Bab 3 ~> Mainan

672 49 4
                                        

{Di kamar Winan}

Suasana kamar itu sunyi. Cahaya remang dari lampu tidur menyinari siluet dua sosok di atas ranjang. Winan terbangun lebih dulu, matanya terbuka perlahan.

"Gue gak bisa tidur." gumamnya, duduk dengan tangan menyisir rambut acaknya.

Savan yang masih terbaring dibawah Winan, dengan satu tangan terborgol ke sisi tempat tidur, melirik malas ke arahnya.

"Ya salah sendiri ngiket gue kayak tahanan. Bisa gak sih lo lepasin tangan gue?" ucapnya kesal.

Winan menoleh, alis terangkat sedikit. "Gue punya mainan."

Savan mengerutkan dahi, lalu tertawa sinis. "Seorang Winan punya mainan? Kocak banget... anj—" ucap Savan terhenti seketika. Matanya membelalak. Napasnya tercekat.

Winan baru saja membuka laci samping tempat tidur dan mengeluarkan... sebuah benda misterius.

"Itu... apaan?" suara Savan gemetar, perlahan duduk tegak sambil berusaha menjauh meskipun tangannya masih terikat.

Winan tersenyum kecil, ekspresinya sulit ditebak.
"Mainan... khusus buat tamu spesial."

"Gue gak pernah nyoba benda ini ke orang lain

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gue gak pernah nyoba benda ini ke orang lain." ucap Winan, matanya menyipit, memandangi benda itu.

Savan menelan ludah kasar, merasa tidak nyaman dengan nada suara Winan.

"Maksud lo?" tanyanya

Winan melirik Savan, senyum miringnya tak menghilang dari wajahnya. Sorot matanya tajam, nyaris tak berkedip.

"Winan lo?! Ini gimana lepasnya!" seru Savan, panik saat menyadari kedua pergelangan tangannya sudah terborgol ke kasur besi. Ia menggeliat, mencoba mencari celah tapi sia-sia.

Langkah kaki Winan mendekat, pelan namun mantap. Wajahnya tenang, terlalu tenang.

Winan mendekati Savan membuat Savan gemeter ketakutan. Lalu, Winan membuka borgol yang masih melingkar di pergelangan tangan Savan....
"Gue cuma mau coba benda ini, boleh ya?" tanya Winan lalu mengelus paha mulus Savan.

Savan sudah berkeringat, ia tidak tau apa yang akan dilakukan Winan nantinya....
"Gue gamau, Win..." ujar Savan memohon.

"Kenapa sayang?" ucap Winan lalu melepaskan celana Savan dan memasukan benda itu ke dalam holenya, Savan mencoba memberontak tapi tangannya ditahan oleh tangannya Winan.

"Eunghhh..."
Benda itu masuk dengan sempurna didalam hole Savan.

Winan menekan dan menahan tombol itu, melihat tubuh Savan yang sudah bergetar dengan mulut yang sudah terbuka mengeluarkan desahan.

Forbidden CastleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang