Cakrawala Rony Nainggolan, seorang dokter kejiwaan yang terjebak dalam rutinitas monoton, mengabaikan cinta dan kebahagiaan. Hidupnya berubah saat ia bertemu Aluna Salma Aliyyah, gadis cantik dengan senyum manis yang menyimpan luka mendalam.
Aluna d...
Matahari terbit dengan malu-malu di ufuk timur. Cahaya keemasan menyusup perlahan ke sela-sela dedaunan yang basah, membasuh pagi dengan kehangatan yang baru.
Di halaman belakang sebuah rumah kecil bergaya semi-klasik, suara tawa terdengar lembut.
Ara duduk di bangku taman, mengenakan gaun krem sederhana, dengan hijabnya yang senada dengan gaun yang dikenakannya, senyumnya mengembang seperti bunga yang bermekaran setelah badai panjang. Di sampingnya, Revan-dengan kemeja putih dan celana santai-sedang sibuk menyeduh teh, sesekali mencuri pandang ke wajah gadis yang selama ini menjadi alasannya bertahan.
"Masih suka teh melati?" tanya Revan, menyerahkan cangkir.
Ara mengangguk kecil. "Selalu."
Revan duduk di sampingnya. Hening sejenak.
"Terima kasih... karena masih mau ada di sini," ucap Revan pelan.
Ara menoleh. "Kita semua pernah salah, Van. Tapi... kau memilih untuk bertanggung jawab. Dan aku... memilih untuk melihatmu sebagai manusia, bukan hanya kesalahanmu."
Revan menatap matanya-dan di sana, tak ada lagi luka. Hanya cinta.
***
Sementara itu, tak jauh dari sana, di dalam rumah...
Cakra sedang berdiri di dapur, mencuci buah dengan satu tangan, sementara tangan satunya... direbut oleh Aluna, yang berdiri di belakangnya sambil memeluk pinggangnya.
"Kalau kamu terus kerja sendiri, nanti aku iri sama buah," bisik Aluna, geli.
Cakra tertawa pelan, lalu berbalik dan mencubit ujung hidung Aluna.
"Kalau kamu terus peluk dari belakang, nanti yang cemburu... meja dapur ini."
Aluna tertawa kecil, lalu merebahkan kepalanya di dada Cakra. Detak jantung yang dulu pernah menyelamatkannya... kini menjadi rumah yang tak ingin ia tinggalkan.