{Di kamar Raychen dan Dunfiw}
Malam harinya....
Malam mulai turun perlahan. Suasana tenang hanya diisi oleh suara halaman buku yang dibalik pelan. Raychen duduk santai di atas kasur sambil menatap langit-langit, sementara Dunfiw masih fokus membaca.
Tiba-tiba, Raychen memecah keheningan.
"Dunfiw, gue mau nanya sesuatu." ucapnya, suaranya terdengar ragu tapi serius.
Dunfiw menutup bukunya perlahan dan menoleh, "Mau nanya apa?"
Raychen menatap lurus ke arah Dunfiw, matanya berbinar penasaran.
"Lo... pernah jatuh cinta nggak? Atau... suka sama seseorang?"
Dunfiw terdiam sejenak, lalu menjawab dengan datar,
"Enggak."
Raychen mengerutkan alis, lalu tertawa kecil, setengah kaget.
"Seriusan? Anjir, lo selama hidup ngapain aja? Masa gak pernah jatuh cinta?"
Dunfiw menarik nafas pelan sebelum menjawab, "Selama ini gue sibuk ngurusin adek gue, rumah... dan masak."
Raychen mengangguk, tersenyum nakal. "Pantesan masakan lo enak banget. Tapi serius deh, masa iya nggak pernah naksir siapa gitu?"
Dunfiw membuang pandangan, matanya mengarah ke jendela yang memantulkan cahaya remang bulan.
"Pernah... tapi itu nggak penting. Lo gak perlu tahu."
Raychen mendekat sedikit, penasaran makin menjadi.
"Wah, makin misterius aja lo."
"Lo lagi jatuh cinta?" tanya Dunfiw tanpa mengalihkan pandangan.
"Iya dong." jawab Raychen penuh percaya diri, senyum lebarnya terpampang jelas.
"Sama siapa?"
Raychen berdiri, mengibaskan rambutnya dramatis.
"Ada deh... lebih dari satu malah."
Dunfiw langsung menatap Raychen dengan kaget, "Lo suka sama orang atau ngumpulin makanan buat stock? Kok bisa banyak banget?"
Raychen tertawa, lalu melangkah menuju pintu. "Gue mau mulai deketin mereka dulu. Babay Dunfiw~"
"Mereka? Tunggu, orangnya... ada disini?"
Raychen menoleh sebentar dengan senyum licik.
"Iya. Mereka... saudara lo."
Lalu ia pergi begitu saja, meninggalkan Dunfiw yang terdiam.
Dunfiw menatap kosong ke arah pintu yang kini tertutup. Matanya mulai meredup, dan jantungnya terasa lebih berat dari biasanya.
"Ternyata... bener dugaan gue..." batinnya lirih.
"Raychen emang playboy... salah... salah banget kayaknya gue udah mulai suka sama dia."
{Di kamar Patwan dan Nayfan}
Suasana tenang sedikit terganggu saat pintu tiba-tiba terbuka pelan.
"Nayfannn~" ujar Raychen dengan senyum cerah sambil membawa gitar di tangannya.
Patwan yang sedang duduk santai langsung menoleh,
"Lo ngapain?" tanyanya datar.
Raychen langsung berhenti melangkah saat matanya menyapu isi kamar. "WAW!! Ini kamar lo, Patwan?! Gila... kok bisa sebersih ini?!" serunya kaget.
Nayfan yang sedang menyapu hanya mendengus pelan, "Gue yang bersihin. Bocah males kayak dia mana mau bersihin kamar busuknya sendiri."
Raychen tertawa kecil, lalu menatap Nayfan dengan senyum menggoda.
"Lo cocok banget sih jadi bini gue, Nayfan."
"Apaan sih, anjing! Lo ngapain kesini?!" Patwan berdiri, mulai kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle
VampiroMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
