Malam sudah larut, dan jam dinding di ruang kerja Cakra menunjukkan pukul 18.00. Meskipun jam kerja sudah selesai, ia belum beranjak dari rumah sakit. Pikiran Cakra terus terbayang kejadian siang tadi-tatapan tajam papa Aluna, isak tangis ibunya, dan ketakutan yang begitu nyata di mata Aluna. Semua itu seolah membekas di dalam hatinya, mengusik ketenangannya.
Sebuah ketukan pelan di pintu ruangannya memecah lamunannya.
"Permisi, Dokter. Dokter memanggil saya?" tanya suster yang masuk dengan sopan.
"Ah, iya, Sus. Malam ini sepertinya saya akan lembur. Tolong bawakan beberapa rekap medis pasien," jawab Cakra, suaranya terdengar letih.
"Baik, Dokter."
Cakra menghela napas panjang setelah suster pergi. Ia memijat pelipisnya, berusaha mengusir kepenatan dan kegelisahan yang melanda dirinya. Seiring waktu yang terus berjalan, kegelisahan itu tidak kunjung hilang. Tak lama, suster kembali dengan beberapa map di tangannya.
"Ini, Dok. Rekap medis pasiennya," kata suster, menyerahkan map itu.
"Terima kasih, Sus."
Cakra menatap map tersebut tanpa benar-benar membacanya. Waktu berlalu tanpa terasa, dan saat ia menutup map terakhir, jam sudah menunjukkan pukul 21.00.
"Udah jam sembilan... Gw melewatkan makan malam," gumamnya, sambil bangkit berdiri, bermaksud mencari makan.
Namun, langkahnya terhenti saat melewati kamar Aluna. Dari balik pintu yang tertutup rapat, terdengar suara samar-seperti seseorang yang sedang berbicara dalam tidurnya.
Tok tok tok.
Cakra mengetuk pintu dengan pelan.
"Aluna?" panggilnya, namun tak ada jawaban.
"Aluna, kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi, lebih keras, berharap ada respons.
Namun, tetap tidak ada jawaban.
"Aluna, saya masuk, ya," ujar Cakra, perlahan membuka pintu kamar.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di depannya membuat hatinya mencelos. Aluna terbaring gelisah di atas ranjang, tubuhnya basah oleh keringat, dan bibirnya terus meracau. Untungnya, Aluna masih mengenakan hijab, sehingga ia bisa sedikit tenang.
"Jangan... Bunda... Jangan... Tolong Bunda, jangan..." suara Aluna terdengar lirih, penuh kepanikan.
Cakra segera mendekat ke ranjang Aluna, berusaha menenangkannya.
"Aluna, kamu baik-baik saja? Bangun, Luna," panggilnya lembut, mencoba membangunkan Aluna yang masih terperangkap dalam mimpinya.
"Ngga... Bunda... Ngga... Jangan lakukan itu, Bunda... Aku janji akan jadi anak baik..." suara Aluna terdengar terputus-putus.
"Aluna, ini saya, Cakra. Sadarlah," kata Cakra, sedikit lebih tegas.
Tiba-tiba, Aluna tersentak bangun. Napasnya tersengal, matanya terbuka lebar dengan pandangan yang liar.
"TIDAK! JANGAN SENTUH AKU!" teriaknya histeris, tubuhnya meronta-ronta.
Cakra mundur, memberi jarak, namun ia tetap berbicara dengan suara menenangkan.
"Aluna, hei, dengar. Ini saya, Cakra. Kamu aman. Saya ada di sini."
Mata Aluna beralih menatap Cakra. Air mata menggenang di pelupuk matanya, mengalir deras.
"Mereka kembali... Mereka di sini, Cakra," kata Aluna, suaranya penuh ketakutan.
"Aluna, dengar. Saya tidak tahu apa yang membuatmu ketakutan seperti ini, tapi jika ini berhubungan dengan orang tua kamu, saya tidak akan pernah memaksa kamu bertemu dengan mereka," ujar Cakra dengan tegas, berusaha meyakinkan Aluna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menyentuh Luka [ End ]
Teen FictionCakrawala Rony Nainggolan, seorang dokter kejiwaan yang terjebak dalam rutinitas monoton, mengabaikan cinta dan kebahagiaan. Hidupnya berubah saat ia bertemu Aluna Salma Aliyyah, gadis cantik dengan senyum manis yang menyimpan luka mendalam. Aluna d...
![Menyentuh Luka [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/378856478-64-k776490.jpg)