Sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang, merengkuh seluruh tubuh ringkih Ananta sampai tidak ada yang berada di luar teritori pelukan tangan itu.
Ananta masih menangis sejadi-jadinya ketika Alegra menemukan perempuan itu di rooftop rumah sakit setelah sekian menit berlari ke sana ke mari mencari tunangannya.
Alegra mengistirahatkan dagunya di atas puncak kepala Ananta, merasakan tubuh perempuan itu bergetar di dalam rengkuhan tubuhnya sesekali terasa geli, sesekali terasa panas. Membiarkan Ananta menangis sekuatnya ia menangis. Bicara soal waktu singkat yang Alegra miliki untuk menemani Ananta ke sini, ia sudah membatalkan pertemuannya dengan Abil dan Andra.
Hari ini menjadi catatan baru dari banyak catatan yang sedang ia kumpulkan mengapa Almarhum Kakek Pramoedya meninggalkan sebuah wasiat sempurna untuk Ananta. Beliau tahu apa yang akan terjadi pada cucu tersayangnya itu sekalinya ia pergi dan benar saja terjadi seperti apa yang menari di kepala orang tua itu.
"Bicara soal Iceland, I'll take you there. Kebetulan sebentar lagi Desember, aurora katanya muncul di bulan September sampai Desember.." Alegra tidak membahas apa yang terjadi barusan walaupun ia setengah mati penasaran.
Dengan mata basahnya Ananta mendongakkan kepalanya untuk menatap Alegra―nihil, yang ia dapat hanya bagian bawah wajah sempurna pria itu.
Ananta kembali menatap ke depan, masih dengan menangis, ia merasakan ada pergerakan di atas kepalanya karena pria itu kembali berbicara.
"Berdua doang. Gue book kamar hotel masing-masing satu dengan connecting door kayak biasa of course. Kita pergi dua minggu pas kampus libur, gue juga bakal ngomong sama Pak Adjie untuk hold semua lessons sampai awal tahun. I think i still have enough time sampai kelulusan buat ngejar materi. Tahun depan kita lulus, nikah, punya anak namanya Aurora. Oke?"
Ananta tidak mengerti kenapa ia tertawa. Ia menyikut perut pria itu sampai Alegra sedikit terhuyung tanpa melepaskan eratan pelukannya. "Kalau cowok juga lo namain Aurora?" tanyanya dengan suara parau khas orang menangis.
Alegra mengangguk. "Ada yang salah?"
Ananta menggelengkan kepalanya. "Kenapa lo baik banget sama gue, Al?"
Wajib dicatat. Untuk pertama kalinya. Ananta mengucapkan namanya.
Alegra tersenyum. "Ananta Jovanka Pramoedya itu sekarang keluarga gue. Sebagai Rajendra kita itu diajarin kakek satu hal pasti yang sakral banget kalau dilanggar. Taruhannya nyawa."
"Apa?"
"No matter what happens, we won't leave each other behind." Alegra mengatakan itu sambil mengeratkan pelukannya. "Mulai sekarang lo boleh ngerepotin gue kapanpun lo mau, abang-abang gue, kakek sekalipun."
Alegra semakin yakin bahwa tanggung jawabnya terhadap Ananta semakin penuh. Tidak tahu apa yang perempuan itu lalui, namun atas dasar penyesalan yang pernah ia lalui di masa lalu, ia akan memastikan Ananta merasakan hal baik saja dalam hidupnya.
Ananta tersenyum. "Lo gak mau dapat jawaban juga tentang nyokap? Kakek bohongin semua orang selama ini."
Alegra diam sesaat dan menggeleng. "Bukan posisi gue buat nuntut jawaban. Semua hal berat yang lo rasain kan lo yang paling ngerasain, gue mah enak cuma dapat ceritanya aja. So, itu hak lo mau cerita atau gak ke gue. Anytime, Ta. Just come to me and I promise everything will be fine. Oke, bos?"
Inginnya tidak percaya, tetapi sorot mata Alegra seakan menghipnotis hati Ananta yang baru saja tertusuk belati. Perlahan kepalanya mengangguk dan bibirnya tersenyum tanpa otaknya memerintah.
At the end of the day, after everything, the bad boy has been cured.
.
.And you know what? Once Ananta Jovanka Pramoedya, will always be Ananta Jovanka Pramoedya.
Pembicaraan di roof top tadi yang seakan-akan membuat Alegra berada di atas angin akan hubungannya pun langsung sirna begitu mereka kembali ke kediaman Pramoedya.
"It doesn't sit right for me. Ke Iceland berdua sama lo bakal jadi sebuah kesalahan," ujar perempuan itu berapi-api.
Kesalahan? Kesalahan apa? Kesalahan bahwa mereka akan jatuh cinta? Alegra tidak menemukan itu sebagai kesalahan? Wait. Did I just say that I love her?
No.
"Terus lo maunya apa?" Alegra tidak bisa membantu menyelesaikan apa yang terjadi pada Ananta di masa lalu. Kemunculan Tiara Pramoedya tadi cukup menjelaskan padanya bahwa Keluarga Pramoedya itu hancur. Hancur berkeping-keping tak bersisa. Alegra dipaksa masuk oleh Almarhum Kakek Pramoedya dan sekarang ia sangat yakin untuk menjalankan tanggung jawabnya. Ia hanya ingin menawarkan keberadaan karena tidak mungkin ia masuk ke dalam mesin kapsul waktu, pergi masa lalu dan menghalau semua kejadian buruk yang Ananta lalui. Kalau bisa, Alegra mau.
Sekarang, semuanya terserah Ananta. Kartu masa percobaannya sudah habis, jika Ananta tidak mau bekerjasama dengannya. Ya sudah. Apa yang harus Alegra pertahankan lagi? Jika dari awal perempuan itu sudah menanamkan penolakannya terlalu dalam hingga tak bisa ada yang mencabutnya. Seribu kebaikan yang Alegra tawarkan pasti akan sia-sia, sampai akhirnya ia lelah sendiri. Lebih baik kalah berperang di awal untuk tahu kedepannya seperti apa.
Hubungan itu─walaupun dipaksa─nahkodanya dua orang. Kalau Alegra ingin belok kanan, tetapi Ananta tidak, pasti akan nabrak. Ombak yang dilalui juga tidak mungkin akan selalu tenang. Bagaimana caranya kapal melaju hanya dengan satu nahkoda?
"Kayak gini aja. Lo, lo. Gue, gue. Sorry gue tadi jadi ngerepotin lo masalah nyokap. Just promise me on thing, jangan kasih tau siapa-siapa ya? Even kakek lo juga."
Bukan hanya Iceland, ke planet Mars sekalipun jika Ananta menginginkan Alegra untuk membawanya pasti akan pria itu usahakan. Sayangnya mengatakan ini pada Ananta hanya akan memperkeruh ego perempuan itu yang sudah terlalu kental.
Berjuang untuk Ananta akan semakin menyakitkan jika pada akhirnya perempuan itu tak melihat sama sekali ke arahnya. Bukan Alegra menuntut untuk dicintai, disukai, ia juga tidak mencintai Ananta pada umumnya. Give and take, itu yang keluarganya ajarkan dalam sebuah hubungan. Alegra sudah memberikan, sekarang gilirannya untuk mengambil.
Kepalanya berkutat menghadapi perempuan yang dengan santainya naik ke atas tempat tidur, memainkan ponselnya seakan ia tidak sedang terlibat dalam percakapan penting. Atau hanya Alegra yang menganggapnya penting? Entahlah.
Alegra sudah terlanjut menanamkan dalam benaknya bahwa Ananta keluarganya sekarang. Seseorang yang harus berada dalam lindungannya. Rasanya mendadak nyeri.
Ribuan kata sudah Alegra siapkan dalam benaknya, namun yang keluar hanya satu kata singkat. "Oke."
Yang ia hadapi adalah Ananta. Perempuan dengan kepala batu yang egonya sulit sekali dikalahkan, bahkan dengan seorang Alegra Putra Rajendra sekalipun. Semakin ditabrak dengan emosi, ego perempuan itu akan semakin setebal baja.
End of discussion, Alegra menutup connecting door.

KAMU SEDANG MEMBACA
From The Start
FanfictionKematian sang kakek mengharuskan Ananta Jovanka Pramoedya memenuhi perjodohannya dengan Alegra Putra Rajendra─the number one heartbreaker in history.