{Di Rumah}
Mereka tiba perlahan di depan rumah. Tubuh mereka terpental kesana oleh kekuatan Madam, terlempar kembali ke dunia mereka tanpa peringatan. Begitu menjejak tanah depan rumah, lutut mereka lemas.
Satu per satu ambruk di teras, seperti kehilangan tenaga… atau kehilangan arah.
Air mata jatuh tanpa suara, mengalir deras membasahi wajah yang masih menyimpan jejak kehangatan yang kini berubah jadi luka.
"Ayo… masuk dulu." ucap Brayden pelan, mencoba menyadarkan mereka dari keterpurukan yang mencekik.
Tanpa kata, mereka bangkit perlahan dan melangkah masuk.
Rumah itu...
Dulu penuh tawa.
Dulu jadi tempat berlindung.
Tapi kini, semuanya berubah.
Seolah waktu berhenti selama mereka pergi. Debu menumpuk dimana-mana, tirai tertutup rapat, dan udara terasa dingin dan sunyi seperti rumah kosong yang ditinggalkan terlalu lama.
Tapi bukan itu yang paling menyakitkan. Yang paling menghancurkan adalah kenyataan bahwa mereka kembali tanpa orang yang mereka cintai.
Di luar, mobil mereka yang dulu mereka tinggalkan di hutan karena bannya meledak... entah bagaimana, kini telah terparkir rapi di depan rumah. Mereka tahu… pasti Madam juga yang mengembalikannya.
Seolah menyelesaikan urusan terakhir sebelum membiarkan mereka kembali ke kenyataan yang pahit.
"Aku mau ke kamar…" ucap Forlan lirih, nyaris tak terdengar, lalu berjalan gontai menaiki tangga tanpa menoleh.
Keheningan menyelimuti rumah itu.
Sampai akhirnya Dunfiw bersuara, suaranya gemetar menahan tangis.
"Bisakah kalian bantuin aku… bersihin rumah ini?"
Dia melirik satu per satu: Brayden, Nayfan, Savan, Phuwiniy.
Tatapan mereka kosong, tapi begitu Dunfiw bicara, mereka saling menatap sejenak… dan perlahan mengangguk.
Tanpa sepatah kata, mereka mulai bergerak. Mengangkat sapu. Mengelap debu. Menyingkirkan tirai.
Tubuh mereka bekerja. Tapi hati mereka tetap tertinggal di dalam castle megah itu, bersama vampir yang tak bisa mereka peluk lagi.
Mereka membersihkan rumah…
sambil membersihkan sisa-sisa harapan yang Madam hancurkan.
Setelah rumah selesai dibersihkan, tubuh Savan, Brayden, Nayfan, Dunfiw, dan Phuwiniy tumbang ke sofa. Bukan hanya karena lelah membersihkan debu yang menumpuk, tapi juga karena upaya mereka menyingkirkan rasa hancur di dalam hati.
Mereka terbaring diam…
Dalam keheningan, saling menyandarkan tubuh satu sama lain.
Saling berbagi sisa hangat dunia yang kini terasa terlalu sepi.
Pada akhirnya… mereka tertidur.
Terlelap dalam kelelahan dan kehilangan. Dalam dunia yang tidak lagi utuh.
{Di Castle}
Malam harinya....
Madam berdiri di depan tangga panjang, menatap deretan kamar anak-anaknya yang tertutup rapat.
Tak satu pun dari mereka keluar, seolah benar-benar memutuskan hubungan dengannya.
Wajah Madam mengeras, tapi matanya menyimpan luka. Lalu, dengan satu gerakan tangan, ia menyatukan kekuatannya…
Dan menciptakan ilusi masa lalu.
Di depan Patwan, Naravan, Forlec, Gama, Raychen, dan Winan… muncul gambaran samar tapi begitu nyata. Mereka tak bisa memalingkan wajah. Ilusi itu bukan sekadar bayangan, tapi… kenyataan.
Kenyataan pahit yang selama ini Madam simpan sendiri.
Mereka melihat seorang wanita muda, anggun, duduk di sofa dengan tangan memegang perutnya yang membesar. Wajahnya bersinar. Matanya berbinar bahagia.
Itulah Madam…
Dulu.
Namanya… Fenaly Finwasgitine.
Seorang manusia biasa.
Bukan vampir.
Bukan ratu dingin seperti sekarang.
Ia sedang menunggu seseorang.
Dan tak lama kemudian, datanglah Veno Grafony—suaminya yaitu Vampir. Raja dari segala kegelapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle
VampirMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
