Cakra keluar dari mobil. Jas hitamnya sedikit basah oleh embun malam, namun langkahnya tetap tegap. Penuh percaya diri.
Terlalu percaya diri.
Dan memang seharusnya begitu.
Ia tersenyum tipis. Tangannya bergerak ke dalam jaket. Tombol kecil ditekan tanpa suara.
Lampu indikator biru menyala di layar kecil.
"Tracking aktif."
"Kau ingin membuka neraka, Handi? Mari kita buka lebar-lebar pintunya."
Rumah itu seperti museum kematian.
Lukisan-lukisan tua tergantung berat di dinding, senapan antik dipajang seolah trofi pemburu jiwa.
Meja kayu panjang dengan lilin-lilin tinggi di atasnya menciptakan bayangan yang menari pelan-bayangan yang seolah hidup.
Cakra melangkah masuk ke ruang utama.
Di ujung ruangan, Handi berdiri. Tersenyum sinis, seperti dewa kecil yang merasa tak tersentuh.
"Ah, sang dokter pahlawan. Datang sendiri demi wanita gila."
Ia tertawa pelan. "Mengharukan. Sangat... menyentuh."
Cakra berdiri tenang. Sorot matanya dingin, penuh ironi.
"Tidak lebih menyentuh dari pria tua yang membunuh ibunya sendiri. Demi... warisan."
Tawa Handi berubah menjadi seringai getir.
"Aluna terlalu lemah untuk membunuhku," katanya. "Tapi kau... kau ancaman. Maka-"
Bugh!
Sesuatu menghantam Cakra dari belakang-
Tapi tubuhnya berbalik sebelum serangan kedua datang.
Sikutnya menghantam dada penyerang dengan brutal. Terdengar bunyi patah.
Pria pertama tumbang. Yang kedua maju dengan pentungan.
Cakra mencabut kursi kayu, melemparkannya ke wajah musuh, lalu melompat cepat, menendang lutut pria itu hingga terdengar "krak" mengerikan.
Namun, saat ia berbalik-
Pistol sudah mengarah ke wajahnya.
"Sudah cukup." Handi.
Cakra tidak gentar. Ia malah tersenyum remeh.
"Kau butuh pistol karena otakmu tak cukup tajam untuk menang debat."
"Dan kau terlalu pintar untuk hidup."
Klik.
Tapi tak ada peluru.
Handi melirik pistolnya. Majal. Kosong.
"Catatan kecil," ucap Cakra sambil berjalan santai, duduk di salah satu sofa mahal.
"Selalu periksa senjata sebelum mengancam dokter perang."
Ia menghela napas.
"Rasanya lelah sekali... Kenapa kalian membuatku membuang tenagaku lebih awal?" katanya sembari menyandarkan punggung, bersikap santai.
Handi menggeram.
"MARK! DEAN! PENGAWAL! SIAL!"
Cakra hanya mendesis, "Ssst... jangan teriak. Suaramu menyakitkan telingaku."
Ia berdiri pelan. Tatapannya menusuk.
"Dan siapa yang kau panggil? Pengawal pengecutmu itu? Aah... kasihan. Mereka kehilangan nyawa mereka demi mencoba melindungi tuan bodohnya."
"APA?!" Handi nyaris menjerit. "Apa yang kau katakan?!"
Cakra menatap kosong ke arahnya, lalu mengangkat bahu.
"Aku bilang apa, ya?" katanya ringan.
"BAJINGAN!" Handi melompat maju, namun dua pria berpakaian hitam entah dari mana muncul dan menahan tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menyentuh Luka [ End ]
Teen FictionCakrawala Rony Nainggolan, seorang dokter kejiwaan yang terjebak dalam rutinitas monoton, mengabaikan cinta dan kebahagiaan. Hidupnya berubah saat ia bertemu Aluna Salma Aliyyah, gadis cantik dengan senyum manis yang menyimpan luka mendalam. Aluna d...
![Menyentuh Luka [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/378856478-64-k776490.jpg)