Mobil Cakra melaju menembus malam. Jalanan basah setelah hujan sore tadi, memantulkan cahaya lampu-lampu kota seperti lukisan kabur di cermin retak. Di dalam kabin mobil, pikirannya berkecamuk. Tangan kirinya terus menggenggam erat gelang pemberian Aluna-mainan berbentuk simbol infinity yang kini terasa seperti kompas, menuntunnya ke satu alamat:
Jl. Lencana Indah No. 441.
"Empat empat satu... empat empat satu..." gumamnya pelan, matanya menyapu deretan nomor rumah yang makin mendekati tujuannya.
Mobilnya akhirnya berhenti di depan sebuah rumah tua. Pagar besi tinggi berdiri seperti penjaga bisu. Cat putih di tembok sudah mengelupas, menganga seperti luka lama. Halamannya dipenuhi ilalang liar, hanya satu lampu gantung tua yang menyala redup di teras, berayun pelan tertiup angin malam.
Cakra turun dari mobil. Angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah... dan sesuatu yang samar. Lavender tua? Atau hanya imajinasinya?
Ia melangkah mendekati pagar, matanya menyisir sekeliling rumah itu, ketika-
Tap
Seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
Cakra sontak menoleh cepat.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Nak?" suara seorang laki-laki tua, ramah namun penuh kehati-hatian.
"Eh-maaf, Pak?" Cakra masih terkejut.
"Saya Ketua RT di sini," kata pria itu sambil tersenyum.
Cakra mengangguk, mencoba menenangkan diri. "Ah, iya, perkenalkan saya Cakra, Pak."
"Nak Cakra sedang mencari seseorang?"
"Ya... maksud saya, tidak persis. Saya hanya ingin mencari rumah teman saya, Pak," jawab Cakra agak ragu.
Pria tua itu mengernyit, lalu melirik rumah yang berdiri bisu di hadapan mereka.
"Di rumah ini?"
"Iya, Pak."
Pria itu diam sejenak. "Nak Cakra... teman Nak Arsa? Atau... Nak Aluna?"
Cakra menatapnya. "Saya teman Aluna, Pak."
Wajah pria itu berubah. Ada raut prihatin yang muncul di sana. Ia menunjuk bangku semen di dekat pohon.
"Kita duduk sebentar, Nak. Ada yang perlu saya ceritakan."
Cakra mengangguk, mengikuti langkah lelaki itu.
Setelah duduk, pria tua itu membuka suara, pelan tapi jelas. "Nak Aluna sudah lama tidak tinggal di sini. Kabar terakhir yang saya dengar... dia dibawa ke rumah sakit jiwa.*
Cakra terdiam. Jantungnya terasa ditarik turun.
"Saya kurang tahu pasti kenapa... katanya, dia depresi berat setelah hampir dilecehkan oleh preman. Setelah itu... dia menghilang. Dibawa ke rumah sakit. Tak lama kemudian, keluarga ini dapat musibah lagi. Kakaknya, Nak Arsa... meninggal karena kecelakaan. Sejak itu, keluarga mereka pindah. Rumah ini kosong... sudah lima tahun."
Cakra menunduk mendengar itu.
"Nak Cakra, kalau saya boleh tau. Nak Cakra dari mana?"
"Saya... dari Surabaya, Pak. Baru pindah ke kota ini."
"Ooh, begitu." Pak RT mengangguk pelan. "Maaf kalau saya bicara terlalu jauh."
"Tidak, tidak, Pak. Justru saya berterima kasih. Tapi... kalau boleh... apakah saya bisa melihat-lihat rumah ini sebentar?"
Pak RT tampak ragu. "Maaf, Nak. Saya tidak punya izin untuk itu. Rumah ini memang kosong, tapi belum dijual. Masih milik keluarga Nak Aluna. Saya tak berwenang mengizinkan siapa pun masuk."
KAMU SEDANG MEMBACA
Menyentuh Luka [ End ]
Fiksi RemajaCakrawala Rony Nainggolan, seorang dokter kejiwaan yang terjebak dalam rutinitas monoton, mengabaikan cinta dan kebahagiaan. Hidupnya berubah saat ia bertemu Aluna Salma Aliyyah, gadis cantik dengan senyum manis yang menyimpan luka mendalam. Aluna d...
![Menyentuh Luka [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/378856478-64-k776490.jpg)