"Seokjin..."
Suara bariton yang membisikkan namanya dengan lembut masih terdengar jelas di telinganya meskipun berbulan-bulan telah berlalu.
Tapi sampai sekarang Seokjin tidak tahu siapa pemilik suara tersebut. Karena ketika dia menoleh untuk mencari asal sumber suara, dia tidak menjumpai seorang pun yang dia kenal.
Seokjin ingin meragukan pendengarannya, tapi rasa merinding yang dia rasakan di tengkuknya setiap kali dia mengingatnya, seakan menangguhkan keraguannya bahwa suara itu terlalu nyata untuk dianggap sekedar halusinasi.
"Seokjin. Apa orang yang kamu cari belum ketemu?"
Yeonso yang melihat Seokjin melamun sampai tidak menyadari kedatangannya, sudah menduga kalau Seokjin pasti sedang memikirkan tentang sebuah suara yang pernah dia dengar di pulau seberang.
Dia bisa tahu karena Seokjin pernah menceritakan keanehan itu padanya, dan bahkan meminta saran dari Yeonso yang sudah sering menjadi GT (Guide Tour) di pulau itu, bagaimana agar dirinya bisa menemukan pemilik suara tersebut.
Yeonso tentu saja tidak bisa membantunya. Karena dia juga tidak yakin, apakah Seokjin benar-benar mendengarnya atau hanya berhayal. Tapi dia tidak mungkin mengatakan keraguannya pada Seokjin. Bukan karena Yeonso takut di pecat dari pekerjaannya. Dia cuma tidak ingin menyakiti hatinya saja.
"O-oh Yeonso? Apakah data yang aku minta sudah selesai?" Seokjin langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi memutar-mutar pulpen begitu mendengar suara Yeonso. Lalu dia menarik maju kursinya ke arah meja sebelum mengisyaratkan pada Yeonso agar duduk di seberangnya.
"Sudah." Dia pun menyerahkan dokumen di tangannya kepada Seokjin dan menjelaskan semua hasil rapatnya dengan GT serta TL yang lain setelah menduduki kursi yang di tunjuk oleh atasannya itu.
Lalu mereka berdua terus mendiskusikan tentang program-program liburan apa saja yang akan mereka tawarkan kepada para wisatawan, sampai tiba saatnya istirahat makan siang.
Setelah merapikan dokumen-dokumen yang sempat berserakan di meja Seokjin, Yeonso memperhatikan Seokjin yang sedang mengemasi barang-barangnya. Dia pun bertanya padanya. "Seokjin, apakah sebelum pulang kamu mau makan siang bareng kami?"
"Tidak Yeonso. Aku sudah janji akan makan siang dengan ayah dan ibu." Seokjin berbalik dan tersenyum tipis pada Yeonso sebagai permintaan maaf.
"Ya, tidak masalah. Tapi,,, sepertinya sekarang hari yang spesial ya buat kalian. Jarang-jarang kan kalian makan siang bersama seperti ini?"
"Ya. Hari ini kami mau makan bareng Jaehwan dan keluarganya."
"Oh."
Lalu Seokjin pun berpamitan kepada para bawahannya sebelum pergi meninggalkan kantornya untuk menuju ke restoran keluarga yang alamatnya sudah di sebutkan oleh kedua orang tuanya lewat pesan chat.
Begitu tiba di restoran tersebut, Seokjin langsung diantar oleh seorang pegawai ke sebuah ruangan yang sudah di reservasi oleh kedua orang tuanya. Dan disana dia langsung di sambut dengan gembira oleh sahabatnya.
"Seokjin, akhirnya kamu datang."
Seokjin dan Jaehwan berpelukan cukup lama seperti dua orang sahabat yang baru bertemu lagi setelah berpisah cukup lama. Karena mereka memang begitu (meskipun bukan secara harfiah).
"Sejak kapan kamu bertambah semakin tinggi?" Jaehwan menatap ujung kepala Seokjin saat menyadari kalau sahabatnya itu lebih tinggi sedikit daripada dirinya.
Seokjin reflek memutar mata saat mendengarnya. "Cerita kapan itu Jaehwan? Bukankah sudah lewat masanya bagi kita untuk semakin bertumbuh. Kamu nya saja yang terlalu sibuk bersenang-senang sampai tidak memperhatikannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Twister
FanfictionOK READERS, TINGGALKAN VOTING YA 😎 Berisi sekumpulan ide cerita yang mungkin terbesit TaeJin BxB Tae Top! Jin Bot! Hanya akan update disaat ada ide yang muncul tentunya
