Madam Berdiri, lalu berjalan mendekati mereka. Ia menepuk pelan pundak Savan dan tersenyum lembut.
"Tenang saja, ya... Madam tidak marah sama kalian." ucapnya pelan.
"Kalian nggak perlu khawatir. Anak-anak saya tidak akan marah lama kok." lanjut Madam sambil tersenyum hangat.
"Madam, minimal lepasin dulu iketan kita." celetuk Forlec.
Madam menjentikkan jarinya sekali, dan seketika semua ikatan itu terlepas.
"Madam, kenapa nggak nemuin kami di Castle? Kenapa malah ngajak kami kesini?" tanya Raychen heran.
"Dan, kenapa cuma ngajak kami bertiga? Kenapa nggak sekalian Winan, Naravan, sama Patwan?" tanya Gama bingung.
Madam menatap mereka satu-persatu. Tatapannya tenang, tapi menyimpan kelelahan yang dalam.
"Kalau saya bawa Winan ke sini..." Madam berhenti sejenak.
"Dia tidak akan mengerti apa yang Savan bicarakan."
Nada suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.
"Dengan kondisi dia sekarang, saya takut itu justru akan memperparah ingatannya."
Madam mengalihkan pandangannya.
"Dan Naravan..."
"Dia sangat kecewa... sama kamu, Phuwiniy. Bukan karena cintanya hilang, tapi karena kamu tidak jujur." Madam terdiam sejenak.
"Kalau saya bawa dia ke sini, saya takut kalian bukan saling memeluk... tapi saling menyakiti."
Lalu Madam menatap Nayfan lebih lama.
"Kalau untuk Patwan... dia orangnya keras kepala, saya takut dia tidak akan mendengarkan penjelasan Nayfan, nanti malah jadi berantem." suaranya menurun, berat.
Madam menarik napas dalam-dalam, seperti menahan sesuatu yang ikut menyesakkan dadanya.
"Saya bawa kalian bertiga ke sini..."
Ia menatap mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Karena kalian masih nggak bisa benci sama orang yang kalian cintai."
"Mulut kalian bilang benci..."
"...tapi hati kalian nggak bisa."
Hening.
"Jadi..." suara Savan bergetar, hampir tak terdengar.
"Gimana caranya aku bisa ketemu Winan lagi, Madam?"
Madam menatapnya lama.
"Winan..."
"Sudah melupakan kamu sepenuhnya, Savan."
Kata-kata itu jatuh seperti palu.
"Kalung itu." lanjut Madam pelan,
"Hanya bisa di lepas oleh orang yang Winan cintai."
"Kalau kamu bisa melepaskannya..."
"Itu artinya kamu juga harus siap..."
"...untuk dilupakan olehnya."
Tubuh Savan langsung melemah.
"Aku nggak mau..." suaranya pecah.
"Aku nggak mau dilupain sama Winan, Madam..." tangisnya tak lagi bisa ditahan.
"Tolong bantu aku..." ia terisak, napasnya tersendat.
"Madam... hiks... hiks..."
Tangis itu bukan lagi permohonan tapi ketakutan kehilangan seseorang... untuk selamanya.
"Saya bisa bantu, tapi mungkin ini akan berat." jawab Madam pelan.
"Maksud Madam?" tanya Brayden penasaran.
"Savan harus bikin Winan marah... karena seseorang." jelas Madam. "Pernahkah Winan marah karena seseorang?"
"Winan pernah marah waktu aku sama Gama deketin Savan." ujar Raychen, membuat Gama langsung mengangguk.
"Bagus." ucap Madam. "Kalian harus ulang kejadian itu di depan Winan."
"T-tapi Madam... aku-" Savan ragu.
"Kok bawa-bawa laki gue sih." celetuk Dunfiw.
"Iya Madam, kenapa harus Gama?" tambah Forlan dengan wajah nggak terima.
Madam mendengus kesal.
"Ini cuma untuk bantu Winan balik ingatannya. Lagian, mereka tetap pacar kalian."
"Tenang aja, sayang. Ini cuma bikin Winan marah." ujar Gama tersenyum manis ke Forlan.
"Tenang aja, Dunfiw. Abis ini kita bersenggama." celetuk Raychen tiba-tiba.
"Chen!" Dunfiw langsung merah wajahnya.
"Tolong jaga ucapanmu, Raychen. Dimata saya, kamu masih anak kecil." tegur Madam dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle
VampirosMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
