Epilog

363 31 0
                                        

Matahari terbit dengan malu-malu di ufuk timur. Cahaya keemasan menyusup perlahan ke sela-sela dedaunan yang basah, membasuh pagi dengan kehangatan yang baru.

Di halaman belakang sebuah rumah kecil bergaya semi-klasik, suara tawa terdengar lembut.

Ara duduk di bangku taman, mengenakan gaun krem sederhana, dengan hijabnya yang senada dengan gaun yang dikenakannya, senyumnya mengembang seperti bunga yang bermekaran setelah badai panjang. Di sampingnya, Revan-dengan kemeja putih dan celana santai-sedang sibuk menyeduh teh, sesekali mencuri pandang ke wajah gadis yang selama ini menjadi alasannya bertahan.

"Masih suka teh melati?" tanya Revan, menyerahkan cangkir.

Ara mengangguk kecil. "Selalu."

Revan duduk di sampingnya. Hening sejenak.

"Terima kasih... karena masih mau ada di sini," ucap Revan pelan.

Ara menoleh. "Kita semua pernah salah, Van. Tapi... kau memilih untuk bertanggung jawab. Dan aku... memilih untuk melihatmu sebagai manusia, bukan hanya kesalahanmu."

Revan menatap matanya-dan di sana, tak ada lagi luka. Hanya cinta.

***

Sementara itu, tak jauh dari sana, di dalam rumah...

Cakra sedang berdiri di dapur, mencuci buah dengan satu tangan, sementara tangan satunya... direbut oleh Aluna, yang berdiri di belakangnya sambil memeluk pinggangnya.

"Kalau kamu terus kerja sendiri, nanti aku iri sama buah," bisik Aluna, geli.

Cakra tertawa pelan, lalu berbalik dan mencubit ujung hidung Aluna.

"Kalau kamu terus peluk dari belakang, nanti yang cemburu... meja dapur ini."

Aluna tertawa kecil, lalu merebahkan kepalanya di dada Cakra.
Detak jantung yang dulu pernah menyelamatkannya... kini menjadi rumah yang tak ingin ia tinggalkan.

"Sudah nggak mimpi buruk lagi?" tanya Cakra lembut.

Aluna mengangguk. "Mimpi buruknya sudah selesai... karena sekarang aku bangun dengan kamu di sampingku."

Mereka saling memandang. Tak butuh kata-kata.

Luka mereka mungkin belum sepenuhnya hilang, tapi kini... mereka punya tempat untuk pulang.

***

Sore harinya, mereka berempat duduk di beranda, menikmati senja.

Revan menggoda Cakra, "Hei, dokter. Siap-siap, kamu bakal jadi suami direktur rumah sakit. Berat, lho!"

Cakra tersenyum santai. "Nggak seberat jadi suami perempuan keras kepala yang suka ngatur jadwal jaga malam-malam."

Aluna memukul pelan lengan Cakra sambil tertawa.

Ara memeluk tangan Revan. "Dan kamu, siap jadi istri mantan pengkhianat?"

Semua tertawa-karena kini, luka itu sudah bisa dijadikan lelucon.
Sudah tak menyakitkan lagi.
Sudah sembuh.

Langit sore berubah jingga.

Angin berhembus pelan, membawa harapan yang baru.

Dan di sanalah mereka, empat orang yang dulu terbelah oleh rahasia dan pengkhianatan, kini duduk bersama, penuh damai.

Bukan karena hidup mereka sempurna. Tapi karena mereka memilih saling memaafkan, dan tumbuh bersama.

***

Akhir?

Tidak.

Ini hanyalah awal yang baru.

Untuk cinta yang lebih jujur.
Untuk hidup yang lebih utuh.
Untuk masa depan... yang kini mereka hadapi, bersama.

🌿✨

.

.

.

.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menyentuh Luka [ End ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang