R'2

2K 188 16
                                        

Happy Reading!

Saat Dira turun menuju ke bawah, ia bisa melihat bahwa adik pertamanya sudah duduk di meja makan tak lupa dengan notebooknya dan laptop yang menyala.

"cepet amat kamu ge mandinya. Bener kamu udah mandi?"

"yaelah ci, emang kalau mandi harus lama? nggak kan, buktinya aku kalo ga mandi juga masih wangi"

"iya deh iya terserah kamu" 

"btw cici kok lama sih turunnya. Si kembar susah dibangunin ya?"

"ya itu salah satu alasannya, selain itu tadi cici juga bangunin Yessa kok"

"ohh, bunda udah berangkat ci?" tanyanya lagi, seakan-akan tidak tertarik dengan topik terakhir yang menyangkut adik pertamanya itu.

Tidak ada yang tahu ada apa dengan Gracia dan Yessa. Padahal waktu Yessa lahir, Gracia lah yang memberikan saran nama Yessaya. Dan ia juga yang paling semangat ketika adiknya itu lahir ke dunia.

"gatau, tapi kayanya iya deh ge. Cici tadi lewat kamar bunda juga kaya gaada tanda-tanda bunda di kamar sih"

Saat akan menjawab perkataan Dira, mereka dikejutkan dengan suara lari dari anak tangga. Yang tentu saja bisa mereka tebak itu adalah ulah si kembar.

"astaga Zeey Christy. Jangan lari. Udah berapa kali cici bilangin. Jangan lari-lari di tangga nanti jatuh!"

"hehe iya ci maap" jawab Zeey

"aku mau duduk dekat ci Dira" ucap Christy dan langsung duduk dekat Dira

"bodoamat Toy, aku sama ci Gre ajalah"

Tak lama kemudian Yessa turun dengan pakaian yang sama sekali tidak rapi, baju dibiarkan keluar, dan sepatu berwarna cokelat, yang seharusnya berwarna hitam polos.

Karena ia sudah berjanji akan makan bersama, eh tidak lebih tepatnya dipaksa oleh cici pertamanya. Ia kemudian ikut duduk dengan kedua cici dan adik kembarnya.

Seketika suasananya menjadi lebih kaku dibanding suasana sebelumnya. Berbeda dengan Zeey dan Gracia, Christy justru senang dengan kehadiran sang kakak. Dibanding Zeey dan Gracia, Christy juga lebih sering berinteraksi dengan Yessa. Walaupun terkesan sangat singkat dan ia juga yang harus memikirkan dan memulai topik pembicaraan pada Yessa.

"ini Senin loh dek, engga apa-apa kamu pake sepatu warna itu? nanti kamu dihukum dek, ganti ya?" pinta Dira setelah melihat sepatu Chika berwarna cokelat

"sepatu aku ketinggalan di loker ci, sampe sekolah nanti aku ganti janji!" jawab Yessa mencoba meyakinkan Dira

"oke kamu janji sama cici"

Setelah percakapan singkat dengan Dira, Yessa duduk di kursinya dengan sedikit rasa canggung. Ia tahu, suasana yang tadinya ringan dan penuh canda mendadak berubah menjadi lebih tegang sejak kehadirannya. Di tengah diamnya ruangan, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, dan sesekali bunyi napas berat Yessa yang mencoba menghindari tatapan cici keduanya. Christy yang duduk di sampingnya, mencoba memberi senyum hangat, tapi Yessa hanya membalas dengan senyum tipis, nyaris tidak terlihat.

Sebenarnya, Yessa tidak berniat menciptakan suasana seperti ini. Ia selalu merasa kikuk saat berkumpul bersama, terutama setelah akhir-akhir ini perasaan tidak nyaman muncul di antara mereka. Meski mereka saudara kandung, Yessa kerap merasa seperti orang asing dalam keluarganya sendiri. Sejak kecil, Yessa memang dikenal lebih pendiam dibandingkan Zeey atau Christy. Dia lebih suka menyendiri, tenggelam dalam dunianya sendiri, tanpa banyak berinteraksi. Tapi dulu, Gracia selalu ada di sampingnya, menjadi kakak yang paling perhatian dan selalu mengajaknya bicara. Sekarang, Gracia terasa jauh, begitu jauh.

Rumah?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang