Ngapain gue ke Kota Tua Jakarta? Gak tahu, gue cuman mau mengenang sedikit tempat pertemuan gue dengan Karissa pertama kalinya sembari nge-haunting foto di sana. Setelah lagi-lagi 'diusir' lebih awal dibanding kru-kru Pak Reno yang lain, gue memutuskan untuk gak langsung ke Tangerang Selatan buat balik ke rumah, melainkan ke Jakarta Barat dulu biar bisa menikmati Kota Tua Jakarta atau yang biasa disebut Batavia Tua—Oud Batavia kalau kata Teteh Wikipedia, mah.
Enaknya, si Kota Tua Jakarta ini bisa langsung lo nikmati gak jauh setelah lo turun di Stasiun Kereta Api Jakarta Tua atau Stasiun Beos yang letaknya dekat banget sama Taman Fatahillah.
One thing I like so much about Taman Fatahillah is the building. Vibe-nya vintage banget, kuno gitu gaya bangunannya. Ya walaupun gue sebenarnya gak se-tertarik itu buat masuk. Cuman lihat bangunan tua itu dari luar aja udah bikin gue inget lagi kalau Belanda pernah menjajah Indonesia. Karissa ... pernah menjajah pikiran gue—ralat, udah bukan pernah lagi, tetapi masih sukses menjajah pikiran gue.
Ketemu si Karissa bukan bikin gue tenang, justru bikin gue semakin khawatir ... what if she has a boyfriend? Kalau cowoknya jelek sih gak apa, ya—not to be an arrogant person tapi ketampanan gue bisa diadu—eh ... tapi masa cewek se-cantik dan se-pinter Karissa dapat cowok kayak gitu? Rugi banget, mending sama gue.
"Bro? Liburan lo di sini banget ini?" Seseorang menepuk pundak gue pelan, tawanya terdengar renyah di telinga gue dan sangat familier. Pikiran gue tentang Karissa sukses putus sampai di situ.
"Ya?"
Gue menoleh, alis gue sontak terangkat ketika menemukan pria berambut pirang tersenyum usil di depan gue. Ini siapa, ya? Gue memicingkan mata sebelum akhirnya menyadari bahwa ... ini sahabat lama gue, Pierre, si cowok Indonesia-Jerman yang look-nya bule banget melebihi gue.
"Yoo ... welcome back to Indonesia, Bro!" Tanpa basa-basi cowok ramah itu langsung menepuk-nepuk bahu gue seperti kedua sahabat cowok yang baru saja bertemu pada umumnya.
Gue tertawa, oh God ... he's right. Udah lama banget kita berdua gak ketemu and I've missed him so much—not in a romantic way, ya.
Mata Pierre melayang ke Sony ZV-1M2 yang digenggam oleh tangan gue yang cukup besar—apa lagi kalau lo bandingin sama tangan Karissa yang mungil. Pierre terlihat tertarik dengan benda yang gue pegang. "So your planning to be a ... producer or something?" tanya Pierre dengan mata yang mengilap karena antusias.
Gue, Pierre, dan Haris dulunya trio yang dianggap tak terpisahkan dengan skill videografi kita yang gak main-main. Gue bisa banget dipakai buat nge-shoot, Pierre jago dalam hal konsep, si Haris yang bagian ngeditnya, si Haris walau cerewet banget kayak mak-mak pada umumnya, dia nguasain Adobe sejak SMA kelas 1. Well ... but you know ... things happened—salah satunya Pierre yang pindah sekolah—and then we finally separate, no contacts, no e-mails, nothing. Dan ini pertama kalinya gue ketemu dia lagi.
Gue mengangguk. "Yeah, what else?" tanya gue sarkas. Sama sekali bukan sarkas ke Pierre, tapi sarkas ke diri gue yang bodoh banget. Masa bisanya cuman ini doang? Payah.
Pierre menggeleng. "Nevermind, lo mau masuk ke Museum Fatahillah?" Pierre menawarkan kemudian.
Gue lagi-lagi hanya bisa menerima tawaran dia. Gue ke sini juga gak punya rencana, kan? Ngikut rencana Pierre gak bikin Kota Tua ini kiamat, kok.
"Are you seeing anyone?" Pierre tiba-tiba bertanya saat gue sedang asyik melihat-lihat gambar beberapa pahlawan yang dilukis sedemikian rupa dan dipajang di dinding museum yang ternyata sudah terbentuk sejak tahun 1707.
Gue terdiam. Seeing anyone? Gak kayaknya, lebih tepatnya stuck with someone. "Gak," jawab gue singkat.
You see ... Museum Fatahillah ini adalah salah satu unspoken thing-nya Indonesia terutama Jakarta. Dia yang menjadi saksi bisu jejak sejarah kota Jakarta. I wonder what kind of Jakarta it's already seen.
Bangunan ini bisa bercerita tentang bagaimana keadaan Indonesia sebelum menjadi Indonesia yang sekarang, dijajah oleh Belanda. Intinya kalau lo mau lihat-lihat peninggalan Jakarta sejak zaman prasejarah sampai setelah kemerdekaan, lo datang aja di sini. Kalau lo mau lihat seberapa berefeknya Karissa ke gue, lihat sorot mata gue yang gak secerah dulu lagi.
I know, I'm being extremely cringe right now. Tapi bukannya hampir semua hal itu cringe sampai lo rasain sendiri? So please just let me tell you my stories.
"Tapi lo pernah pacaran, kan?" tanya Pierre terdengar ragu.
Ini aneh banget. Kita baru aja ketemu setelah ... I don't know, who's counting?
"Yeah ... I have," jawab gue, mata gue masih fokus pada foto-foto pahlawan yang sudah sangat berjasa membawa Indonesia ke gerbang kemerdekaan yang seharusnya—inspired by UUD 1945 by the way.
"Dude, I like a girl ... tapi orangnya kayak untouchable banget gitu. But I swear to God I really want this girl ... what should I do?" Si Pierre malah ngekor ke semua tempat yang gue kunjungin.
Ini kenapa jadi sesi curhat gini?
Entah, Pier. Gue juga bingung how to win her heart like I did before. "Gak tahu, gue bukan expert, tanya Haris aja," jawab gue lagi dengan singkat setelah puas mengabaikan Pierre beberapa saat dan mengambil beberapa foto di kamera yang ditujukan untuk vlogging itu.
"Eh ... Pier ... gue mau ke Art Street dulu, ya. You want to come?"
Pierre menggeleng, ia terlihat kecewa dengan gue yang akan segera meninggalkannya. "Kalau lo ada apa-apa dan butuh gue langsung call aja, ya. Nomor gue masih sama," pungkas Pierre.
Gue hanya mengangkat jari jempol sebelum ngacir keluar dari museum itu. Art Street Jakarta Tua, tempat para seniman jalanan menyalurkan bakatnya. Gue selalu suka ngelihat orang yang melayang entah bagaimana caranya—gue tahu itu gak benar-benar melayang but I just don't know their tricks ... yet—atau bahkan orang-orang yang berpakaian layaknya pocong, kuntilanak, dan hantu-hantu Indonesia lainnya.
I always laugh at them—bukan ngejek, melainkan terhibur. Dan ... iya, gue dan Karissa bertemu di sini, saat Karissa tersenyum tipis menatap orang-orang yang dengan semangat sekaligus ketakutan bergantian berfoto dengan si hantu-hantu khas Indonesia itu. I wish you're here, Kar.
Another dumb thing to do. Gue bilang gue benci Jakarta, kan? Iya, gue masih benci karena beribu kenangan gue dan Karissa yang menempel di sana ... tapi melihat hal-hal yang Karissa sukai entah mengapa membuat gue ngerasa gue dekat sama Karissa.
Gue menggeleng, bodoh sekali pikiran gue. Gue lalu mengangkat kamera, membidikkannya pada kuntilanak dan pocong di sebelahnya dengan fake blood yang ada di bagian-bagian tertentu tubuhnya.
Klik!
"Aduh, Mas ... jadi malu deh difoto sama Mas ...." Gue tertawa mendengar komentar si pemakai kostum kuntilanak.
"Sini deh, Mas ... gue fotoin sama dia." Tawaran ini sukses bikin tawa gue pecah. Lo tahu siapa yang baru aja nawarin? Manusia perak yang harusnya diam di tempat.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unspoken Thing
Short StoryUnspoken things. Hewan, tumbuhan, suasana, kendaraan, dan lainnya yang tidak dapat berkomunikasi dengan manusia tetapi anehnya dapat menyimpan sebuah kenangan, membuat Karissa terkadang benci dengan tempat itu. Namun unspoken things tidak terbatas s...
