(willy) four; we meet again

6 0 0
                                        

Gue melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan gue, sebentar lagi jam 6 malam dan gue udah disuruh pulang sama sutradara yang gue bantu seharian buat nge-shoot adegan-adegan film layar lebar. Sebenarnya gue bisa aja stay sampai tengah malam, nyokap bokap juga gak bakalan mempermasalahkan hal itu. Tapi si sutradara, Pak Reno keukeuh gue pulang aja, katanya kasihan gue baru aja sampai dari Amerika.

Ya ... gue akhirnya masuk satu hari setelah istirahat di rumah. Daripada gue kepikiran Karissa terus, kan?

Karena kebetulan tempat syuting tadi dekat dengan stasiun, jadilah gue ke sana. Stasiun yang sebenarnya menyimpan satu kenangan gue dan Karissa—si gadis ini lagi. Sorry to say, di otak gue cuman ada cewek ini—untuk saat ini.

Saat gue memutuskan buat antre di tempat pembelian karcis ... ini gue gak salah lihat, kan?

Gue gak tahu ini akibat gue yang mikirin Karissa mulu atau gimana, tapi gadis itu ada di sana, berdiri dengan cup kopi di tangannya, matanya menatap sepatunya dengan kikuk—khas Karissa banget, tas ranselnya yang hanya tersampir di bahu kirinya, dan ... ponselnya yang lagi-lagi mencuat keluar dari saku celana kainnya.

God ... I swear to God ... this girl is not belong here.

Bodoamat soal gue yang bakalan segera dapat karcis—giliran gue bentar lagi, gue langsung menghampiri gadis itu, menyebut namanya yang udah dua tahun gak gue sebut, "Karissa?"

Gue gak salah orang, gadis dengan tas berwarna biru pastel itu menoleh, wajahnya terlihat kaget. Kaget ngelihat gue, Kar? Bibirnya terbuka sedikit, ekspresi yang biasanya ia tunjukkan saat ia terkejut. Tapi tidak ada suara, Karissa sama sekali memilih untuk tidak bersuara bahkan untuk mengekspresikan betapa terkejutnya gadis itu sekarang dengan kehadiran gue di sini, di depan gue.

Lo tahu apa yang pengen banget gue lakuin saat melihat lo, Kar? Gue pengen meluk lo, narik badan lo yang mungil itu ke sisi gue. Sayangnya gue gak bisa, Kar. You and I are just too complicated to be true, ya, kan?

Maaf, Kar. Kali ini gue gak mau nunjukin betapa kehilangannya gue saat ini. "Handphone lo, takutnya diambil orang," ingat gue sambil melirik ponsel dengan case transparan itu.

Bibir Karissa semakin terbuka, gadis itu mengerang pelan, "Ah ... ini ...." Karissa segera mengambil ponselnya, ia tersenyum datar, matanya sama sekali gak berani buat natap mata gue.

Come on, Kar ... look at me biar gue bisa baca tatapan apa yang lo layangkan ke gue, I need to know. Sorry for being cheesy right now ... salahin Karissa aja.

"Bareng aja, ya, Kar?" Kalimat yang selama ini gue tahan karena ragu akhirnya meluncur juga dari mulut gue. Bukan karena hal lain, gue emang khawatir banget sama keadaan gadis ini.

Karissa itu terbiasa diantar-jemput oleh orang tuanya, atau tidak bersama dengan temannya, nebeng istilahnya. Jika bukan keduanya, maka Karissa akan memesan taxi online. Karissa bukan gadis yang biasa berbaur dengan berpuluh-puluh orang dan berdesak-desakan di transportasi umum seperti kereta atau Transjakarta. Dan sekarang dia berada di sini? Ini keajaiban dunia ke-8 kali, ya?

Awalnya Karissa ragu, gue bisa ngerasain hal itu. Untungnya gadis itu kemudian menerima tawaran gue.

Gue menghela napas, menunjuk sudut kosong di antara loket karcis dan tempat masuk ke area kereta. "Lo tunggu di situ aja, ya? Biar gue yang urus karcisnya," pinta gue pelan.

"Lo mau balik, kan?" tanya gue lagi memastikan.

Kan kalau ternyata Karissa mau ke tempat lain terus gue mesan karcis ke Sudimara tempat dia tinggal, kocak jadinya.

Karissa mengangguk pelan. "Iya, mau pulang ke rumah, kok," jawabnya.

"Beneran aku—gue nunggu di sana aja?" tanya Karissa kemudian, gue masih bisa merasakan hawa canggung yang menyergap dengan tidak sopan di antara kita berdua.

Gue mengangguk mantap. "Iya, nunggu di sana aja, nanti gue samperin kalau udah dapat karcisnya," jelas gue meyakinkan.

Gue mengerti apa yang Karissa khawatirkan. Pikiran Karissa itu banyak, gadis itu pikirannya terlalu acak dan sering tersesat sendiri di dalam pikirannya sampai lupa apa yang terjadi di sekitarnya. Karissa khawatir gue bakalan ninggalin dia saat dia gak sadar lagi ngelamun di sana.

"Oh ... God." Kenapa gue jadi ngejelasin Karissa begini?

"Mau ke mana, Mas?" Tanpa gue sadari, ternyata saat ini akhirnya giliran gue.

"Ke Sudimara, Mbak. Buat dua orang, ya," jawab gue sambil menyerahkan sejumlah uang. Setelah menerima kembalian, gue menghampiri Karissa yang berdiri persis di tempat yang gue tunjukkan tadi.

Entah karena kebiasaan lama atau keinginan gue yang udah menggebu-gebu banget, gue tanpa sadar mengambil tangan gadis itu, menggenggamnya. "Ayo," ajak gue kemudian.

Gue lalu meletakkan kartu gue di mesin pembaca, membiarkan Karissa melewati security system yang terbuat dari besi itu. Setelah memastikan Karissa telah melewatinya, gue kemudian mengambil kartu lain, meletakkannya di sana lalu melewatinya.

Setelahnya? Gak usah berharap macam-macam, gue cuman sekali menahan lengan gadis itu yang hampir masuk ke kereta lain yang tujuannya berbeda dengan tujuan gue dan dia. At this point, gue bersyukur banget Pak Reno 'ngusir' gue sebelum matahari tenggelam. Gue beneran gak habis pikir apa yang akan terjadi kalau gue gak ada di sini bersama Karissa, gak lucu kalau dia hilang, kan?

"William ... lo kok bisa di Indonesia?" Pertanyaan itu dia ajukan tanpa berniat menatap mata gue sama sekali.

Entahlah, mungkin Karissa cuman pengen bertanya biar suasana di antara kami gak terlalu canggung.

Crap ... hal ini yang bikin gue suka banget sama dia. Gue suka tingkah canggung dia. Or is just me being crazy? Lo tahu setelah putus apa yang terjadi? Setiap orang canggung berdiri di depan gue, gue selalu mikirin Karissa.

"It's summer break, remember?" tanya gue pelan. Just keep it cool, Wil. Karissa benci hal yang heboh.

Oh ... dan gak ada yang perlu dihebohkan tentang pertemuan kedua insan yang pernah berhubungan. Tai banget emang.

Karissa tertawa renyah. "Oh iya, ya? Lupa ...."

Seriusan cuman segitu doang responsnya, Kar? Apes banget kayaknya gue. Come on ... say one more thing, Kar. Gue mau tahu apa yang ada di pikiran lo sekarang.

Unfortunately Karissa is Karissa, she enjoys every awkward silence.

***

The Unspoken ThingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang