Cakrawala Rony Nainggolan, seorang dokter kejiwaan yang terjebak dalam rutinitas monoton, mengabaikan cinta dan kebahagiaan. Hidupnya berubah saat ia bertemu Aluna Salma Aliyyah, gadis cantik dengan senyum manis yang menyimpan luka mendalam.
Aluna d...
Aluna melotot, tampak kesal. "Ish!" Ia memalingkan wajahnya dengan tangan yang menyilang di dada.
Cakra tersenyum geli, "Hey-"
"Diam, gak mau ngomong sama Cakra," potong Aluna sambil menunduk, pura-pura cemberut.
"Bener?" tanya Cakra, sedikit menggoda.
"IYA!" jawab Aluna dengan suara keras.
"Hahaha oke, oke, maaf, saya bercanda tadi," kata Cakra, tertawa.
"Jadi, senyum aku gak jelek, kan?" tanya Aluna, dengan wajah cerah lagi.
Cakra menggelengkan kepala, "Tidak jelek."
Senyum Aluna semakin merekah, dan Cakra pun ikut tertawa geli melihat perubahan ekspresi wajahnya yang cepat.
Namun, tatapan Cakra perlahan beralih ke tangan Aluna yang terlipat rapi di atas pangkuan. Meski ekspresinya terlihat baik-baik saja, ada kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Aluna terus menatap ke sekeliling ruangan, seakan waspada terhadap sesuatu.
"Hey, tenanglah. Hanya ada saya di sini," ujar Cakra, berusaha menenangkan.
Aluna mendengus dan mendekatkan tangan ke wajahnya. "Aku tenang kok. Tenang banget malah, sampai aku merasa kepalaku sedang menari-nari sekarang ini."
"Hahahaha," Cakra tertawa, meski ia tahu Aluna sedang berusaha menyembunyikan kecemasan dalam leluconnya.
Aluna menatap Cakra dengan penuh rasa ingin tahu. "Cakra."
"Hmm?" Cakra menoleh, melihat Aluna.
"Kamu ngapain sih? Dari tadi tulis-tulis terus?" tanya Aluna, sedikit penasaran.
Cakra mendekatkan wajahnya ke arah Aluna, seolah-olah sedang berusaha menulis sesuatu yang sangat penting. "Kepo?" tanyanya sambil menoel hidung Aluna.