#18 : Titik Masalah

23 20 1
                                        

"Ternyata, rindu tanpa komunikasi itu menyakitkan, ya?"

-Rayna-

Sejak hari dimana Julian membuat Bryan tak sadarkan diri dan bersikap kasar terhadapnya, Rayna tak sudi untuk bertemu dengan Julian sekalipun dengan keluarga besarnya itu.

Setiap kali orang tuanya bertanya alasan, Rayna masih tutup mulut. Ia tak ingin seluruh keluarganya tau keburukan Julian. Ia masih ingin merahasiakan sikap kasar Julian padanya, ia menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.

Saat ini Rayna sakit, tubuhnya demam sejak beberapa hari yang lalu karena kehujanan. Hari ini pula, keluarga Julian datang menjenguk. Namun, seperti yang kemarin. Rayna enggan bertemu.

"Ray, di luar ada Julian, loh, bawain kamu cheese cake!" panggil Erlina dari balik pintu, mencoba membujuk rayu Rayna.

Rayna bergeming, ia sedang memikirkan balasan apa lagi yang rasional untuknya menolak.

"Ray! Keluar bentar, yuk, kasian Julian udah nunggu, nih!" panggil Erlina sekali lagi. "Ray? Kamu nggak apa-apa, kan, Nak, di dalam sana?" sambungnya, nadanya kini terdengar khawatir.

"Maaf, Ma! Aku lagi pusing, kapan-kapan aja, ya!" sahut Rayna dari dalam kamar.

Julian yang berdiri di balik pintu kamar Rayna bersama Erlina hanya bisa pasrah.

"Ya, udah, Tante. Nggak apa-apa, titip ini aja buat Rayna. Semoga cepet sembuh, ya," ujar Julian sembari menyerahkan satu box berisi cheese cake kesukaan Rayna.

"Maaf, ya, Julian. Kamu yang sabar, ya, ngadepin sikap Rayna ini," balas Erlina sembari menepuk pundak Julian, mencoba menguatkan laki-laki yang tampak tersenyum getir itu.

"Nggak apa-apa Tante, saya ngerti," jawab Julian.

Sedangkan, di dalam kamar Rayna lega karena Mamanya itu tak memaksa dirinya untuk keluar kamar.

Kini pandangannya beralih ke layar ponsel miliknya yang menampilkan foto Bryan. Sudah tiga hari berlalu, tidak ada kabar dari Bryan sama sekali. Rayna merasa khawatir, sebab waktu itu Bryan sempat tak sadarkan diri karena ulah Julian.

Pikiran Rayna melayang ke ingatan ketika Bryan akhirnya menyatakan perasaannya dan mengajaknya ke hubungan yang lebih jelas. Terlebih, saat itu Bryan juga mengatakan akan memperjuangkannya dari Julian. Namun, hingga saat ini Rayna masih tak mendapati semua yang di ucapkan Bryan saat itu terbukti. Tak ada chat, bahkan telepon masuk dari Bryan. Rayna merindukan perhatian Bryan padanya.

"Ternyata, rindu tanpa komunikasi itu menyakitkan, ya?" gumam Rayna pelan.

♡♡♡

Saat ini, Bryan sedang terbaring lemas di ranjang basecamp. Bryan mengalami cedera rahang yang mana terdapat pembengkakan di area wajahnya. Sudah beberapa hari Bryan menginap di basecamp dengan teman-temannya yang kembali utuh.

Alex, orang pertama yang mengetahui Bryan tak sadarkan diri kala itu dan langsung membawa Bryan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut. Kemudian, untuk rawat jalan Alex lebih memilih Bryan agar menginap di basecamp agar semuanya bisa membantunya sembuh.

Baik Alex, Galang, atau Randy sudah mengetahui kejadian di balik itu dan mereka telah memaafkan Bryan atas kesalahannya pada Rayna yang menyebabkan renggangnya hubungan persahabatan ini.

Can I Be Yours? [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang