Di sebuah kota terutama kota besar, rasanya aneh saja jika tidak ada minimarket yang bersedia melayani tanpa henti-buka 24 jam setiap hari tanpa libur-dan itu salah satu alasan mengapa Karissa menyukai Jakarta.
Seperti hari ini, Karissa terbangun akibat mimpi buruk yang entah mengapa sering menghantuinya akhir-akhir ini. Lalu seperti biasa, ia takut untuk tidur lagi dan berakhir menginginkan sesuatu asin di mulutnya, potato chips. Thanks to the 24 minimarket near her house, Karissa bisa mendapatkan apa yang ia mau.
Karissa mendudukkan dirinya di bangku yang disediakan oleh minimarket tersebut di bagian depan. Angin malam menelisik masuk ke dalam jaketnya yang tidak terlalu tebal, Karissa belum mau pulang saja. Tangannya lalu mengambil bungkusan keripik itu, membukanya lalu mengambil satu keping, camilan yang kaya akan monosodium glutamat itu sukses membuat otaknya kembali bahagia setelah mimpi buruk tadi.
Karissa lalu menatap ke depan, tepatnya ke jalan raya yang masih saja ramai oleh orang-orang. Jakarta itu tidak pernah beristirahat, ya?
Mungkin dirinya salah. Jakarta saat lebaran idul fitri kan ... sepi. Entah mengapa itu membuat Karissa sedih. Lucu saja, saat hari kerja, Jakarta padat dengan orang-orang, tapi saat liburan? Semua orang meninggalkannya yang berarti Jakarta itu hanya tempat bekerja saja, bukan tempat pulang.
Karissa menggeleng, ia berlebihan.
Karissa lalu menoleh, mengedarkan pandangannya ke seluruh arah sebelum matanya berserobok dengan mata cokelat yang entah mengapa masih sukses membuatnya tenang.
"Hai ...." Pria itu menyapa, melayangkan senyum tulus yang rasanya masih Karissa kenal, tidak pernah berubah sejak pertama kali ia bertemu.
Karissa hanya membalasnya dengan senyuman, mungkin ia tidak akan menghindar hari ini. Atau sebenarnya ia tidak mau saja William tahu bahwa Karissa mati matian menghindari pria itu di mana pun karena ia tidak mau membuat suatu hal jelas saja-fakta bahwa Karissa masih menginginkan mantannya.
William menunjuk kursi di hadapan Karissa. "Can I sit here?"
Karissa lagi-lagi hanya mengangguk, lantas menawarkan keripik kesukaannya dengan gestur tubuhnya.
William hanya tersenyum, memilih untuk tidak mengambil keripik milik Karissa.
William diam-diam memperhatikan gadis itu, masih senang menikmati camilan di malam hari walau Karissa sendiri tahu itu tidak sehat. Tatapan yang Karissa layangkan pada orang lain juga masih sama, tatapan datar tetapi polos dalam waktu yang bersamaan lalu membuat orang-orang berasumsi bahwa ia bukan manusia friendly yang bisa diajak basa-basi.
Menurut William, Karissa bisa saja diajak basa-basi, dan gadis itu kooperatif jika diajak bicara hal-hal yang tidak penting. Namun bukan berarti Karissa menyukainya, tentu saja. What he's trying to say is that people often misunderstand things.
"Kar ...."
Karissa menoleh, menatap mata William dengan alis yang naik sedikit, mulutnya masih sibuk mengunyah pelan.
"Sepekan lagi gue balik ke Amerika." William tidak tahu apa yang membuatnya mengatakan hal ini. Mungkin ia hanya ingin menyaksikan respons Karissa saja.
Karissa terlihat terkejut sejenak sebelum mengangguk mengerti dan berkata, "Have a safe flight." Gadis itu kemudian menatap ke jalanan di belakang William lagi.
The unspoken thing, facial expressions.
Saat William menyampaikan hal itu, Karissa terlihat terkejut yang artinya gadis itu tidak menyangka bahwa William akan kembali lagi-mungkin, ini hanya prediksi William saja. Karissa lalu mengatakan hal itu, bisa saja gadis itu sedang berusaha terlihat biasa-biasa saja, tidak ada hal yang penting dari pengumuman itu.
Karissa lalu menatap kembali ke jalanan. Saat ini sebenarnya ada dua kemungkinan, Karissa tidak peduli atau lagi-lagi ia hanya tidak ingin terlihat peduli. Namun ada satu detail yang untungnya berhasil William tangkap, Karissa melipat bibirnya ke dalam sebelum kembali menatap ke jalanan yang berarti gadis itu sedang merasa tidak nyaman.
Sekitar lima menit setelahnya Karissa berdiri, mengambil keripiknya yang masih tersisa banyak. "Gue duluan," pamitnya sekadar untuk kepentingan etika sebelum meninggalkan William yang terus menatap punggungnya yang kian menjauh.
Karissa tidak menoleh ke belakang sama sekali. William ingin mencari tahu apa alasannya tetapi ia seketika mengurungkan niatnya.
William tidak perlu tahu apa yang Karissa rasakan. Mereka sudah bukan siapa-siapa lagi, kan?
William berdecak kesal. Sekarang otaknya memerintahkan dirinya untuk mengejar gadis itu dan mengajaknya untuk berpartisipasi di tempat William ingin hunting foto selanjutnya, Jakarta Aquarium.
At this moment, William really hates himself. 'Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu hal' sepertinya moto yang bagus untuk hari ini.
William bangkit dari kursinya, berlari menghampiri Karissa yang untung saja masih belum terlalu jauh dari sana.
"Karissa, stop," titah William.
Karissa menoleh, matanya menatap seluruh bagian wajah William, tidak percaya dengan apa yang baru saja William lakukan.
"Kapan lo kosong?" tanya William kemudian dengan tegas.
Karissa berkedip dua kali sebelum mulutnya terbuka seraya menatap ke lain arah, bibirnya tersenyum datar, Karissa sedang berpikir.
Karissa menyelipkan rambutnya yang tergerai ke bagian belakang daun telinganya dengan kikuk. "Kayaknya Jumat bisa habis kelas siang," jawab Karissa.
William tahu jawaban ini bukan berarti Karissa mau diajak menghabiskan waktu bersama William.
"Mau ke Jakarta Aquarium temenin gue hunting foto?" tawar William selanjutnya.
William menarik napas, ia lupa untuk memberi tahu waktunya. "I'll pick you up at 5 pm," lanjut William.
Karissa mengangguk tanpa berpikir terlebih dahulu. "Oke," jawabnya tanpa keraguan yang membuat William semakin benci pada dirinya sendiri.
William tersenyum tipis.
Karissa mengangguk lagi, gadis itu sepertinya menunggu William mengatakan sesuatu lagi.
"Ada lagi?" tanya Karissa akhirnya.
William mengangguk. "Iya," jawabnya.
Karissa menatap William dengan sedikit mendongak mengingat perbedaan tinggi mereka yang cukup untuk membuat satu penggaris standar yang bisa dimasukkan ke dalam tempat pensil tertentu. Menunggu kalimat yang selanjutnya dikeluarkan oleh bibir William.
"Gue temenin lo jalan sampai ke rumah," putus William kemudian.
William bisa melihat Karissa yang ingin protes. Tetapi sebelum sempat, William dengan cepat beralasan, "Gue mau beli angkringan di dekat perumahan lo," terangnya.
Karissa jelas tahu itu hanya alasan walaupun ia yakin setelahnya William akan benar-benar melakukan hal itu. Namun tidak apa, tidak ada ruginya juga jika dipikir menggunakan logika, jadi Karissa hanya mengangguk, membiarkan William menemaninya hingga ke rumah.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unspoken Thing
Short StoryUnspoken things. Hewan, tumbuhan, suasana, kendaraan, dan lainnya yang tidak dapat berkomunikasi dengan manusia tetapi anehnya dapat menyimpan sebuah kenangan, membuat Karissa terkadang benci dengan tempat itu. Namun unspoken things tidak terbatas s...
