R'11

1.3K 174 21
                                        

Halo!!!!!!!!!!!!

Happy Reading ya!

Pagi itu, setelah percakapan dengan Dira, Yessa merasa seolah ada titik terang yang mulai muncul. Ia berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan keluarganya, terutama dengan kakaknya, Dira yang begitu perhatian padanya. Meski canggung, Yessa merasa ada kemajuan kecil dalam hubungan mereka.

"Kalo gitu Cici udah bolehin aku pake motor ke sekolah kan?" tanya Yessa

Dira menatap Yessa dengan ekspresi setengah serius, lalu melipat tangan di dada.

"Nggak ah, lagian kamu kalo main ga tau waktu deh. Cici khawatir tau setiap kamu gaada kabar" jawab Dira sambil tersenyum kecil

"Tapi aku kan cuma mau ke sekolah, Ci. Aku udah gede kok, nggak kayak dulu" Ia memang sudah cukup besar, tapi ada perasaan enggan untuk terus bergantung pada Dira atau siapapun di keluarganya.

"Cici tahu, dek. Tapi kamu juga harus hati-hati. Papah kan udah bilang kalau motor itu dipakai buat keperluan yang lebih penting, bukan buat bolos sekolah atau main-main" Dira menyentuh bahu Yessa dengan lembut, berusaha menenangkan adiknya

Yessa merasa sedikit frustasi, namun ia tahu bahwa Dira selalu memperhatikan keselamatannya.

"Ayolah Ci" pinta Yessa dengan nada memelas, sambil menatap Dira dengan mata besar yang memohon.

"Iya, tapi Cici harus minta persetujuan Bunda dulu, dan kalo udah dibolehin berarti kamu harus janji lebih hati-hati. Janji?"

Yessa mengangguk cepat.

"Iya, Ci, janji deh!" Ia merasa sedikit lega meski dengan syarat yang membuatnya sedikit kesulitan.

Dira memeluk Yessa sebentar dan mengecup kening adiknya sembari menysuri rambut hitam panjang adiknya itu.

"Yaudah sana siap-siap gih, terus turun buat makan" ucapnya, sambil tersenyum.

"Makasi, Ci" ucap Yessa dengan tulus, meskipun sedikit canggung.

Setelah berpelukan mereka naik ke lantai atas bersama. Sesampainya di lantai atas, Yessa dan Dira berjalan bersama ke kamar masing-masing. Yessa masuk ke kamarnya dan menatap sekilas ke cermin, mencoba menata dirinya sebelum berangkat sekolah. Tentu saja, ia merasa lebih baik setelah percakapan tadi. Namun, hatinya sedikit gelisah. Apakah Bundanya akan setuju jika ia menggunakan motor untuk pergi ke sekolah? Yessa masih merasa ragu, tetapi setidaknya Dira sudah berjanji akan membicarakan hal itu dengan Bunda. Namun Yessa sebenarnya tak ambil pusing dengan masalah itu, toh ia masih bisa nebeng teman-temannya jika ingin bermain.

Di luar kamar si kembar, Dira mendengar  suara Gracia seperti sedang membangunkan si kembar. Ia membuka pintu kamar perlahan dan mendapati Gracia duduk di samping tempat tidur si kembar, dengan tangan lembut mengelus rambut mereka yang masih tertidur lelap. Si kembar, Zeey dan Christy, tampaknya masih sangat lelah, tidak bergerak sedikit pun.

"Mereka belum bangun Ge?" tanya Dira melihat Gracia yang sedang duduk di sana dengan ekspresi khawatir.

"Belum, Ci" jawab Gracia pelan, dengan nada lembut. "Susah juga ya ternyata, mereka kayanya nggak semangat banget pagi ini."

Dira tersenyum simpul.

"Kecapean juga kali" jawabnya, masih sambil menatap si kembar yang belum bangun. Dira memutuskan untuk duduk di sisi tempat tidur mereka dan mulai menggoyangkan bahu si kembar dengan lembut.

"Zeey, Christy, udah pagi! Ayo bangun, nggak boleh terlambat, nanti keburu telat masuk sekolah!"

Gracia masih duduk diam, mengamatinya dengan sedikit senyum. Ia tampaknya khawatir, meskipun dia berusaha tampak santai.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Rumah?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang