6. Renggang

125 20 1
                                    

Euforia kemenangan tim basket sekolah membuat Java diperlakukan bak pahlawan oleh orang-orang. Tak lekang seminggu berita itu masih tetap hangat dan masih menjadi perbincangan hingga sekarang. Jeva sudah tak heran lagi saat berjalan berdua mereka akan dicegat oleh satu atau dua orang siswi atau bahkan segerombolan hanya untuk memberikan Java hadiah. Bahkan guru-guru sering sekali membicarakan soal Java dikelas. Tapi tak semuanya tentu saja. Jeva senang saudaranya mendapatkan banyak afeksi positif dari orang-orang, tapi ia sebagai saudaranya merasa kadang itu sedikit berlebihan.

"Hebat ya dia, Java itu akademiknya bagus, non akademiknya apalagi. Prestasinya banyak dia. Dia harusnya bisa jadi panutan kalian, terlebih lagi ... " Sang guru melirik pada Jeva yang hanya diam mendengarkan.

"Kamu harusnya bisa contoh saudara mu, Jev." Jeva memutar bola matanya malas. Ini yang dia maksud berlebihan. Kalau mereka mau memuji Java bagus ya silahkan, tapi tak perlu bandingkan dengan dia. Jelas berbeda!

Ia sudah biasa dibandingkan oleh orang lain. Menurutnya itu satu hal yang tak perlu ia pedulikan. Orang lain kan tidak tau apa yang ia alami. Tapi yang membuatnya jengkel, bahkan ia juga merasakan itu dirumah akhir-akhir ini. Ayah dan bunda sering puji Java, abang dan masnya juga, sampai eksistensinya di meja makan terlupakan. Bunda sering masak makanan kesukaan Java akhir-akhir ini yang notabenenya udang semua. Padahal ia alergi.

Java masuk ke kamar dan mendapati saudaranya sedang serius membaca sesuatu di ponselnya. Dengan jahil anak itu merebut ponsel Jeva membuat saudaranya memekik tak suka.

"Apa sih anjir! Kembaliin Jav!" Java masih tertawa mengangkat ponsel Jeva tinggi-tinggi yang tidak bisa digapai empunya. Walaupun kembar tinggi keduanya terlihat jelas berbeda.

"Lagi bacain apa sih serius amat." Java mengintip ponsel Jeva yang masih menyala dan betapa terkejutnya ia saat membaca kolom komentar media sosial milik sang adik. Disana banyak sekali kata-kata buruk yang tidak sopan, sekalinya ada yang baik itu bukan ditujukan untuk Jeva melainkan dirinya.

"Puas?!" Jeva merebut ponselnya dari Java. Ia mematikan ponselnya, melemparnya ke kasur dan ia juga masuk ke dalamnya. Menarik selimut dengan kasar, memunggungi Java yang masih berdiri menghadap dia.

"Jev, gak usah di dengerin. Lagian lo ngapain bacain komenan gak jelas mereka? Gak perlu, lo—"

"Iya tau, udah tidur! Gue capek." Jeva berucap dengan sedikit nada tinggi membuat Java terkejut. Ia memilih untuk tidak membalasnya dan pergi tidur. Ia tidak mau menyinggung Jeva lebih jauh.

∆_∆

Pagi harinya mood Jeva juga tak kunjung baik. Bunda memasak nasi goreng yang lagi-lagi ada udang di dalamnya. Jeva mendorong piring hingga beradu dengan gelas. Semua pasang mata menoleh ke arahnya, seluruh keluarganya ada di meja makan sekarang tak terkecuali.

"Kenapa?" Gara bertanya sambil menatap sang adik yang menurutnya sudah tidak sopan dengan tindakannya.

"Gak bisa makan udang." Ia berucap demikian membuat seisi ruang makan ingat kalau si bungsu alergi.

"Oh? Maaf ya sayang, bunda lupa. Bunda bikinin baru ya, Je?" Bunda bergegas mengambil piringnya tapi ditahan Jeva.

"Gak usah bunda, Jeva mau langsung berangkat aja." Anak itu langsung beranjak dari ruang makan tak mempedulikan panggilan Java maupun Gara.

Lingga menyambar kunci motornya dan bergegas menyusul Jeva ke depan.

"Mas anter Jev."

"Gak usah." Jeva membalasnya menolak untuk diantar.

"Mau naik apa? Udah mas anter."

"Gak usah!" Lingga terkejut Jeva bisa membentaknya. Agaknya si bungsu juga terkejut sudah melakukan itu. Ia berlari menuju gerbang meninggalkan Lingga yang ribut memanggil namanya. Lingga berusaha menyusulnya tapi Jeva sudah hilang di belokan komplek.

J.E.V.A [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang