12 - Pahlawan Super

735 60 5
                                        

Keesokan harinya, Cakra kembali datang untuk menemui Aluna. Kali ini, ia datang sendirian tanpa didampingi suster seperti biasanya.

"Permisi, Aluna, ini saya, Cakra," ujar Cakra sambil mengetuk pintu pelan.

"Masuk, Cakra," jawab Aluna, suaranya ceria.

Cklek

Cakra membuka pintu dengan hati-hati, matanya langsung tertuju pada Aluna yang duduk santai di atas ranjang, tersenyum manis seakan siap menyambutnya.

Cakra, yang melihat ekspresi itu, langsung tersenyum lebar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cakra, yang melihat ekspresi itu, langsung tersenyum lebar.
"Ada apa? Kenapa tersenyum seperti itu?" tanyanya, setengah jahil.

"Kenapa? Senyum aku jelek?" jawab Aluna, menggembungkan pipinya dengan ekspresi pura-pura kesal.

"Hmm... sedikit," jawab Cakra, sambil menyeringai nakal.

Aluna melotot, tampak kesal.
"Ish!" Ia memalingkan wajahnya dengan tangan yang menyilang di dada.

Cakra tersenyum geli, "Hey-"

"Diam, gak mau ngomong sama Cakra," potong Aluna sambil menunduk, pura-pura cemberut.

"Bener?" tanya Cakra, sedikit menggoda.

"IYA!" jawab Aluna dengan suara keras.

"Hahaha oke, oke, maaf, saya bercanda tadi," kata Cakra, tertawa.

"Jadi, senyum aku gak jelek, kan?" tanya Aluna, dengan wajah cerah lagi.

Cakra menggelengkan kepala, "Tidak jelek."

Senyum Aluna semakin merekah, dan Cakra pun ikut tertawa geli melihat perubahan ekspresi wajahnya yang cepat.

Namun, tatapan Cakra perlahan beralih ke tangan Aluna yang terlipat rapi di atas pangkuan. Meski ekspresinya terlihat baik-baik saja, ada kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Aluna terus menatap ke sekeliling ruangan, seakan waspada terhadap sesuatu.

"Hey, tenanglah. Hanya ada saya di sini," ujar Cakra, berusaha menenangkan.

Aluna mendengus dan mendekatkan tangan ke wajahnya. "Aku tenang kok. Tenang banget malah, sampai aku merasa kepalaku sedang menari-nari sekarang ini."

"Hahahaha," Cakra tertawa, meski ia tahu Aluna sedang berusaha menyembunyikan kecemasan dalam leluconnya.

Aluna menatap Cakra dengan penuh rasa ingin tahu. "Cakra."

"Hmm?" Cakra menoleh, melihat Aluna.

"Kamu ngapain sih? Dari tadi tulis-tulis terus?" tanya Aluna, sedikit penasaran.

Cakra mendekatkan wajahnya ke arah Aluna, seolah-olah sedang berusaha menulis sesuatu yang sangat penting. "Kepo?" tanyanya sambil menoel hidung Aluna.

"Ish... Cakra! Jangan pegang hidung aku, nanti hidung aku copot gimana?" Aluna menjauhkan wajahnya, sambil tertawa kecil.

"Mana ada copot cuma karena ditoel," jawab Cakra, terkekeh.

Menyentuh Luka [ End ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang