#28 : Sebuah Harapan

34 19 0
                                        

"Mencari jawaban di sela-sela harapan itu juga termasuk seni paling berani dalam mencintai,"

-Rayna-


Kedekatan Rayna dan Bryan semakin intens, mereka jadi sering bertemu baik karena pekerjaan atau hanya sekedar hang out. Seperti saat ini, Rayna dan Bryan duduk di bangku kayu di pinggir danau, membiarkan sore yang tenang menyapu keheningan di antara mereka. Langit jingga terpantul di permukaan air, dan suara angin yang berhembus lembut menambah kedamaian di hati mereka.

"Rayna!" panggil Bryan.

Rayna menoleh, mendapati Bryan yang sedang siap dengan pesawat kertas yang baru saja dibuatnya. Pesawat kertas itu di lemparkanya menuju ke arah Rayna dan mendarat mulus di pangkuannya.

Rayna memandangi Bryan, "Bryan, gabut banget, sih, lo?"

Bryan tampak tertawa, lalu berjalan ke arah tempat Rayna duduk. "Biar seru aja, biar nggak bosen."

"Apa, sih, selalu aja nggak jelas!" desis Rayna.

"Nggak jelas gini, tapi lo suka, kan?" goda Bryan sembari merangkul bahu Rayna dengan santai.

Rayna mendengus kecil, mencoba menahan senyum yang hampir muncul di bibirnya. "Suka apanya, sih? Lo tuh terlalu percaya diri," balas Rayna, berpura-pura mengabaikan.

Namun, Bryan hanya tertawa, mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. "Jangan bohong, Ray. Gue tahu lo udah terbiasa sama gue yang nggak jelas gini," ucapnya dengan nada menggoda, sambil mengetuk ujung hidung Rayna pelan.

Rayna hanya menggeleng pelan, tapi dalam hatinya, ia tahu ucapan Bryan ada benarnya. Sisi "nggak jelas" Bryan itulah yang selalu membuatnya tertawa dan merasa nyaman, meski ia sendiri enggan mengakuinya.

Rayna mendengus sambil melirik Bryan tajam, meski senyum kecil tetap tersungging di bibirnya. "Percaya diri banget lo. Karena gue enggak punya pilihan lain, selain nemenin manusia nggak jelas ini," jawabnya, mencoba terlihat cuek.

Bryan tertawa semakin keras mendengar jawaban Rayna yang defensif. “Oh gitu, ya?” ujarnya sambil menatap Rayna yang berusaha menyembunyikan senyum.

Tanpa berpikir dua kali, Bryan mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambut Rayna dengan gemas. “Dasar, si paling gengsi!” godanya.

Rayna mendengus kesal tapi tak bisa menahan tawa. “Bryan! Berantakan nih rambut gue!” protesnya sambil berusaha membereskan rambutnya, sementara Bryan hanya tersenyum puas, menikmati momen kecil yang membuatnya merasa semakin dekat dengan Rayna.

Bryan tertawa melihat reaksi kesal Rayna, tapi matanya tetap memancarkan kehangatan. “Santai aja, Ray. Mau berantakan atau enggak, lo tetep kelihatan cantik, kok," katanya dengan nada menggoda, sambil masih tersenyum lebar.

Rayna memutar mata, tapi pipinya sedikit memerah. “Gombal banget lo.”

Dengan gaya santai, Bryan mengangkat bahu. “Bukan gombal. Gue cuma jujur. Lagian, kalau bukan gue yang bilang, siapa lagi yang bikin lo senyum kayak gitu?” ujarnya sambil memandang Rayna penuh arti.

Rayna mendengus pelan, tapi tak bisa menyembunyikan senyum tipis yang muncul.

Rayna tertawa kecil, lalu melipat tangan di depan dada, mencoba terlihat serius meski jelas-jelas tersenyum. "Yakin lo yang bikin gue senyum? Jangan ge-er deh," balasnya, mengerling ke arah Bryan dengan nada menggoda.

Bryan mengangkat alis, seolah menantang. "Oh, jadi bukan gue? Mau bilang ada yang lain, nih?"

Rayna berpura-pura memutar pandangannya ke arah danau, menahan senyum yang makin sulit disembunyikan. "Hmm… mungkin aja ada," jawabnya menggoda, lalu menoleh ke arah Bryan, "Tapi kalau lo tetep mau ngotot jadi yang pertama, mungkin bisa gue pertimbangkan."

Can I Be Yours? [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang