Pepatah mengatakan kalau kehidupan seperti roda yang selalu berputar, kadang hidup berada di atas kadang berada di bawah. Lalu bagaimana ketika dunia yang di hadapi selalu menekan hidup anak kecil untuk selalu berada di bawah, tidak ada sedikitpun k...
Warning! Penulisan PUEBI Kurang Tepat dan Typo Bertebaran⚠️
.
.
.
-Happy Reading-
🤍🤍🤍🤍
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Baby! Astaga!" Nada frustasi dari keluarganya di anggap angin lalu oleh Bintang, si kecil kini asik dengan dunianya sendiri. Matanya terus berpencar kesana kemari. Kaki pendek itu berjalan dari permainan satu ke permainan lainnya, sesekali Bintang terjatuh, beruntung lantai Playground tersebut di lapisi oleh matras.
"Adu... Wat!" Suara mengaduh dari si kecil terdengar menggemaskan.
"Iya baby kuat, pelan-pelan ya sayang" ucap Kayra dan hal itu masih di anggap angin lalu oleh Bintang, si kecil malah tertawa riang sambil mengikuti anak-anak lain yang tengah asik bermain.
Jeffran, Reygan, Arzan dan Delvin terus mengawasi pergerakan si bungsu sesekali meringis ketika tubuh mungil itu terjatuh entah karena kakinya yang masih belum kuat menapak atau tersenggol oleh anak lainnya. Namun mereka harus menahan diri karena sebelumnya mereka telah membuat kesepakatan durasi si kecil untuk bermain di Playground.
Usia toddler memang di masa yang menggemaskan namun di satu sisi mereka harus siap dengan segala keonaran yang di buat oleh si kecil. Dan baru satu hari mereka mengajak Bintang keluar untuk jalan-jalan, tingkah si bungsu membuat mereka merasa khawatir dan frustasi di waktu yang bersamaan, di tambah semua keluarga Alexius memiliki sifat overprotektif.
"Sudah, kakak tidak kuat lagi melihat adik kakak jatuh terus" Reygan yang tak kuat lagi menahan akhirnya menggendong tubuh mungil Bintang yang terlihat ingin bermain Brakiasi mengikuti anak-anak lainnya.
"Mau tu! Mau tu!" Tangan kecil itu terkepal sambil memukul kecil pundak si sulung karena Reygan membawa si kecil dari arena Playground. Semakin jauh jaraknya semakin terdengar isakan yang keluar dari bibir kecil Bintang.
"Sesuai janji sayang, lagipula sebentar lagi tempatnya akan tutup. Bagaimana kita pulang? Nanti kita bisa kembali kesini lagi" ucap Reygan dengan lembut sambil mengusap lembut rambut si bungsu menggemaskan miliknya.
"Hiksss hikss... HUWAAAAA!" Tangisan Bintang akhirnya pecah ketika Reygan benar-benar membawanya keluar dari tempat kesukaannnya. Si bungsu menangis karena keinginannya tak terpenuhi.