Jakarta dan kesibukan sepertinya tidak dapat dipisahkan. Simple-nya, ada dua tipe manusia berkeluarga di sana, satu orang yang kesal dengan kesibukannya yang terlihat seperti tidak berujung dan takut waktu dirinya untuk keluarganya tidak cukup, lalu ada juga yang kesal dengan keluarganya yang terlihat lebih seperti penghambat bagi karirnya.
Awalnya ayah kandung William bisa dikategorikan sebagai tipe pertama, singkat cerita ia keluar dari Jakarta dengan tujuan untuk mendapatkan hal yang lebih banyak lagi sebelum ia mengkhianati istrinya dan ... from long distance relationship to divorced. Setelahnya ibunya menikah lagi, katanya tidak ada gunanya stuck pada satu orang seperti ayahnya.
Selesai. Andai traumanya juga bisa selesai segampang ia menceritakan keluarganya ini. Sayangnya tidak.
"Foto Karissa masih dipelototin terus, tuh, Bro?" Haris yang sedang menemani William merapikan barang-barangnya bertanya.
William berdecak kesal saat ditegur seperti itu, ia meletakkan selembar foto itu di atas mejanya lalu menghampiri Haris. "Dokumennya udah lengkap, kan? When we arrive there juga bisa langsung presentasi ke dosen?" tanya William memastikan.
Haris mengacungkan jempolnya. "Aman, Bro."
"Keren juga bagian intern lo, ya?" tanya Haris kemudian.
William yang sedang mengacak-acak lemarinya untuk memasukkan beberapa pasang baju ke dalam kopernya merespons singkat, "Keren gimana?"
"Ya langsung kebagian proyek penting. Bukannya behind the scene-nya lo yang urusin, ya?" tanya Haris memastikan.
William hanya mengangguk sekilas.
"Lo ada apa lagi sih sama Karissa?" tanya Haris dengan tatapan menyelidik.
William menghentikan aktivitasnya, menatap Haris datar. "Ada apa gimana?"
Haris berdecak kesal, ia menunjuk foto yang ada di atas meja William. "Tuh, lo perhatiin mulu fotonya dia."
William mengangkat bahunya acuh. "Emang salah?' tanyanya.
Pertanyaan itu entah mengapa membuat Haris ingin melemparkan bantal yang ada di sampingnya ke wajah tampan temannya ini. "Ya salah, lah, bego!" tukas Haris dongkol.
"Kalau dia pacar orang gimana?"
William menggeleng. "Bukan pacar orang," jawabnya yakin.
Haris mendelik. "Sejak kapan lo jadi sok tahu begini?"
"Gue mengeluarkan fakta gitu ada dasarnya, ya," balas William sengit.
"Nih, ini, nih ... kalau soal Karissa aja sensitif banget, giliran soal Cassandra, boro-boro," komentar Haris, telunjuknya dengan kesal menunjuk wajah sahabatnya.
William menggeleng. Malas untuk menanggapi kalimat Haris yang sepertinya tidak ada habisnya.
"Habis ini ke pasar dekat sini, yuk, Wil. Lo tahu, kan?" tanya Haris.
"Gue mau hunting foto juga, astaga. Lo doang yang punya banyak," tambah Haris kesal.
William menggeleng. "Ke pasar mana maksud lo?" tanya William. Setahunya pasar yang ada di sekitar rumahnya hanya pasar modern yang menurutnya nilai estetikanya tidak terlalu menarik untuk difoto.
"Pasar Baru, Wil," jawab Haris polos.
William meraup wajahnya frustrasi. "Itu di Jakarta Pusat, pinter."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unspoken Thing
Short StoryUnspoken things. Hewan, tumbuhan, suasana, kendaraan, dan lainnya yang tidak dapat berkomunikasi dengan manusia tetapi anehnya dapat menyimpan sebuah kenangan, membuat Karissa terkadang benci dengan tempat itu. Namun unspoken things tidak terbatas s...
