14 - Ancaman

834 69 5
                                        

Setelah berfikir cukup lama, Cakra memutuskan untuk memberitahu Revan dan juga Ara. Saat ini cakra, Revan dan Ara sedang berkumpul di ruangan Cakra.

Ruangan Cakra yang biasanya tenang kini dipenuhi ketegangan. Ia duduk di belakang meja kerjanya, sementara Revan dan Ara berada di depannya dengan raut wajah penuh tanda tanya.

"Ada apa, Cak?" tanya Revan, memecah keheningan.

Cakra menghela napas panjang sebelum membuka suara. "Gue mau kasih tahu sesuatu. Ini tentang Aluna."

Ara langsung duduk lebih tegak, nada suaranya menunjukkan kekhawatiran. "Ada apa, Cak? Aluna kenapa?"

Cakra menatap keduanya serius. "Nyawa Aluna terancam."

Ruangan seketika sunyi. Revan dan Ara saling pandang, mencoba mencerna kata-kata itu.

"Apa maksud lo? Jangan bercanda, Cakra," Revan menegaskan dengan nada tak percaya.

Cakra menatapnya tajam. "Dan ancaman itu... dari ayahnya sendiri."

Hening.

"Lo gila?! Atas dasar apa lo ngomong kayak gitu?!" Ara akhirnya bersuara, wajahnya memerah karena emosi.

"Gue nggak asal ngomong, Ra."

"Jangan muter-muter, Cak. Jelasin!" tuntut Revan.

Cakra menghela napas berat, tangannya mengusap wajahnya sejenak sebelum bicara lagi. "Semalam... ibu Aluna datang ke sini."

Ara dan Revan terkejut. "Tante Andini?"

"Iya. Dia datang tengah malam, kelihatan ketakutan. Dia minta gue melindungi Aluna."

"Apa?!" seru Revan dan Ara bersamaan.

Cakra melanjutkan, menceritakan pertemuannya dengan ibu Aluna, pengakuan tentang ancaman dari ayah kandung Aluna, hingga pria misterius berbaju hitam yang mendatanginya beberapa saat kemudian.

Ketika cerita selesai, ruangan kembali hening.

"A-ayah Aluna? Om Handi?" Ara bergumam pelan, nyaris tak percaya.

"Cakra..." Revan menatapnya serius. "Kalau semua yang lo bilang ini benar, tunggu apa lagi? Kita lapor polisi sekarang."

"Tunggu, Van," Cakra memotong cepat.

"Apa lagi yang mau lo tunggu?!" Revan meninggikan suaranya, jelas tidak sabar.

Cakra menatapnya lekat. "Kita nggak punya bukti. Kalau pun kita minta ibu Aluna bersaksi, itu nggak akan cukup. Dari yang gue lihat, ibu aluna juga ada di bawah tekanan. Gue yakin dia juga sedang dalam bahaya."

Ara menatap Cakra dengan cemas. "Terus, apa yang harus kita lakukan?"

Cakra mengusap rambutnya, jelas frustrasi. "Kita harus cari cara untuk membantu ibu Aluna sekaligus melindungi Aluna. Tapi... gue juga belum tahu harus mulai dari mana."

Ketiganya terdiam, mencoba mencerna situasi. Hingga tiba-tiba-

PRANG!

Suara kaca pecah membuat mereka semua terkejut. Mereka serentak menoleh ke arah jendela ruangan Cakra yang kini berserakan dengan pecahan kaca.

"Apa itu?!" Ara berseru panik.

Revan berjalan cepat ke jendela dan menemukan sebuah batu kecil yang diikat dengan gulungan kertas. Ia segera mengambilnya dan membukanya.

"Tulisan apa itu?" tanya Cakra, mendekat.

Revan membaca tulisan di kertas itu dengan suara yang bergetar.

Menyentuh Luka [ End ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang