"Jadi kapan kamu pulang ke Jakarta, Boy?"
Pertanyaan yang ditujukan pada William beberapa hari yang lalu itu terus terulang-ulang di kepalanya. William tidak tahu harus merespons apa pada pertanyaan tersebut—menjawabnya dengan kepastian atau harus menjawabnya dengan jawaban paling baik versi dirinya.
"Ini yang Dad takutkan kalau kamu keluar dari Indonesia, takutnya gak mau balik!"
Untung saja saat itu si ayah melemparkan candaan yang bisa memberinya waktu untuk berpikir sejenak.
"So you're going to Indonesia?" tanya Cassandra, gadis cantik berambut pirang yang duduk di sebelah kursinya.
William yang sedang membereskan buku-bukunya sontak menghentikan aktivitasnya. "What?"
Mengapa Cassandra jadi menanyakan hal dengan topik yang sama dengan pembicaraannya dengan mamanya beberapa waktu yang lalu?
Cassandra tertawa pelan sejenak sebelum berdiri dan menepuk-nepuk bahu William, menatap William tanpa suara, hingga akhirnya gadis itu berujar, "You know I'm going to miss you so much, right?"
William benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
"Stop flirting with him, C!" teriakan Haris terdengar, pria blasteran Arab-Indonesia itu segera mendekat, mengerlingkan matanya genit pada Cassandra. "Start flirting with me instead," lanjutnya.
Cassandra tertawa, gadis itu tahu Haris hanya bergurau. Cassandra kembali menatap William setelahnya, tersenyum manis penuh arti. "Just keep in touch, alright? See you soon, Willy." Kemudian ia berlalu, memberi ruang pribadi untuk kedua sahabat yang berasal dari Indonesia itu.
Setelah yakin gadis itu tidak akan mendengar percakapan mereka, Haris segera melayangkan tatapan tidak percayanya pada William. "Bro? Serius banget Cassandra manggil lo pakai nickname?"
William mengerang pelan. "Forget about that. Lo habis bilang apa sama dia sampai dia berasumsi kalau gue bakalan ke Indonesia?" tanya William, menatap Haris tajam.
Haris tersenyum semringah, pria itu merangkul sahabatnya yang melayangkan tatapan datarnya. "Gue udah daftarin kita berdua buat magang di Indonesia, khususnya di Jakarta selama summer ini, jadi—"
"You did what?" potong William, wajahnya tetap terlihat datar, emosi geramnya tidak terdeteksi oleh Haris sama sekali.
"Iya, jadi kita bisa bantu orang-orang di dunia perfilman di Indonesia selama sebulan gitu, gue juga udah minta surat rekomendasi dari dosen kok, jadi aman ...."
William tidak merespons setelahnya, membiarkan Haris terus merangkulnya hingga ke asrama mereka yang terletak masih di dalam kawasan kampus mereka, The American University. Ia dan Haris diletakkan di bagian Letts Hall, hall yang seharusnya dihuni oleh para senior tahun ketiga, karena di tahun sebelumnya semua bagian sudah terisi dengan komunitasnya masing-masing dan mereka belum mendapatkan tempat, jadilah mereka diletakkan di sana.
Sesampainya di sana, William memilih memasang wajah datarnya, membiarkan Haris menyapa para senior yang sedang bercengkrama di sky lounge.
"Yo, Bro! Your friend looks gloomy!" komentar salah satu senior yang ditujukan pada William.
Setelah sampai di kamar yang hanya dihuni oleh mereka berdua, Haris lalu mendengus. "Lo ada apa, sih? Gak mau ninggalin Cassandra?" tanya Haris kesal.
William meletakkan tasnya dengan asal, merebahkan dirinya di atas kasurnya.
"Bro? Cerita, lah," desak Haris.
Wiliam menoleh ke arah sahabatnya lalu menaikkan satu alisnya penuh tanya. "What?"
"Kenapa muka lo asem gitu dari tadi?" tanya Haris sabar.
"Ya lo ngapain bilang ke dosen kalau kita mau ambil internship ke Indo?"
Haris membuka bajunya, mengambil baju yang lebih santai di dalam lemarinya. "Emang kenapa? Gue sih takutnya kita di suruh ke kampus during summer break gitu makanya sekalian gue bilang kita intership aja," jelas Haris panjang lebar, ia mengenakan pakaiannya dengan santai.
"Kan lumayan bisa lihat nanti kita kerjanya gimana, habis lulus kita juga balik ke Indo lagi, kan?" lanjut Haris sebelum melompat ke atas kasur, mengistirahatkan tubuhnya yang sedari tadi harus berdiri karena kegiatan praktik yang mengharuskannya berdiri.
William masih memilih untuk tidak merespons.
"Oy! Lo pikir gue mind reader apa gimana? Kasih gue respons, kek. Capek gue udah nyerocos panjang lebar dari tadi terus lo gak—"
"Gue gak mau ke Indo, Ris."
Haris mengernyit. "Hah?" beonya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan.
"So you're telling me you're not going to visit your family?" tanya Haris berikutnya dengan wajah yang lebih terkejut dari sebelumnya.
William memilih untuk tidak menjawab, menutup matanya agar ia bisa lolos dari pertanyaan Haris yang enggan untuk ia jawab.
William sebenarnya tidak membenci Indonesia, yang ia benci adalah ibu kotanya, Jakarta. Dan ... William tinggal di sana.
Tidak. William tidak memiliki masalah dengan keluarganya sampai ia enggan untuk pulang. Hanya saja ada ... Karissa. Jakarta dan Karissa itu seperti hal yang tidak terpisahkan di otak William.
Saat Indonesia dibahas di kelasnya beberapa saat yang lalu, nama Karissa muncul. Saat ia tidak sengaja melihat feed yang diposting temannya, senyum Karissa yang ada di pikirannya.
William benci Indonesia karena Karissa.
Padatnya kota Jakarta ... Karissa yang dengan senang hati menunggu sambil mengikuti lagu di radio mobilnya yang disusul dengan tawa mereka karena Karissa yang tidak tahu dengan nadanya.
Polusi Jakarta? Bersin Karissa yang lucu dan tangannya yang selalu meminta selembar tisu setelahnya untuk membersihkan hidungnya padahal tidak ada ingus di sana.
"Ayolah, Wil. Udah dua tahun kita di Washington dan lo gak pernah balik sama sekali ke Indonesia. Tahun kemaren gue balik lo gak balik, kan? Lo malah ambil internship program di sini?" Haris sebenarnya miris saja dengan keadaan William.
Bukan tanpa alasan, Rossie, ibunda William yang menyuruh Haris langsung untuk menyeret pulang anaknya itu, wanita itu sudah terlalu rindu. Rosie bahkan bersedia membiayai tiket pesawat pulang dan pergi untuk mereka berdua.
"Wil!" seru Haris dongkol.
Haris bangkit dari posisi tidurnya, melihat William yang menutup mata, Haris sontak mengumpat, "Yee ... si anjing diajak ngomong malah tidur."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unspoken Thing
Short StoryUnspoken things. Hewan, tumbuhan, suasana, kendaraan, dan lainnya yang tidak dapat berkomunikasi dengan manusia tetapi anehnya dapat menyimpan sebuah kenangan, membuat Karissa terkadang benci dengan tempat itu. Namun unspoken things tidak terbatas s...
