat seorang staf wanita di meja resepsionis, yang sedang sibuk mengetik di komputernya.

"Permisi, Bu," kata Tasya dengan suara yang bergetar. "Saya ingin menanyakan soal mahasiswa bernama Alvino Trizyan. Apakah benar dia di-DO?"

Staf wanita itu melirik sejenak, lalu kembali fokus pada layar komputer. "Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi pribadi tentang mahasiswa."

"Tolong, ini penting," desak Tasya, suaranya semakin putus asa. "Saya temannya. Saya perlu tahu apa yang terjadi dengan Vino."

Wanita itu berhenti mengetik dan menatap Tasya dengan tatapan simpatik. "Saya minta maaf, tapi ini di luar wewenang saya. Jika Anda ingin informasi lebih lanjut, mungkin bisa berbicara langsung dengan dekan."

The Love SempiternalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang