{Di Castle}
Madam duduk di kursinya yang megah, memandangi mereka semua seperti sedang menilai kualitas. Suasana sunyi. Cuma terdengar detak jam tua dan detak jantung mereka yang hampir copot.
"Ayo... duduk dulu." ucap Madam dengan senyum lemah lembut... yang justru bikin mereka semua tambah tegang.
Mereka pun duduk berjajar. Madam duduk di tengah meja panjang, seperti ratu penguji nilai. Semua manusia duduk kaku. Gak ada yang berani nafas lebih keras dari kipas angin.
Madam pun menoleh ke kanan, menatap Phuwiniy dengan tatapan menusuk tulang belakang.
"Nama kamu... 'Von Winiphu', kan?" ucap Madam, nada suaranya pelan tapi kayak bisa bikin meledak.
"I-iya, Madam!" jawab Phuwiniy langsung tegak.
Madam mengangguk pelan, lalu menoleh ke kiri ke arah Brayden.
"Dan kamu... 'Brayndel Von Fangs'. Itu benar?"
"Iya... benar Madam." jawab Brayden gugup sambil ngelirik ke kanan kiri kayak nyari pintu keluar. Yang lain udah pada nahan tawa. Patwan sampai batuk-batuk, matanya berair.
Madam memicingkan mata.
"Lucu?"
"Gak Madam! Saya tercekik... batuk spiritual!" ujar Patwan, sambil duduk tegak lagi kayak mayat hidup insaf.
Madam lanjut melirik ke arah Forlan.
"Siapa namamu?"
"Nama s-saya... For... Foraverius Morduex." jawab Forlan panik setengah nyawa. Yang lain langsung nunduk, bahunya gemetar... bukan karena takut, tapi nahan ngakak.
Madam mengangguk sambil nyengir tipis. "Nama yang... unik."
Phuwiniy bisik ke Forlan:
"Unik tuh kode halus dari 'gue tau lo ngibul'."
Lalu Madam menatap Savan.
"Lalu... kamu?"
Savan tarik nafas.
"Saya... Savethen Riehlyvan." jawabnya, sangat tidak yakin dengan hidup.
Brayden langsung bisik ke Nayfan:
"Namanya ribet banget anjing, bohongnya gak latihan dulu kali ya."
Madam melirik ke Dunfiw, alisnya sedikit naik, "Kalau kamu?"
Dunfiw mangap kecil:
"Saya... Dun... Dun Eranos."
Forlan hampir semprot ketawa tapi langsung dicekik pelan oleh Phuwiniy dibawah meja.
Terakhir, Madam menatap Nayfan.
Nayfan langsung berdiri kayak tentara mau sumpah jabatan.
"Nama saya Nayvior Vaydein!" jawabnya lantang, tapi tangannya gemeter kayak tiang jemuran kena angin.
Madam tersenyum... makin lebar.
Senyumnya lebar banget. Sampai-sampai semua yang ada diruangan langsung kaku. Diam. Takut.
"Lucu-lucu ya... nama-nama aliansi cabang barat ini."
Suasana langsung senyap. Sunyi. Hening. Semua saling melirik, kayak udah pasrah mau ditumbalin.
Forlan bisik pelan banget, kayak suara angin. "Dia senyum... gue takut."
"Feeling gue sih... dia udah tau nama asli kita semua." sahut Dunfiw pelan, "Tinggal milih siapa yang dikutuk duluan."
"Kalau kita pura-pura pingsan sekarang... bisa gak ya, skip acara ulang tahunnya?" celetuk Savan dengan suara pelan tapi penuh harapan.
Lalu Madam berdiri. Elegan tapi bikin bulu kuduk naik. Dia menaruh 6 gelas darah segar di depan mereka. Tanpa basa-basi. Para manusia langsung shock, mata membelalak.
"Silahkan diminum." ujar Madam, senyumnya gak hilang-hilang.
Justru makin menyeramkan.
Nayfan berbisik, nadanya penuh bingung, "Anjing... ini pertama kalinya gue disuruh minum darah asli?"
"Y-yaa... iya Madam... nanti kita minum kok." jawab Dunfiw gugup, hampir keseleo lidah.
"Kalau kalian gak minum sekarang, party-nya tidak akan dimulai." suara Madam datar. Tapi menusuk sampai ke hati yang terdalam.
Mereka saling lirik. Penuh penderitaan. Akhirnya, dengan sangat amat terpaksa, mereka meneguk gelas berisi darah segar itu. Dengan ekspresi seperti abis digigit kutu kasur, mereka mulai minum.
Rasanya... gak bisa dijelasin. Mau muntah, tapi malu. Jadi ditahan pakai martabat sisa-sisa.
Aneh.
Anyir.
Kental.
Pengen muntah, tapi harga diri ditahan.
"U-udah Madam..." ujar Savan, udah pucat kayak mayat.
"Mereka... kuat juga ya." kata Forlec kagum.
"Gak salah sih gue cinta sama Dunfiw." celetuk Raychen pelan.
"Bucin lo tuh bisa gak istirahat satu episode aja?!" bentak Patwan, udah emosi.
Madam melenggang ke ruang tengah. Tenang. Anggun. "Ayo, ikut Madam."
Tanpa pilihan, mereka semua bangkit.
Tapi-
"HUUEEKKK!!"
Serempak mereka muntah darah.
"Gue... minum darah, beneran... untuk pertama kalinya. Gila!" ucap Brayden sambil megang perut.
"Anyir banget, kayak minum air got premium." celetuk Forlan, mau nangis.
"Duh, kepala gue muter. Dunia ini nyata gak sih?" ucap Savan yang sudah mual.
"Baru pembuka udah begini... lanjutannya gimana, cok?" kata Phuwiniy lemes.
Lalu terdengar suara Madam lagi. Lembut tapi bikin jantung lari maraton.
"Anak-anak Madam dan aliansi cabang barat... kemarilah."
"I-iya, Madam..." jawab Dunfiw, sambil nekan-nekan perut yang udah nggak beres.
Mereka semua berjalan ke ruang tengah... dan langsung terpaku.
Di ruang tengah, ada tiga mayat cowok tergeletak, penuh luka cakaran dan gigitan. Darahnya masih netes-netes. Madam lagi duduk santai di sofa, makan tangan salah satu lelaki itu kayak cemilan darah segar. Kakinya naik ke meja dan lagi nonton sinetron.
"Madam, lagi gak mood hiburan simulasi, jadi kita makan aja, ya." ucap Madam santai sambil mengunyah tangan salah satu mayat, kakinya naik ke sandaran sofa, nonton TV. "Tadi sebelum kesini, Madam gak sengaja nemu manusia yang baru aja ngelakuin hal gak bener ke perempuan. Ya udah, Madam bunuh. Lumayan buat cemilan kita."
"'Cemilan kita', katanya... kok gue jadi pengen diet tiba-tiba." celetuk Phuwiniy pelan, setengah menelan ludah.
"Gue nyentuh aja ogah, anjir. Gimana makan? Gue vegetarian mendadak." bisik Forlan, mual.
"Ternyata Madam tuh kalo gak mode anggun... bar-bar juga ya." celetuk Nayfan, saat melihat Madan duduk dengan kaki diangkat satu.
"Madam bisa nonton sinetron juga ternyata..." gumam Dunfiw.
"Kalo suatu hari kita ketahuan manusia, terus dijadiin cemilan gitu juga... gue mending mati duluan deh daripada jadi finger food." ujar Savan dengan suara gemetar, keringat dingin mengalir.
"Boleh gak gue pingsan aja sekarang. Gue mual banget. Daging mentahnya masih berdetak kayak hidup." kata Brayden sambil nutup mata pakai tangan.
"Gue yang vampir aja ogah makan ginian, udah kayak daging gagal beku." celetuk Winan nyengir.
"Gue sekarang fobia makanan mentah. Boro-boro daging manusia, sushi aja gue skip." tambah Gama, merinding.
"Raychen, lo bisa gak pindahin tuh mayat? Gue pengen duduk damai." tanya Forlec sambil nunjukin wajah paling jijik sedunia.
"Bisa sih, tapi... gue takut Madam ngamuk. Gue belum siap kehilangan kepala hari ini." jawab Raychen, cemas.
"Udah duduk aja. Nanti Madam curiga kita sekarang vampir tapi gak doyan daging mentah." bisik Patwan nyuruh semua duduk sambil pasang senyum palsu.
"Kalau tahu bakal begini... harusnya tadi gue pura-pura gak tau hari ini ulang tahun Madam." celetuk Naravan dengan muka nyesel setengah hidup.
Madam ngelirik mereka sekilas, lalu senyum pelan-senyum yang lebih serem dari jump scare film horor.
"Kalian gak makan? Gak sopan loh... Ini masih fresh." katanya sambil gigit ujung jari korban kayak makan chicken wing.
Semua langsung duduk kilat, tangan gemeteran, dengan senyum palsu.
"Ya ampun, Madam... ini sih... gourmet banget ya..." celetuk Nayfan, suaranya naik dua oktaf, mirip influencer yang pura-pura excited padahal dalam hati teriak:
"TOLONG AKU!!"
"M-mungkin... bisa disajikan pakai nasi hangat biar lebih masuk..." ujar Phuwiniy pelan sambil pura-pura cari rice cooker yang gak ada.
"Lo pengen hidup kan? Makan. Telen. Bayangin itu nugget. NUGGET, paham?!" desis Savan, panik sambil nyodorin potongan jari.
"Makan tuh, kak." ujar Forlan sambil sodorin potongan kaki korban ke Dunfiw, kayak tukang bakso ngasih tulang sumsum.
"Jangan taruh di depan gue, ANJING!" ucap Dunfiw kesal, dorong pelan si kaki seolah itu semangka busuk.
"Nih, Kak!" balas Dunfiw dendam buta, langsung jejelin potongan kaki ke mulut Brayden yang kaget setengah hidup.
"Bangs-" ucap Brayden, tapi langsung berhenti karena Madam mendelik tajam ke arahnya.
Refleks, dia pura-pura gigit daging manusia itu. Daging belum nyentuh lidah, tapi hatinya udah pengen nangis.
Akhirnya...
Mereka semua mulai makan. Pelan-pelan. Dikit-dikit.
Kayak lomba icip makanan tapi hadiahnya bukan iphone tapi nyawa.
Ada yang pura-pura batuk biar gak nelen. Ada yang senyum palsu sambil air mata ngalir.
Phuwiniy hampir pingsan.
Nayfan muntah ke tissue tapi pura-pura senyum.
Savan diem aja, pasrah, udah pasrah.
"Madam udah kenyang, saya ke kamar duluan ya." ucapnya santai sambil menaruh sisa kaki manusia dimeja. Lalu Madam berjalan pelan menuju kamarnya didalam Castle.
Begitu pintu kamar tertutup...
"HUUEEEKKKKK!!?!?"
Semua manusia lari ke kamar mandi, kayak balapan muntah paling serempak sepanjang sejarah.
"Stres, anjing! Itu makanan paling gak enak yang pernah gue cobain seumur hidup!" teriak Nayfan sambil megang wastafel.
"Gak pernah terlintas di otak gue bakal makan daging mentah, cok! MENTAH!" celetuk Brayden dengan ekspresi trauma mendalam.
"Duh... aku pusing, Winan..." gumam Savan lemas, langsung ambruk ke pelukan Winan kayak bidadari jatuh.
"Sayang~ ya ampun, lucu banget lagi." kata Winan sambil senyum-senyum kayak lagi peluk boneka hidup. Ia hampir mencium bibir Savan tapi tatapan laser Nayfan langsung mendarat.
Dengan lari secepat vampir beneran, Winan langsung menggendong Savan, "Maaf kakak ipar! Aku cuma mau istirahat bareng calon istri aku, sumpah tulus!"
"Winan! Awas lo anjing kalau sampe ngapa-ngapain adek gue!" teriak Nayfan, tapi langsung dirangkul lembut oleh Patwan dari belakang.
"Udah, sayang... yuk istirahat... biar gak makin emosi, nanti Madam bangun." bisik Patwan menuntunnya ke kamar sambil elus-elus punggung Nayfan yang masih kesal.
"Gila... Naravan, hari ini bikin gue gila..." keluh Phuwiniy, masih gemetar, nafas ngos-ngosan.
"Capek ya? Mau aku peluk sambil istirahat?" bisik Naravan lembut.
Phuwiniy cuma angguk pelan. Mereka jalan berdua ke perpustakaan, tempat tidur dadakan mereka.
Sementara itu, Gama liat Forlan udah pucat kayak kapur tulis.
"Forlan, lo masih sanggup jalan gak?"
Forlan lirih, "Tolong gendong aku dong~ peluk juga gak nolak sih..."
Tanpa banyak tanya, Gama langsung menggendong Forlan ala pangeran penyelamat, "Duh Gama... pelukan lo kayak bantal hotel bintang lima..." gumam Forlan manja.
"Chen~" panggil Dunfiw ngantuk, matanya udah tinggal 20% melek.
"Ayok sayang, kita ke kamar." jawab Raychen lembut, langsung nuntun Dunfiw kayak nganter anak kecil ngantuk abis main seharian.
Sisa terakhir-Brayden yang setengah jalan udah goyang kayak mau tumbang.
"Kubah... bantu gue..." rengeknya pelan.
"Bookie, lo manja banget." ujar Forlec langsung turun tangan, gak nunggu lama, langsung prince carry Brayden dengan gaya keren maksimal.
Brayden nyengir kecil. Emang sengaja pura-pura lemes biar digendong. Males jalan tapi dapet pelukan? Strategi cinta tingkat dewa.
Udah makan daging mentah dan minum darah pun, mereka masih bucin🙂↔️🙂↔️
•
•
Aku lanjut up setiap hari Sabtu ya~
•
•
jangan lupa vote biar aku tambah semangat bikin bab barunya, thankyou yang udah vote🖤❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle ||•END•||
Fiksi UmumMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
