{Di ruang tengah Castle}
Keesokan harinya....
Semua berkumpul di ruang tengah castle. Namun, tak ada yang bicara masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Suasana terasa datar... sampai Dunfiw berjalan pelan ke arah Forlec, yang sedang melihat Brayden membaca buku di sofa besar.
"Forlec..." ucap Dunfiw pelan.
"Nanti malam... gue boleh tidur sama lo dan kak Brayden gak?"
Pertanyaan itu terdengar canggung, dan seketika seluruh ruangan menoleh. Sorot mata Brayden langsung tertuju pada mereka.
"Emang kenapa?" tanya Brayden dengan alis terangkat.
"Boleh banget, Dunfiw~" jawab Forlec cepat, tersenyum bangga. "Kasur gue selalu tersedia buat lo."
Brayden langsung menyipitkan mata. "Loh... terus gue tidur di mana, Forlec? Kalau Dunfiw tidur bareng kita?"
Forlec mengangkat bahu. "Lo bisa tidur bareng Raychen, santai aja."
Brayden berdiri. "Gampang banget lo nyingkirin gue, kayak sampah."
Dia langsung melangkah pergi, tapi sebelum masuk ke kamarnya, dia menoleh dan berkata dengan nada getir, "Gue benci sama lo, Forlec!"
Dunfiw menunduk, wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
"Kak... kak Brayden..."
Forlec menatap Brayden yang sudah pergi lalu menatap ke arah Dunfiw.
"Udah, tenang. Si bookie itu gak akan ngamuk beneran."
Tiba-tiba, suara lain memotong.
"Kalau Dunfiw boleh tidur gak bareng pasangan, berarti gue juga boleh dong... tidur bareng Phuwiniy~" celetuk Gama santai.
Mata semua orang langsung melotot ke arahnya.
Phuwiniy menoleh, bingung. "Lo mau tidur bareng gue? Tapi gue tidurnya di perpustakaan... sama Naravan."
Belum sempat ada yang menanggapi, Gama menyelutuk sambil nyengir,
"Yaudah, kita bertiga aja tidur bareng."
Naravan langsung berdiri, wajahnya gelap. "Gak. Gue gak ngizinin."
Gama mendekat. "Gue gak minta izin dari lo. Gue nanyanya ke Phuwiniy. Boleh kan?"
"Bol-"
"GAK! Itu perpustakaan punya GUE!" teriak Naravan memotong, membuat suasana menegang.
Gama tertawa pendek.
"Lo kenapa sih, Naravan?"
Naravan maju, berdiri tepat dihadapan Gama. Tatapannya tajam. "Lo nanya kenapa?!"
Gama mencibir. "Mau ribut lo?"
Naravan mendekat lebih dekat lagi. "Gue gak takut sama lo."
"Gue juga gak takut sama lo."
Gama sudah siap maju, tapi Winan buru-buru menahannya.
"UDAH! Kalian ini kenapa sih?!" bentak Winan.
Tiba-tiba, Gama menoleh ke Winan dan berkata dengan tajam,
"Winan... lo jangan ikut campur, anjing. Mau Savan lo gue ambil juga, hah?!"
Mata Winan langsung memerah.
"APA MAKSUD LO, ANJING?!"
Dia menghampiri Gama dengan marah dan langsung menarik kerah bajunya.
"Ulangi itu. Ulangi kalo berani!"
Gama menatapnya dengan dingin.
"Gue gak takut sama lo. Karena lo bukan abang gue."
Seketika Winan siap menonjok, tapi...
BUGH!
Tinju mendarat duluan.
Bukan dari Winan.
Dari Naravan.
Tepat di wajah Gama.
"Akh..." desisnya pelan, masih diliputi keterkejutan. Gama terhuyung ke belakang, matanya membelalak. Anehnya, tak ada darah di bibirnya hanya luka kecil yang mungkin baru akan terlihat jelas besok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle
VampireMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
