Bab 14 ~> Siapa Madam?!

464 45 5
                                        

{Di Castle}

Malam telah larut. Angin menerpa jendela castle yang besar itu, menciptakan dentingan samar diantara suasana mencekam namun penuh rasa lega.

Pintu utama terbuka.

Winan, Savan, Forlec, dan Brayden masuk dengan langkah gontai. Tatapan lelah menghiasi wajah mereka.

Di ruang tengah sudah menunggu Gama, Forlan, Raychen, Dunfiw, Naravan, Phuwiniy, Patwan, dan Nayfan. Begitu melihat mereka...
"KALIAN GAPAPA?!" seru Nayfan sambil berdiri reflek.

"Aku... gapapa." ujar Savan pelan, memaksakan senyum.

"Baguslah kalian selamat." ucap Raychen lega.

Tanpa aba-aba, Phuwiniy langsung memeluk Brayden erat.
"Kak... padahal gue udah siapin pidato buat pemakaman lo." celetuknya sambil pura-pura nangis.

"SIALAN LO ANJING!" sahut Brayden, mencubit tangan adiknya dengan gemas.

"Winan, Forlec, barangnya aman?" tanya Naravan kemudian, serius.

"Aman kok." jawab keduanya kompak.

"Bagus, sekarang ikut kita." ujar Patwan, memberi isyarat ke arah lorong menuju ruang rahasia.

"Kalian diem di sini dulu ya." ujar Gama ke yang lain. "Ngobrol penting sebelum... kalian kita pisahin lagi."

Mereka pun pergi meninggalkan ruang tengah.

Beberapa menit kemudian...

Sambil minum teh dan duduk setengah rebahan di sofa besar, Brayden dan Savan mulai cerita semua kejadian tadi. Detail pertempuran, pengejaran, dan keanehan para penawar lelang.

Wajah-wajah di hadapan mereka langsung berubah campur kaget, ngeri, dan bingung.

"Gila sih... ini kayak... mafia gitu ya." celetuk Forlan dengan alis naik.

"Takut banget gue, jangan-jangan mereka ngikutin kita sampe sini." celetuk Phuwiniy sambil merapat ke Brayden.

"Mereka ngapain sih beli barang mahal gitu... padahal nggak bagus-bagus amat." celetuk Nayfan, sinis.

"Orang kaya kebanyakan duit." celetuk Dunfiw sambil ngunyah biskuit.

"Tapi aneh... mereka kok akur ya?" tanya Brayden sambil nyender ke sofa.

"Iya anjir. Padahal selama ini kayak gak kenal. Sekarang bisa satu tim." ucap Savan mengangguk.

"Lebih aneh lagi, sekarang kita bisa duduk santai bareng kayak teman reunian." celetuk Phuwiniy.

"Kita ngintip yuk." bisik Dunfiw pelan.

"Ngapain anjir?! Takut dimakan gue." celetuk Forlan, setengah serius.

"Makanya jangan sampe ketahuan. Ayok!" ajak Dunfiw bersemangat.

Mereka semua pun jalan jinjit pelan-pelan ke arah ruang rahasia...

[Di dalam Ruang Rahasia]

Gama berdiri di depan tanggal merah yang tergantung di dinding. Wajah semua orang terlihat tegang.

"Kita harus gimana?" tanya Gama.

"Gue juga bingung... gue takut mereka ketahuan." ujar Raychen sambil mengusap rambutnya yang rapi.

"Tenang, Madam gak akan tahu... mereka kan pake kalung itu." kata Winan, suara pelan tapi yakin.

"Tetep aja gaksih?! Masa Madam gak bisa bedain mana manusia, mana bukan?" celetuk Patwan panik.

Forbidden CastleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang