Jangan takut. Kakek gak akan pernah ninggalin kamu.

226 69 30
                                    

"Jadi, gimana? Fallen for Alegra and his million charms? Dia udah naksir sama lo dari SMA," tanya Andra.

Ananta memutar bola matanya malas mendengar sebuah pertanyaan dan sebuah pernyataan dari mulut Andra. Ia sedang berada di arena private boxing yang surprisingly Andra juga jadi member di tempat ini. Ananta harus terjebak bersama Andra selama dua jam ke depan―sudah satu jam berlalu, berarti satu jam lagi. Dibandingkan dengan Alegra, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan Andra karena Andra tidak terlalu menjengkelkan seperti tunangannya.

Baaak! Ananta memukul samsak yang sudah memelan bergoyang di hadapannya. "Emang dia udah cerita apa aja sama lo?"

Andra ikut memukul samsak. "Banyak. Salah satunya he loves you."

Ananta berhenti memukul samsak. "Masa?" tanyanya percaya tidak percaya. Sebaik apapun Alegra saat ini, tetap saja track record playboy-nya tidak akan pernah hilang dalam diri pria itu. Siapa di dunia ini yang memiliki jumlah mantan kekasih mencapai 28? Usia mereka saja belum sampai ke sana, berarti satu tahun bisa 3 orang mantan dong?

"Can he? Ragu gue."

Andra tertawa. "Lo harus tau, menurut gue... 28 mantan pacar Ale itu ibarat pelampiasan karena ada satu orang cewek yang nolak dia. Di saat dia benar-benar suka sama cewek, dia nembak, eh ditolak. Apa gak luka batin itu anak?"

Giliran Ananta yang tertawa. "Emang gue beneran bikin dia sekesel itu ya waktu itu?"

Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Andra, melainkan Alegra sendiri.

Alegra memang berjanji untuk menjemput Ananta dari tempat boxing. Pria itu mengantarnya, lalu pergi bertemu dengan Pak Adjie di kantor. Setelah itu, Alegra akan kembali ke tempat boxing lagi untuk menjemput Ananta lalu mereka akan bertemu dengan Kakek Rajendra setelah ini―bersama dengan kedua kakak laki-lakinya.

Harusnya masih satu jam lagi Alegra menjemput, tetapi satu jam lebih cepat pria itu sudah muncul di tengah-tengah sesi boxing Ananta dan Andra. Pria itu tergolong penganggu jika bukan statusnya sebagai adik kandung pemilik. Boxing ini miliki Jamal―kakak laki-laki kedua Alegra.

Alegra tidak datang sendiri, seorang perempuan yang memiliki kecantikan paripurna berjalan di belakangnya―mengekor bak anak bebek mengikuti induknya.

Amora.

"Gue ketemu tunangan lo di bawah, Dra. Gue ajak naik aja. Dia gak tau kalau ini tempat punya Mas Jamal..." Alegra menunjuk Amora yang berjalan di belakangnya seakan bukan apa-apa.

Ia berjalan langsung menuju ke arah Ananta, membuat sang instruktur memberhentikan sesinya dengan dua murid VIP. Alegra mengecup kening Ananta. "Hi, Babe," bisiknya.

"Kok cepet?" Ananta bertanya pada Alegra. "Kan aku sama Andra selesainya masih satu jam lagi."

Alegra meninggalkan arena latihan di bagian tengah dan duduk di pojokan, Amora mengikutinya dengan malu-malu. Setidaknya Amora masih ada sedikit rasa tidak enak menganggu sesi latihan ini, dibandingkan dengan Alegra―sang adik pemilik. Kebetulan instruktur juga salah satu kerabat Mas Jamal yang dekat dengan keluarga Rajendra.

Amora ikut duduk di sebelah Alegra.

"Go ahead, Ta. Aku nunggu di sini. Pak Adjie tadi nge-call meetingnya lebih cepet dari jadwal karena banyak rekan kakek yang gak datang juga. Jadi, dilanjutin di minggu depan," ungkap Alegra.

Hal-hal seperti itu bisa saja terjadi. Ananta tidak butuh penjelasan lebih lanjut karena ia sudah mengerti.

Sesi latihan berlanjut dengan tambahan dua orang penonton VIP. Rasanya lebih seperti tahanan daripada pengajar, kata sang instruktur dalam hati. Bayangkan ada empat cucu konglomerat ternama tanah air yang memperhatikannya sekarang―atau saling memperhatikan satu sama lain.

From The StartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang