Chapter 14

4.7K 290 24
                                        

Happy Reading
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Warning area 21+ 🌚⚠️⚠️
Bocil silahkan menjauh 🔞🔞


























Author POV

Setelah seharian Willi menghilang dari rumah, ia kembali dalam keadaan basah kuyup. Rupa nya ia menghabiskan hari nya hanya diam sendiri di dalam bengkel las milik peninggalan kakek nya. Tidak banyak yang ia lakukan di sana, ia hanya duduk termangu dengan nasib cinta nya yang seolah olah gemar mempermainkan nya.

Entah sudah kaleng ke berapa Willi menenggak habis semua nya. Hingga ia tidak ada daya lagi hanya untuk sekedar membuka mata.

Dengan langkah nya yang sempoyongan, Willi berjalan nekat menerobos rintik hujan yang sedikit lebat memecak tanah perkampungan yang begitu lembek hingga sepatu boot nya pun terdapat banyak noda tanah.

CEKLEK

Willi membuka daun pintu rumah tua itu dengan amat malas. Malas karna ia harus kembali melihat wajah seorang yang ia benci. Siapa lagi kalau bukan Karin?

Dan, tebakannya pun benar. Nampak di sana hanya ada Karin seorang yang tengah berkutat di depan kompor api dengan sepanci sup tofu hangat. Rambut nya yang tergerai indah, berayun manja saat sesekali angin dingin menerpa anak rambut milik nya. Beberapa menit Willi terpaku akan pesona Karin untuk kedua kali nya.

Hanya beberapa detik saja sebelum lamunan Willi terbuyarkan oleh sapaan hangat dari Karin.

Willi POV

Sejenak aku terpaku dengan pemandangan hangat di depan ku saat ini. Seorang wanita cantik yang tengah meniup niup ujung sendok hanya untuk sekedar mencicip rasa sup nya. Tidak bisa dipungkiri, aroma yang ia ciptakan berhasil membuat tenggorokan ku menelan ludah berkali kali.

Belum lagi rambut nya yang berayun manja seolah marayu kepalan tangan ku untuk ku usap lembut.

Hanya sejenak, sekali lagi hanya sejenak. Sebelum ia, wanita itu datang menyapa ku hangat sambil tersenyum manis ke arah ku.

"Eoh, kamu sudah pulang Willi sayang? Dari mana saja kamu? Aku khawatir sama kamu. "

"Jangan panggil gue sayang! Gue muak sama lo!" sahut ku ketus sambil terus menggoyangkan rambut pendek ku yang basah karna hujan.

"M-maaf Willi. Aku gak bermaksud gitu. K-kalo gitu kamu mandi dulu biar gak sakit. Aku sudah siapin air hangat sama handuk kamu di kamar"

"Gue tegas in sekali lagi sama lo ya Karin. Gue gak butuh perhatian dari lo. Lagian ngapain si lo betah banget di sini hah?!"

Malas meladeni Karin, aku memutuskan untuk melenggang pergi ke kamar mandi sekedar untuk membersihkan tubuh ku. Dapat ku lihat dari sudut mata ku saat aku berjalan ke arah tangga, Karin terus menunduk sambil sesekali ia terisak pelan. Tak ingin ambil pusing, aku mempercepat langkah ku menuju kamar untuk mandi.

.
.
..
.
.
.
..
.
.
.
.

Puas berendam dengan air hangat, aku memutuskan untuk menyudahi ritual mandi ku. Aku keluar kamar mandi hanya berbalut kaos dan celana casual dengan sehelai handuk yang melingkar di leher ku. Cipratan air halus tercipta begitu saja saat ku menggosok pelan rambut pendek ku dengan handuk sambil menghadap kemarahan cermin kamar.

BITE ME (SLOW UPDATE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang