#8 : Lebih dari Teman

43 21 0
                                        

"Cinta itu seni terindah dari Tuhan untuk manusia, bagian paling artistik adalah ketika dua insan yang berbeda saling menyempurnakan, memahami, dan melukiskan kisah dalam satu ikatan pasti,"

-Bryan-

Rayna dan Bryan tampak sibuk di sebuah ruangan di dalam basecamp. Rayna tampak serius dengan sebuah sketch book dengan berbagai pensil warna yang berserakan di atas meja. Sedangkan, Bryan seperti sedang memperagakan puisi yang sedang di buatnya.

Hujan deras di luar sana dan hawa dingin malam tidak menyurutkan semangat mereka dalam proyek kolaborasi seni yang sudah lama mereka canangkan.

Teman-teman mereka sedang di ruang lain menonton film horor bersama. Mereka semua tidak bisa pulang karena hujan deras malam ini. Akhirnya, mereka semua menetap di basecamp sampai pagi. Untungnya besok minggu, jadi mereka bisa sepuasnya begadang marathon film bersama-sama.

"Ray, gue bingung, kayaknya ada yang kurang ini," ujar Bryan.

Rayna menoleh, "Bingung kenapa?"

"Ya, kayak kurang dramatis aja gitu diksi-diksi gue, kurang ngena, kurang greget," ungkap Bryan, nadanya terdengar sedikit frustasi.

Rayna menghela napasnya panjang, "Gue mana ngerti apa-apa soal puisi, apa lagi diksi-diksi. Coba sini gue baca, mungkin gue bisa kasih saran, tapi sebisa gue, ya,"

Bryan mengangguk bersemangat, "Nih," ujarnya sembari menyerahkan selembar kertas berisi deretan kata-kata puitis miliknya pada Rayna.

Rayna menyelami setiap kata dari puisi Bryan dengan bahasanya yang lumayan tinggi. Walaupun menggunakan bahasa indonesia, entah mengapa sulit sekali bagi Rayna mencerna setiap baitnya.

"Coba puisi lo buat lebih sederhana lagi bahasanya, tapi tetep ngena di hati," ujar Rayna memberi saran.

"Itu yang susah, tapi gue coba, ya, Ray," jawab Bryan. Ia berusaha untuk lapang dada dan memupuk lagi semangatnya revisi puisi miliknya.

"Kolaborasi kita, kan, tentang cinta. Seperti yang udah pernah gue sampaikan kalo tema ini nggak akan pernah mati buat di eksplorasi," ujar Rayna. "Jadi, gue yakin lo pasti bisa, ini temanya umum banget, kok," sambungnya.

Tak butuh waktu lama, Bryan berhasil merevisi puisinya jadi lebih baik. Rayna yang mengetahui itu turut senang, karena artinya sebentar lagi konsep kolaborasi ini akan selesai.

Bryan pun sama, turut bahagia ketika mengetahui konsep lukisan Rayna yang terlihat abstrak namun tampak begitu nyata. Setiap warna yang di torehkan pada lembar sketch book itu menciptakan sebuah karya yang indah.

"Lukisan lo nggak pernah gagal, Ray," puji Bryan.

"Makasih," jawab Rayna singkat.

"Kita coba praktekkin, ya?"

Rayna mengangguk.

Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh. Bryan membaca puisinya dengan raut wajah emosional dan suaranya yang lantang namun terdengar sangat menyayat hati. Sedang Rayna, mencoba untuk live painting sebagai bentuk mengekspresikan puisi milik Bryan. Tidak lupa, setiap latihan di ruangan itu, Bryan selalu recording agar ketika perform sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

Can I Be Yours? [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang