Chapter 13

2.7K 217 20
                                        


Happy Reading
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.





Author POV

Decak langkah kaki memecah genangan air di sekitar pelataran bengkel tempat Willi Ditemani sebuah payung tua yang warnanya pun sudah pudar,ia berjalan tertunduk karena punggung nya sudah bongkok. Langkah kaki nya yang tidak lagi kuat pertanda seseorang itu sudah renta termakan oleh usia.

Akibat matanya yang sudah rabun, samar samar ia melihat seorang gadis yang tengah terduduk di depan pintu bengkel Willi. Dengan perlahan ia mencoba mendekati gadis itu mencoba ingin mencari tahu apa yang sedang ia lakukan disini.

"Astaga nak?! Apa yang sedang kamu lakukan disini? Hujan sangat deras nak, kamu bisa sakit. Mari ikut ke rumah nenek, disana kamu bisa mendapat kehangatan" ucap seseorang tadi yang tidak lain hanyalah seorang nenek tua bersama dengan payung dan tongkat tua ny.

Karin tidak menjawab ajakan nenek itu, ia hnya bisa berpasrah dengan tatapan kosong nya ikut berdiri dan berjalan bersama nenek itu menuju suatu rumah tua tak jauh dari bengkel Willi.

Setelah beberapa menit berjalan, tiba lah Karin dan nenek itu dirumah tua yang dimaksud tadi. Memang bangunan itu tampak tua dan rapuh, namun tidak setelah Karin benar benar memasuki ruang tengah rumah tersebut.

Hangat. Benar benar hangat dan nyaman. Itu yang Karin rasakan pertama kali saat ia masuk ke dalam rumah itu. Perapian di tengah ruang keluarga itu hangat nya menyebar hingga ke seluruh bagian rumah. Karin yang masih meneliti isi rumah itu hanya bisa melongo tanpa ia sadar sang nenek sudah membawa sebuah handuk dan baju ganti yang bisa ia tebak model nya sudah ketinggalan jaman.

"Ganti baju dulu nak cantik. Biar kamu nggak kedinginan" ucap nenek itu ramah

"I-iya nek, makasih"

Karin segera menuju kamar mandi yang ada di bawah anak tangga itu sambil membawa handuk dan baju hangat pemberian nenek tadi.

Tidak butuh waktu lama, Karin keluar kamar mandi sambil terus menggosok rambut nya yang hampir setengah kering. Mata Karin menyipit, pandangan nya ia edarkan ke seluruh penjuru rumah berharap ia bisa menemukan keberadaan sangat tuan rumah. Hingga akhirnya ia mendengar suara gelas yang berdenting peraduan antara sendok dan gelas kaca. Ya, nenek itu rupanya tengah menyeduh dua cangkir coklat hangat untuk nya dan satu lagi mungkin untuk Karin.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Bayangin aja dress yang dipake Karin kek gitu








Karin POV

Aku hanya bisa duduk di sofa dekat perapian menunggu nenek itu datang kepadaku, sedangkan hujan di luar masih saja terus mengguyur deras daerah pemukiman ini.

BITE ME (SLOW UPDATE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang