Bab 1 ~> Buku Misterius

1.3K 74 3
                                        

Di sebuah castle tersembunyi, tinggal enam bersaudara yang hidup bersama. Mereka sangat terkenal dikalangan masyarakat, bukan karena keramahan, tapi karena keanehan mereka. Mereka ini antisosial menyembunyikan kehidupan mereka dari dunia luar, tidak ada yang tahu seperti apa keseharian mereka, bahkan dimana mereka tinggal.

Meski hidup dibawah atap yang sama, keenam bersaudara itu tak pernah akur. Mereka bukan saudara kandung, dan kedekatan itu terasa mustahil. Berbeda dengan Nayfan dan saudaranya, meski tak memiliki hubungan darah, mereka tetap akur, saling peduli, dan menghargai satu sama lain.

Pagi itu, diruang makan castle yang megah namun sunyi, mereka semua duduk mengelilingi meja panjang. Tak ada percakapan, hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu diatas piring menjadi latar dari keheningan yang mencengkam.

Tak tahan dengan suasana itu, Gama akhirnya bersuara....
"Gue udah selesai makan." ucapnya datar, lalu bangkit dan berjalan keluar, meninggalkan castle.

"Gue juga." sahut Raychen singkat sebelum pergi menuju kamarnya.

Selesai makan, Winan mengelap mulutnya dengan tisu, berdiri, lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Begitu juga yang lain, tak ada sapaan, tak ada tatapan. Satu per satu mereka menghilang dari meja makan, kembali pada kesendirian masing-masing.

{Di Studio Photo Shoot}

Forlan duduk di kursi ruang tunggu, matanya sesekali melirik ke arah pintu. Hampir satu jam ia menunggu seorang lelaki yang katanya akan menjadi couple fotonya hari ini.

"Tunggu sebentar ya, Forlan. Couple model kamu masih dalam perjalanan." ujar Jung, sang koordinator sesi.

"Iya, Kak Jung... tenang aja, aku nggak ada jadwal lain kok hari ini." balas Forlan dengan senyum tipis.

Beberapa saat kemudian, seorang pemuda muncul tergesa-gesa diambang pintu. Nafasnya masih tersengal.

"Maaf, Pak. Saya telat." ucapnya singkat, lalu segera masuk ke ruang ganti tanpa menunggu balasan.

Forlan hanya meliriknya sekilas, tak menunjukkan minat lebih. Ia tetap diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.

[Waktu sesi foto berlangsung]

"Maaf, Tuan Gama." kata fotografer "Tolong agak dekat dengan Forlan, jangan terlalu jauh jaraknya."

Gama menurut tanpa banyak bicara. Posisi mereka disesuaikan, ekspresi dibuat serasi, dan lampu kilat menyala berkali-kali.

Setelah sesi selesai, Forlan duduk sambil melihat hasil fotonya lewat layar kamera. Beberapa diantaranya cukup bagus, ekspresi dan pencahayaannya pas. Namun, ada satu foto yang membuatnya terdiam sejenak.

Bukan karena kesalahan teknis. Bukan pula karena Gama terlihat aneh.

Tapi... ada sesuatu di sana. Sesuatu dalam foto yang bajunya sangat tidak pantas untuk dilihat.

 Sesuatu dalam foto yang bajunya sangat tidak pantas untuk dilihat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Forbidden CastleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang