Sampai keesokan harinya Alora masih sendiri, ia menolak bertemu dengan semua orang. Untuk berjaga jaga Jerry tetap duduk didepan ruangan Alora bersama Albern agar tidak terjadi hal yang tak di inginkan. Tadinya Jack juga ingin menemani, namun Jerry melarang untuk tidak terlalu memaksakan diri dan memutuskan untuk bergantian menjaga Alora.
Sampai siang harinya, Alora tetap diam tiduran menyembuhkan hatinya. Seketika ia mengingat bahwa ia sama sekali belum bertemu dengan jenazah anaknya. Ia pun turun dan memutuskan untuk keluar.
Ceklek
Albern pun langsung berdiri begitu saja, ia menatap sekilas Jerry yang sedang tertidur itu lalu berjalan mendekati Alora.
"Ada apa sayang? Butuh sesuatu?" Tanya Albern dengan lembut. Alora menunduk dan menggeleng pelan.
"Alora pengen ketemu Alzena" ucap Alora dengan pelan, ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap Jerry yang tertidur itu.
"Kenapa kakak berdua malah disini? Kan Alora udah bilang Al pengen sendiri.. kalau kaya gini kan cape" Alora pun duduk di samping Jerry dan membangungkannya.
"Kak.." ucap Alora pelan menggoyangkan tangan Jerry, seketika Jerry langsung terbangun begitu saja dan terkejut. Ia pun menatap intens Alora dengan khawatir.
"Ada apa sayang hm?? Kamu pengen sesuatu? Butuh sesuatu??" Tanya Jerry khawatir.
"Al pengen ketemu Alzena.. kakak lelah, masuklah kedalam dan tiduran.. maafkan Alora harusnya Alora ga ngusir kalian" ucap Alora menunduk.
"Hey heyy, dengar.. aku sama sekali ga pernah merasa keberatan jagain kamu.. ga usah minta maaf okey.." ucap Jerry menangkup wajah Alora menatap dirinya.
"Mau ketemu Alzena? Janji jangan pengen sendiri lagi nanti.. okey" ucap Jerry mewanti wanti. Alora pun berfikir sebentar dan mengangguk paham, namun tidak dengan hatinya.
Kini mereka ber3 pun berjalan menuju ruang mayat. Pelan pelan Alora membuka kain yang menutupi badan mungil Alzena dengan perasaan takut. Terlihatlah wajah Alzena yang sangattt pucat dan cantik, dengan badannya yang sangat mungil dari badan bayi normal pada umumnya. Alora tak kuasa menahan air mata, ia pun menangis. Albern dan Jerry yang berada di kanan dan kiri Alora pun merangkulnya dengan erat memberi semangat kepada Alora.
"Maafin mama nak.. mama gagal jagain kamu, mama gagal jadi ibu yang baik buat kamu.. hikss.. maafin mama"
"Ssstt jangan salahin diri kamu sendiri sayang.. ini semua takdir, aku yakin Alzena sudah bahagia di atas sana.." ucap Albern langsung membawa Alora kepelukannya.
"Aku salah kak.. harusnya aku ga bawa Alzena jalan jalan keluar saat itu.. hiks, Alora udh bunuh anak Alora sendiri kak.." tangis Alora yang menggema diruangan itu.
"Sstt udahh kita kembali ke kamar yaa.. istirahat okey.." ucap Albern masih setia memeluk Alora dengan erat. Alora pun mengangguk dan mereka keluar dari sana, sesekali Alora melihat ke arah belakang menatap anaknya itu.
Saat keluar tiba tiba ia berhenti begitu saja membuat Jerry dan Albern bingung.
"Pergi" ucap Alora dengan pelan. Jerry dan Albern saling bertatapan, ia tau bahwa hal ini akan terjadi lagi.
"Tinggalkan aku sendiri" pinta Alora perlahan mundur melepaskan rangkulan Albern dari pundaknya.
"Alora.."
"Aku bilang pergi..!!" Sentak Alora yang menggema di penjuru rumah sakit membuat semua orang langsung menatap aneh ke arah Alora.
"Al, gak gini Al.."
"Kamu budeg? Gak denger? Tinggalin aku sendiri kak.. please.." ucap Alora berusaha menahan tangisnya, ia pun menatap Jerry dan Albern bergantian.
"Jangan ikutin aku atau aku akan membunuh diriku sendiri" ancam Alora lalu langsung pergi berlari begitu saja keluar dari rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALORA [END] ✔
Storie d'Amore"Kita ga seharusnya mempunyai hubungan ini kak.. ini salah.." "Aku tau Alora.. aku tau ini salah.. tapi aku ga akan lepasin kamu gitu aja.. rasa cinta aku melebihi semuanya Alora.. hargai aku.." "Kak hubungan ini akan menjadi racun buat masa depan k...
![ALORA [END] ✔](https://img.wattpad.com/cover/374331966-64-k120906.jpg)