Flashback On
Malam itu rumah sakit sunyi. Hujan pelan mengetuk jendela kamar Aluna, menciptakan irama lembut yang menyatu dengan lampu temaram.
Cakra baru saja memeriksa pasien terakhir. Tapi pikirannya tak tenang. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak tadi-tentang Aluna, tentang sorot matanya, tentang gelang yang ia berikan kemarin.
Ia kembali ke kamar Aluna. Di sana, Aluna masih duduk di kursi dekat jendela, persis seperti saat ia tinggalkan. Tak bergerak. Hanya memandangi hujan yang turun perlahan.
Cakra berjalan pelan mendekatinya.
"Sampai kapan?" suara Cakra pelan tapi dalam.
Aluna menoleh, menatapnya dengan senyum tenang yang justru menambah rasa cemas di dada Cakra.
"Sampai kapan, Aluna?" ulangnya, lebih serius.
"Tidak lama lagi," jawab Aluna, lembut. Seolah ia tahu semuanya akan segera berubah.
Cakra menghela napas panjang, lalu duduk di sofa kecil yang tersedia di kamar itu. Ia menatapnya tanpa kata.
Aluna berdiri dan menyerahkan secarik kertas kecil kepadanya. Cakra membuka kertas itu. Tulisan tangan di sana terbaca jelas:
"Tempat yang tidak ada di peta, yang akan membuka jalan menuju kebenaran."
Cakra menatap Aluna, penuh tanya. Tapi Aluna hanya tersenyum, lalu berjalan keluar dari kamar.
Tanpa sepatah kata, Cakra berdiri dan mengikutinya.
Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit, hanya ditemani suara hujan di luar dan detak langkah yang menggema di dinding sunyi. Sampai akhirnya-mereka berhenti di depan pintu besi besar yang tertutup rapat.
Ruangan direktur.
Ruangan yang konon hanya bisa dibuka oleh satu orang.
Cakra menoleh, tapi Aluna telah mengeluarkan sebuah kunci berbentuk simbol infinity dari kalung di lehernya. Ia memasukkannya ke lubang kunci dan memutar.
Klik.
Pintu terbuka.
Cakra membeku. Jantungnya berdetak kencang, namun seluruh tubuhnya kaku.
"Aluna..."batinnya bergetar.
Mereka masuk. Lampu ruangan menyala pelan. Di tengah ruangan ada meja besar. Di atasnya, papan nama yang membelakangi arah pintu.
"Tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Aluna.
"Bukankah ini giliranmu?"balas Cakra, suaranya nyaris tenggelam dalam keterkejutan.
Aluna melangkah ke meja itu. Ia duduk perlahan di kursi direktur, lalu memutar papan nama tersebut agar bisa terbaca dari arah Cakra.
"Aluna Salma Aliyyah"
Cakra tertegun. Tak mampu bergerak. Tak mampu berkata-kata.
"Semua dugaanmu benar, Cakra."
"Aku... Aluna, direktur rumah sakit ini. Dan... juga pasienmu."
"Kenapa kau... menyembunyikannya?"suara Cakra retak. Separuh marah, separuh hancur.
Aluna tersenyum getir. Tapi matanya sudah berkaca-kaca.
"Karena aku harus melihat apakah kau akan melihatku sebagai manusia... atau hanya pasien yang rusak."
Cakra terdiam. Ia menunduk, meremas tangannya. Ia tahu Aluna benar. Ia tahu... hatinya telah melihat lebih dari sekadar luka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menyentuh Luka [ End ]
Teen FictionCakrawala Rony Nainggolan, seorang dokter kejiwaan yang terjebak dalam rutinitas monoton, mengabaikan cinta dan kebahagiaan. Hidupnya berubah saat ia bertemu Aluna Salma Aliyyah, gadis cantik dengan senyum manis yang menyimpan luka mendalam. Aluna d...
![Menyentuh Luka [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/378856478-64-k776490.jpg)