Bab 31 ~> Kehilangan kamu sepenuhnya

274 24 0
                                        

‎"Winan, aku kangen kam-" ucapan Savan terhenti saat Naravan melangkah maju.

‎"Jangan sentuh Winan dengan tangan kotor lo itu." ucap Naravan dingin.

‎"Naravan! Kok lo ngomong gitu sih!" balas Phuwiniy kesal.

‎"Kalian ngapain kesini?!" suara Forlec terdengar keras ketika melihat mereka semua berdiri di kamar Winan.

‎"Kalian gak pantes di Castle ini lagi! Pergi!!" bentak Patwan yang baru datang.

‎"Patwan..." ucap Nayfan pelan, kaget dan gak nyangka Patwan bisa sekeras itu.

‎"Gue udah larang mereka masuk, tapi malah nerobos masuk!" ujar Raychen, napasnya masih berat karena mengejar.

‎"Biarin Savan ngomong dulu sama Winan." ucap Gama tiba-tiba. Semua langsung menatapnya kaget.

‎"Gama! Mereka udah mengkhianati kita!" ucap Patwan dengan nada tinggi.

‎"Kita udah bahas ini tadi malam, kan? Dalangnya belum tentu Savan." kata Gama tenang.

‎"Kalau lo tau sesuatu, sebaiknya ngomong, Gama! Gua tau lo bisa lihat kejadian yang udah berlalu." ucap Naravan tajam.

‎"Kalau gua kasih tau... mereka belum tentu jujur. Jadi sekarang, lo kesini buat jujur atau cari masalah?" balas Gama, menatap mereka satu per satu.

Suasana jadi tegang.

‎Savan mulai melangkah mendekati Winan. Naravan ingin menghentikannya, tapi ditahan oleh Gama.

‎"Winan... aku-"

‎"PERGI!!!" teriak Winan tiba-tiba melempar vas kaca ke lantai. Pecahan kaca berhamburan.

Semua terdiam, kaget.

‎"Winan...?" ucap Savan shock.

‎"Pergi!! Kamu siapa?!" suara Winan bergetar, tapi tatapannya tajam.

‎"Winan... aku Savan, pacar kamu." kata Savan pelan, tetap berusaha mendekat meski kakinya terluka kena pecahan kaca. Tapi rasa sakit dikakinya gak sebanding dengan perih dihatinya.

‎"Abang Naravan!"
"Abang Forlec!"
"Abang Patwan!"
"Abang Raychen!"
"Adek Gama!"
"Usir dia dari sini!!" teriak Winan.

Yang lain cuma terdiam, terkejut karena untuk pertama kalinya Winan memanggil mereka 'Abang' dan memanggil Gama dengan sebutan 'Adek'.

‎"Winan... kamu kenapa?" Savan mendekati Winan, darah menetes dari kakinya.

‎"Savan, kaki lo berdarah!" ucap Nayfan khawatir.

‎"Gapapa, Kak... kalau buat nyamperin Winan harus berdarah kayak gini, aku rela." jawab Savan pelan, terus berjalan ke depan.

‎"Kak Savan..." ucap Forlan ngeri melihat lantai udah penuh darah.

‎"Winan...?" panggil Savan sekali lagi, suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat dan dengan ragu memegang tangan Winan.

Namun belum sempat ia berkata apa-apa, Winan langsung menepis tangannya dengan keras.
"Pergi!!" bentak Winan tajam.
"Kamu orang asing!"

Savan terdiam, matanya membesar.
"Winan..." suaranya pecah.
"Aku pacar kamu... kamu nggak inget aku?"

Air mata Savan terus mengalir diwajahnya. Lututnya melemah dan ia jatuh berlutut di depan Winan, lalu memeluknya erat, seolah itu satu-satunya cara agar Winan tidak pergi. Namun pelukan itu tidak ada balasan, tidak ada kehangatan.

"Lepasin!!" Winan mendorongnya dengan kasar hingga Savan terjatuh ke lantai. Tubuhnya menghantam lantai, napasnya tercekat.

"Aku nggak kenal kamu!" teriak Winan.
"Aku nggak punya pacar, karena aku Vampir!"

Kata itu menusuk lebih dalam dari luka mana pun.

‎"Kamu manusia." lanjut Winan, matanya tajam tanpa sisa emosi.
"Kamu nggak pantes sama aku. Dunia kita berbeda."

Winan melangkah mundur, lalu menatap Savan dengan sorot mengancam.
"Urus darah kamu itu." ucapnya datar.
"Sebelum aku yang gigit kamu."
Winan berbalik hendak pergi.

"Winan-!"
Dengan sisa tenaga, Savan meraih kaki Winan dan memeluknya erat. Tangannya gemetar, darah mengalir dari luka di kakinya, membasahi lantai.

"Winan... aku minta maaf..." tangisnya pecah, suaranya habis.
"Aku disuruh ambil kalung kamu... aku nggak tahu itu bakal nyakitin kamu..."
"Aku bener-bener nggak tahu..."
"Aku minta maaf..."

Forbidden CastleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang