05 - Janji untuk Aluna

575 51 2
                                        

Di luar kamar, Ara terlihat masih bingung, wajahnya penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab.

"Apa maksudnya 'Surabaya'?" tanya Ara, menatap Revan penuh kebingungan.

Revan menghela napas, wajahnya juga menunjukkan ketidakpastian. "Ini yang sebenarnya ingin aku tanyakan ke kamu, sayang. Setelah Cakra memperkenalkan diri tadi pagi dan bilang kalau dia dari Surabaya, respon Aluna selalu seperti itu."

Ara termenung, mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Sayang, ada kaitan apa Luna dengan Surabaya?" tanya Revan lagi, nadanya pelan tapi serius.

Ara menggeleng, meski wajahnya mulai menunjukkan sedikit keraguan. "Aku juga nggak tahu. Setahu aku, Luna nggak ada kaitannya sama Surabaya. Dia nggak pernah tinggal di Surabaya, dia..."

Kalimat Ara terhenti. Wajahnya tiba-tiba berubah, seolah baru menyadari sesuatu yang penting.

"Aku baru ingat," ucapnya perlahan, "sebelum kejadian itu... Luna sempat bilang kalau dia pengen ke Surabaya. Dia bilang mau ikut Omanya yang akan pindah dan tinggal di sana. Itu tepat sehari sebelum kejadian itu terjadi."

Revan terdiam, mencerna informasi baru tersebut. Ara juga diam, merasa seperti baru saja mengungkap potongan kecil dari misteri yang lebih besar.

"Apa ada cerita yang aku nggak tahu?" gumam Ara pelan, suaranya hampir tidak terdengar.

Revan, yang melihat kegelisahan di wajah Ara, merangkulnya dengan lembut, mengelus pundaknya untuk menenangkannya. "Kita akan mencari tahu, sayang. Kita pasti akan menemukannya," ucap Revan penuh keyakinan.

Ara tersenyum kecil, mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang dengan janji Revan. "Iya, kamu benar."

"Udah yuk, katanya mau ketemu Cakra, kan?" Revan mengingatkan sambil menatap Ara.

Ara mengangguk, senyum kembali menghiasi wajahnya, meski perasaannya masih diliputi oleh teka-teki yang belum terpecahkan.

***

Sesampainya di ruangan Cakra, Revan mengetuk pintu dengan mantap.

"Masuk," terdengar suara Cakra dari dalam.

Revan dan Ara melangkah masuk. Cakra yang sedang duduk di belakang meja kerjanya, menatap mereka dengan penasaran.

"Kenapa, Van?" tanya Cakra, menatap sahabatnya.

"Ada yang mau ketemu lo," jawab Revan sambil melirik ke belakang.

Cakra mengangkat sebelah alisnya, bingung. "Siapa?"

"Sayang," panggil Revan, mengisyaratkan Ara yang sebelumnya berdiri di belakangnya.

Ara maju ke samping Revan, memperlihatkan dirinya yang mungil namun penuh semangat. Cakra tersenyum kecil, melihat gadis yang baru dikenalnya.

"Dia Ara, pacar gue," perkenalan Revan.

Cakra mengulurkan tangannya. "Oh, hai. Gue Cakra."

"Ara," jawab Ara singkat sambil menjabat tangan Cakra.

"Silakan duduk," tawar Cakra, menunjuk kursi di depannya.

Setelah mereka duduk, Cakra bertanya, "Ada apa?"

Ara menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sebelum memulai percakapan serius ini. "Cakra, gue sahabatnya Luna, sekaligus walinya sekarang."

Cakra menoleh ke arah Revan, mencari penjelasan. Revan hanya mengangguk, memberi isyarat bahwa Ara serius.

"Ada yang harus lo tau tentang Aluna," lanjut Ara. "Tapi sebelum gue cerita, lo harus janji satu hal: jangan pernah menyerah untuk bantu dia."

Cakra sempat bingung, tapi melihat keseriusan di wajah Ara, ia mengangguk mantap. "Gue janji, Luna sekarang tanggung jawab gue juga."

Ara tersenyum lemah, lalu mulai bercerita, "Luna nggak sepenuhnya sakit, pasti lo udah denger ini kan?"

Cakra kembali mengangguk, mendengarkan dengan serius.

"Memang benar, Luna nggak sepenuhnya sakit. Dia seperti sedang bersembunyi dari masa lalunya," ucap Ara pelan. "Dia akan histeris kalau seseorang yang dia kenal pergi tanpa pamit, kayak yang terjadi sama dokter Risma. Tapi selain itu, dia akan bersikap normal, Cakra."

Cakra mendengarkan dengan seksama, tidak ingin melewatkan satu pun detail.

"Tapi kenapa dia jadi seperti ini, nggak ada yang tau pasti. Kita semua cuma punya cerita yang kita dengar," lanjut Ara, suaranya semakin berat. "Orang tuanya bilang dia trauma karena pelecehan oleh preman setelah pulang kuliah. Tapi, lo tau apa? Hari itu Luna nggak pergi ke kampus."

Cakra terkejut mendengar pernyataan itu. "Jadi... ada sesuatu yang lebih besar dari cerita yang kita tau?"

Ara mengangguk, air matanya mulai menggenang. "Iya, Cakra. Kita semua cuma mendengar cerita, tapi nggak ada yang tau kebenarannya. Faktanya, hanya Luna dan Omanya yang tau apa yang terjadi sebenarnya. Tapi sejak kejadian itu, gue nggak pernah lihat atau dengar kabar dari Omanya. Sama sekali."

Ruangan itu seketika dipenuhi keheningan. Cakra termenung, mencerna setiap kata yang baru saja Ara ucapkan.

"Bantu Luna, Cakra," Ara mulai menangis, air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan lagi. "Gue mohon, bawa Luna kembali."

Cakra merasakan beban yang berat di dadanya, tapi ia tak ingin mengecewakan mereka. Dengan suara penuh keyakinan, ia berkata, "Ara, gue nggak bisa janji, tapi gue bakal usahakan sekuat tenaga. Luna akan kembali. Aluna akan kembali."

Ara tersenyum samar di antara air matanya, penuh harapan pada janji tak terucap yang ia harapkan bisa menyelamatkan sahabatnya.

.

.

.

.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menyentuh Luka [ End ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang