Cakra kembali ke rumah lama aluna, berdiri terpaku di depan kotak surat tua itu matanya memerah oleh frustrasi. Tangannya mengobrak-abrik isinya-potongan kertas, karet gelang, serpihan surat lama-apa pun yang mungkin luput dari perhatian sebelumnya.
"Tidak ada... tidak ada apa-apa..." geramnya.
Ia menjatuhkan tubuh ke bangku semen di halaman, napasnya memburu. Surat dari Aluna kembali ia buka, tatapannya memburu makna tersembunyi dari kalimat terakhir:
"temukan tempat yang 'tak tercatat dalam peta', tempat di mana segalanya dimulai"
"Tempat tak tercatat... tempat... yang dimulai..." gumamnya. "Apa maksudnya ini Tuhan?" frustrasi Cakra
Ia mengepal surat itu, lalu menyandarkan kepala ke dinding dingin.
Drrt. Ponselnya bergetar.
Layar menyala. Tak ada nama pengirim. Hanya satu kalimat:
"Kau mencari Aluna? Hahahahaha... datanglah kemari, anak muda."
Cakra terpaku sejenak.
Lalu menggeram pelan.
"Shit... Handi."
***
Ruangan itu temaram. Dinding kaca raksasa menampilkan panorama kota yang sunyi dan dingin. Di balik pantulan bayangannya sendiri di jendela, seorang gadis berdiri diam. Gaun hitam membalut tubuhnya dengan elegan. Hijab rapi tersampir di kepalanya, memperkuat kesan agung dan misterius dalam satu waktu.
Di tangannya, sebuah ponsel menyala. Pesan di layar baru saja selesai dibaca.
"Tuan Cakra dalam perjalanan ke kediaman Tuan Handi."
Ia mengepalkan ponsel itu hingga nyaris retak.
"Sial."
Suara itu keluar dari mulutnya dengan dingin. Matanya menajam.
Ia berbalik cepat. Mantel panjangnya berayun mengikuti gerak tubuh. Di belakangnya berdiri seorang pria bersetelan hitam, tegap, tangan di balik punggung-komandan lapangan kepercayaannya.
"Siapkan mobil. Lengkapi semua unit. Kita ke rumah besar itu malam ini."
"Nona yakin ingin bertindak sekarang? Belum semua tim terkoordinasi. Dan Nona tahu lokasi itu-"
"Siapkan mobil," ucap gadis itu dengan nada tak bisa ditawar. "Lengkapi semua unit. Kita ke rumah besar itu malam ini."
Pria itu tampak ragu. "Nona yakin ingin bertindak sekarang? Belum semua tim terkoordinasi. Dan... Nona tahu sendiri lokasi itu..."
"Sudah terlambat."
Suara sang gadis memotong, dingin seperti es. "Handi memulai lebih dulu. Sekarang... aku yang akan mengakhirinya."
Komandan itu menelan ludah. Napasnya tertahan. Matanya menatap perempuan itu dengan segan dan waspada.
Aura yang terpancar darinya bukanlah aura gadis rapuh yang pernah dikurung di balik jeruji-melainkan pemimpin yang pernah jatuh, dan kini siap membakar balik penjaranya.
Tatapan gadis itu tak berubah saat berkata pelan, namun jelas:
"Jika Cakra terluka... aku tidak hanya akan membunuh Handi."
Ia melangkah perlahan ke arah dinding, menyentuh sebuah bingkai foto tua di sana. Gambar seorang gadis kecil di peluk seorang wanita tua.
"Aku akan membakar seluruh organ tubuhnya, perlahan... satu per satu."
Tangannya menyusuri kaca bingkai, dan dari bibirnya meluncur sebuah bisikan:
"Aluna, sayang Oma."
Ya. Dialah Aluna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menyentuh Luka [ End ]
Teen FictionCakrawala Rony Nainggolan, seorang dokter kejiwaan yang terjebak dalam rutinitas monoton, mengabaikan cinta dan kebahagiaan. Hidupnya berubah saat ia bertemu Aluna Salma Aliyyah, gadis cantik dengan senyum manis yang menyimpan luka mendalam. Aluna d...
![Menyentuh Luka [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/378856478-64-k776490.jpg)