Sebelum Patwan dan Nayfan ke kolam renang....
{Dikamar Patwan dan Nayfan}
Nayfan melangkah masuk ke kamar yang kini akan jadi tempat tidurnya. Tapi begitu masuk, alisnya langsung berkerut. Bau apek menyengat, dan pandangannya disambut tumpukan baju termasuk daleman yang berserakan sembarangan.
"Ini kamar atau kandang?" celetuk Nayfan sambil mengibaskan tangan ke depan hidung.
Patwan yang sedang duduk di ujung kasur langsung menoleh tajam.
"Maksud lo?" tanyanya dengan nada mengancam.
"Haruskah gue ulang? Ini kamar atau kandang? Kotor banget, baju lo dimana-mana. Lo nggak pernah bersih-bersih ya?" Nayfan menjawab dengan nada ketus, nggak takut sedikit pun.
"Ini kamar gue. Lo cuma pendatang, gak usah sok-sok an ngatur." Patwan menjawab sambil merebahkan dirinya di kasur.
"Ck. Gue cuma ngasih tau. Sekarang gue tidur disini, dan gue gak nyaman kalau kamarnya kayak kapal pecah." ucap Nayfan, tangannya melipat dada.
Patwan menyeringai sinis.
"Kata siapa lo tidur disini?"
Nayfan mendelik.
"Terus gue tidur dimana? Di balkon?"
"Di lantai. Kasur ini punya gue." jawab Patwan santai, lalu menarik selimut dan memejamkan mata.
Nayfan memutar bola matanya malas. Pandangannya turun ke lantai yang masih berantakan, dan...
"GUE TIDUR BARENG SEMPAK LO YANG BAUNYA KAYAK BANGKE?!" teriak Nayfan penuh amarah sambil menunjuk benda terkutuk itu.
Patwan hanya terkekeh santai dari atas kasur. "Lumayan buat nguji ketahanan hidung lo."
Nayfan langsung berdiri sambil memungut sempak itu dengan dua jari, ekspresinya jijik setengah mati.
"Ini sih bukan sempak, ini senjata biologis!" ucapnya kesal.
Tanpa pikir panjang, "Nih, RASAIN SENDIRI BAUNYA!!" Nayfan langsung lempar sempak itu ke muka Patwan.
"WOI BANGSAT!!!" teriak Patwan begitu sempak itu mendarat mulus diwajahnya.
"Goblok! Kena muka gue!"
Patwan memaki, duduk tiba-tiba.
"Mampus lo!" Nayfan tertawa puas lalu menjatuhkan diri ke lantai dengan gaya drama, membawa satu bantal kecil yang tadi tergeletak dipinggir kasur.
"Hey, itu bantal gue!" teriak Patwan.
"Lo udah pelit sama kasur, masa bantal juga?" Nayfan menjawab malas, lalu membungkus dirinya dengan jaket sendiri.
Patwan menghela napas, lalu diam-diam melempar satu bantal lagi ke arah Nayfan.
"Tuh. Tapi jangan dikentutin."
Nayfan sempat kaget, lalu tersenyum kecil. "...Thanks." gumamnya lirih.
"Apa? Gak denger." sahut Patwan ketus.
"Yaudah, tidur sana. Pagi-pagi lo gue paksa nyapu nih kamar." ucap Nayfan sambil menarik jaketnya sebagai selimut.
Patwan mendengus.
"Lebih tepatnya, lo yang gue suruh bikin sarapan buat gue besok."
Nayfan melirik sinis. Tapi dia udah terlalu capek buat debat.
"Bajingan."
Dalam hati Nayfan mengeluh.
Awalnya gue kira Patwan ini orangnya bersih, bajunya tuh rapi banget, wanginya juga kayak cowok iklan parfum. Tapi begitu liat kamarnya... njir, ekspektasi gue hancur lebur. Kotor banget anjerrr. Baju dalam aja berceceran kayak lagi unjuk rasa.
Di antara keheningan yang aneh dan sedikit canggung, Nayfan cuma bisa menghela nafas. Matanya kosong menatap langit-langit.
Lalu suara Patwan memecah suasana:
"Btw, nama lo siapa sih?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle
VampireMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
