20 - Awal atau Akhir

362 28 0
                                        

Aroma tanah basah bercampur bunga-bunga segar masih menguar di udara, menyelimuti pusara Andin, ibunda Aluna, dengan keheningan yang sakral. Pemakaman kecil di atas bukit itu menjadi saksi kesedihan yang tak terucap.

Aluna berdiri diam, mengenakan mantel hitam dan hijab gelap. Di sampingnya, Cakra. Sedikit di belakang, berdiri Revan dan Ara-sunyi, membisu, seolah dunia sendiri enggan bergerak.

Di sebelahnya berdiri Cakra, diam. Tak berkata apa pun.
Di belakang, Revan dan Ara berdiri lebih jauh, tak berani mendekat.

Hanya sunyi yang bicara hari itu.

Cakra menyentuh lembut bahu Aluna.
"Kita pulang?" bisiknya pelan, seakan tak ingin mengganggu percakapan antara Aluna dan tanah yang sedang memeluk ibunya.

Aluna tak menjawab. Pandangannya tetap pada pusara itu-seolah berharap ibunya membalas dalam hembus angin atau getaran tanah.
Kemudian, ia menghela napas dalam, menunduk sejenak, lalu melangkah pelan.

Langkah mereka hampir meninggalkan area makam ketika-
Sebuah suara menghentikan dunia.

"Kau ingin pergi ke mana...?"

Suaranya datar. Dingin.
Tapi dibalik datarnya, terdengar luka yang dalam... seperti jeritan yang tertahan bertahun-tahun.

Semua menoleh.
"Aluna berdiri menatap Revan."

Lalu...

Tangannya terangkat.
Sebuah pistol kini mengarah tepat ke dada Revan.

"Pengkhianat."

Satu kata itu menghantam udara seperti palu di ruang penghakiman.

Ara menjerit tertahan. "Aluna?! Apa yang kau lakukan?!"

Namun Aluna tak bergeming.
Tangannya tak bergetar. Matanya tak berkedip. Tapi dari dalam dadanya, jiwanya meronta-ronta.

Ara menatap Revan dengan bingung. "Revan...? Apa maksudnya ini?"

Namun Revan tidak bereaksi seperti orang yang terkejut. Ia berdiri tegak, hanya menunduk sedikit. Seolah sudah menyiapkan dirinya untuk saat ini.

"Aku tahu ini akan datang," katanya pelan.

"Dia yang menyerahkan semua informasi kita pada Handi. Lokasi persembunyian. Jalur komunikasi. Bahkan... detail penyerbuan terakhir."

Ara menatap Revan, wajahnya memucat. "Itu... bohong, kan?"

Revan mengangkat kepalanya. Matanya merah.
"Maaf, Ra... Tapi itu bukan kebohongan. Aku... memang pengkhianat itu."

Ara terdiam. Bibirnya bergetar.
"Tapi kenapa...? Kenapa kamu ngelakuin itu ke aluna...?"

Revan menahan napas. Matanya mulai berkaca-kaca.
Suaranya lirih. "Karena kalau aku nggak ngelakuin itu... kamu yang akan mati, Ara."

Petir menyambar jauh di langit.

"Handi mengancamku. Dia tahu kamu satu-satunya yang bisa membuatku tunduk. Dan aku-aku nggak cukup kuat buat kehilangan kamu..."

Ara mundur. Dadanya sesak.

"Kamu... Membahayakan aluna...? Menghancurkan hidup sahabatku...? Demi aku?"

Revan mengangguk perlahan. "Setiap data yang kubocorkan, kubocorkan sambil berharap kalian bisa menang sebelum semuanya jatuh. Tapi aku tahu... itu pengecut. Aku tahu aku layak ditembak malam ini."

Air mata Aluna jatuh. Tapi pistolnya tetap terangkat.

"Aku kehilangan Oma. Aku kehilangan bunda. Aku kehilangan hidupku, harga diriku, dan harapanku. Dan sekarang, aku tahu... semuanya karena kamu."

Revan menutup mata. "Aku siap. Tarik pelatuknya."

Cakra melangkah pelan ke arah Aluna.
"Luna... jangan. Ini bukan kamu."

"Dia menusukku dari belakang, Cakra." suara Aluna retak.
"Orang yang kupeluk saat aku hancur... justru menusukku ketika aku berdiri."

Revan membuka mata. Menatap Aluna dalam.
"Kalau ini satu-satunya cara membuatmu merasa adil... lakukan. Aku nggak akan lari. Tapi satu hal yang harus kau tahu... aku mencintai kalian. Aku cuma... terlalu pengecut buat melawan sendiri."

Klik.

Pelatuk ditarik.

Tapi kosong.

Revan tetap berdiri, memejamkan mata. Menanti luka. Tapi yang datang justru... suara pecah.

Tangis.

Tangis Aluna.

Ia menjatuhkan pistol. Bahunya bergetar hebat. Ia terduduk di atas tanah basah. Air matanya bercampur hujan.

"Kau menghancurkan aku, Revan... tapi yang lebih menyakitkan... kau tetap saudara yang kusebut rumah."

Revan menahan air mata, menatap langit, lalu berbalik hendak pergi.

Namun-
"Tunggu... Revan."

Langkahnya terhenti.

Aluna berdiri perlahan. Seluruh tubuhnya gemetar.
"Setelah kau mengkhianatiku... kau juga ingin pergi meninggalkanku?"

Revan menoleh, tatapannya tak percaya.

Air mata jatuh dari mata Aluna.
Ia melangkah cepat. Lalu memeluk Revan erat.

"Kau mau meninggalkan... adikmu...?" bisiknya hancur.

Revan terdiam. Tapi perlahan, kedua lengannya membalas pelukan itu.

"Maaf... Maaf... Maaf... Maaf..." bisiknya lirih, berulang-ulang.

Pelukan itu bukan tentang pengampunan.

Tapi tentang mengenali bahwa cinta dan luka... kadang lahir dari tempat yang sama.

Ara tersenyum sambil menangis, lalu mendekat.
"Hey... ajak kita juga dong." suaranya serak.

Cakra merentangkan tangan, dan akhirnya-mereka semua berpelukan.
Basah oleh hujan. Luka oleh waktu. Tapi bersama dalam satu simpul yang baru.

***

A untuk Akhir... atau Awal?
Tak ada yang tahu pasti.

Namun yang jelas:
Mereka pernah hancur, dan malam itu... mereka memilih untuk berdiri lagi. Bersama.

END

.

.

.

.

Yuhuuuu👐Tidak menyangka sekali akhirnya aku menyelesaikan cerita ini, huhuhu terharu dehhTengkyuu buat semuanya yang udah baca ML, tengkyuu yang udah setia sama Cakra dan Luna Tengkyuu so much Luv yu guysssSee you di next cerita ku🤘

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yuhuuuu👐
Tidak menyangka sekali akhirnya aku menyelesaikan cerita ini, huhuhu terharu dehh
Tengkyuu buat semuanya yang udah baca ML, tengkyuu yang udah setia sama Cakra dan Luna
Tengkyuu so much
Luv yu guysss
See you di next cerita ku🤘

Menyentuh Luka [ End ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang