15 - Diam yang Berteriak

321 35 0
                                        

Di ruang tengah yang remang, Andini-ibu Aluna-berdiri dengan kepala tertunduk. Tangannya gemetar di depan suaminya, Handi, yang duduk di sofa sambil memainkan cincin di jarinya.

"Aku hanya ingin melindungi Putriku," ucap Andini pelan, nyaris seperti bisikan.

Handi mendongak perlahan, menatap istrinya dengan sorot mata tajam seperti belati.

"Kau pergi tanpa izinku. Kau menemui orang luar. Kau pikir aku tidak tahu?"

Andini menggenggam tangannya erat, mencoba menahan getar dalam suaranya.
"Aluna itu anakmu, Handi. Darah dagingmu..."

BRAK!

Telapak tangan Handi menghantam meja di depannya hingga gelas kaca di atasnya berguncang hebat.

"Sekarang kau berani membantahku?!"

Andini tersentak. Air matanya mulai jatuh satu per satu. Tapi ia tidak bergerak, tidak mundur. Ia sudah tahu risikonya ketika memutuskan bertemu Cakra.

"Aku sudah diam cukup lama, Handi. Aku melihat Luna makin menderita... dan aku tak bisa lagi hanya menonton." Suaranya retak, tapi berani.

Handi berdiri perlahan, mendekatinya.

"Dasar wanita bodoh. Kau pikir bisa hidup tanpa aku? Siapa yang memberimu makan, melindungimu? Kau sudah lupa tempatmu?"

Ia meraih bahu Andini dan mencengkeramnya kuat, membuat wanita itu mengerang pelan menahan sakit.

"Kau akan tetap di rumah. Tidak keluar. Tidak menerima tamu. Dan mulai hari ini-kau tidak punya hak bicara soal anak itu!" desisnya penuh amarah.

Andini menatap suaminya dengan luka yang dalam. Tapi ia tetap diam. Ia tahu jika melawan lebih keras, bukan hanya dirinya yang akan menderita. Bisa-bisa Luna...

Beberapa detik kemudian, Handi melepaskan cengkeramannya dan berjalan pergi, membanting pintu belakang rumah.

Andini terjatuh ke lantai. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menangis dalam diam, membenci dirinya karena tak bisa melakukan lebih. Namun, di balik luka dan ketakutan itu, ia tahu satu hal: ia harus menemukan cara lain untuk melindungi Aluna.

---

Setelah suara langkah Handi mereda di lantai atas, Andini bangkit perlahan dari tempat tidur.

Kakinya telanjang menyentuh ubin dingin. Dengan langkah hati-hati, ia menyusuri lorong menuju ruang kerja kecil yang sudah lama terkunci dari rutinitas.

Tangannya bergetar saat membuka laci tua. Di bawah tumpukan buku catatan dan foto-foto masa lalu yang telah memudar, ia menemukan benda yang selama ini ia sembunyikan: sebuah ponsel lama.

Layarnya retak, baterainya hampir habis. Tapi saat ia menekannya, cahaya lemah menyala.

Andini menarik napas panjang. Dengan tangan gemetar, ia menulis pesan:

"Jl. Lencana Indah No. 441.
Tolong... selamatkan Aluna. -A."
Pesan terkirim.

***

Cakra baru saja selesai memeriksa pasiennya. Ia melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang lengang ketika tiba-tiba-

TING.

Suara notifikasi ponselnya memecah keheningan. Cakra buru-buru merogoh saku jubah putihnya dan membuka pesan masuk.

"Jl. Lencana Indah No. 441."

Alisnya mengernyit.

"Siapa ini?" "A" "Selamatkan Aluna?" gumamnya pelan.

Mata Cakra terbelalak "Tante Andini? Aluna?"

Menyentuh Luka [ End ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang