#17 : Sebuah Kejelasan

31 20 0
                                        

"Walaupun diantara kita masih belum ada kejelasan, gue nggak suka liat lo sama yang lain,"

-Bryan-

Sudah satu minggu sejak aksi saling balas karya di Instagram itu terjadi antara Rayna dan Bryan, tidak ada komunikasi di antara mereka.

Rayna menatap ponselnya dengan air mata yang tak terbendung lagi. Puisi-puisi Bryan yang ditangkap dalam indera penglihatannya cukup menusuk hatinya. Langit yang redup dengan awan-awan hitam yang siap menurunkan air hujan seolah mengerti situasi Rayna sekarang.

Ada sebuah rasa sakit dan kebimbangan yang menggelayutinya. Rasa sakit karena Bryan tak pernah seperti biasanya dan rasa bimbang atas situasi yang aneh terjadi. Rayna bukan milik Bryan, akan tetapi ada sebuah keinginan untuk bisa menjelaskan kesalahpahaman dalam hubungannya ini.

"Andai lo tahu, Bryan. Sayang gue sepenuhnya cuma buat lo, bukan Julian!" gumam Rayna lirih.

Hujan turun dengan deras membasahi setiap inci yang ada pada kampus ini. Aroma hujan cukup membuat ketenangan di hati Rayna. Namun, tiba-tiba Rayna teringat bahwa ia sudah di jemput oleh Julian dan laki-laki itu sudah menunggu di gerbang utama kampus. Rayna ingin sekali menolak, akan tetapi mengingat tekanan keluarganya, ia jadi menyetujui Julian menjemputnya.

Rayna berlari menerobos curah hujan yang tinggi dengan berusaha menutupi kepalanya dengan tas ranselnya. Saat sampai di tengah pelataran kampus, Rayna tak sengaja menabrak seseorang dan nyaris saja Rayna jatuh. Namun, dengan sigap seseorang yang ditabraknya ini justru menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

Rayna menatap wajah seseorang yang ditabraknya itu, tak di sangka seseorang itu adalah Bryan. Sebuah situasi yang tak pernah Rayna pikirkan terjadi.

"Bryan?!" Rayna terkejut.

"Rayna?!" gumamnya pelan.

Kemudian, mereka berdiri berhadapan di tengah hujan yang mengguyur. Hati Bryan masih berdebar ketika melihat Rayna lagi setelah beberapa hari ia coba hindari. Tatapan Bryan ke Rayna seolah ingin tahu sebuah kejelasan yang selama ini rancu, begitu juga dengan tatapan Rayna ke Bryan yang seolah ada keinginan agar laki-laki di hadapannya ini memberikan klarifikasi.

Bryan menatap Raynda dalam, tampaknya Bryan tak sanggup melepas pandangannya dari perempuan di hadapannya itu.

"Siapa yang sama lo kemarin?" tanya Bryan penuh selidik.

"Terus? Yang sama lo kemarin juga siapa? Udah dua kali gue liat lo sama dia, mantan, ya?" balas Rayna.

"Iya, mantan. Tapi gue sama dia sekarang nggak ada apa-apa, murni cuma temen!" Suara Bryan bergetar, meski begitu ia mencoba menekan kata-katanya agar Rayna mengerti.

"Oh, ya, udah. Nggak usah diperjelas lagi, kan, dasarnya kita juga nggak ada status!" ujar Rayna, suaranya mencuat, mencoba mengalahkan bisingnya hujan.

"Walaupun di antara kita masih belum ada kejelasan, gue nggak suka liat lo sama yang lain," ucap Bryan dengan nada yang mulai meninggi, kecemburuan telah menguasai hatinya.

Rayna tersenyum kecut, menatap Bryan dengan tajam, "Terus? Gue harus gimana, Bryan? Situasi ini nggak mudah buat gue!"

"Oh, ya, asal lo tahu, cowok yang sama gue waktu itu bukan siapa-siapa gue! Dia cowok yang dijodohin sama gue dan gue terpaksa menjalaninya!" sambung Rayna dengan setiap kata yang keluar dari bibirnya penuh dengan emosi yang membara.

Dengan gerakan cepat, Bryan mengusap wajahnya yang basah oleh hujan, seakan mencoba menyapu lebih dari sekedar air. Tanpa berpikir lagi, Bryan berkata, "Okay fine! Lo pacar gue sekarang!"

Can I Be Yours? [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang