Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Duduk di pojok restoran dengan mata terus awas mengawasi dua orang tengah berbincang. Kalona dengan topi hitamnya tengah mengawasi Kenari dan juga Alexander. Mendapat mandat langsung dari Dylan yang merupakan crush nya sejak dulu, tentu Kalona menurut. Ini semua ia lakukan sebagai bentuk rasa bersalahnya atas kejadian kemarin.
Kalona terus menajamkan telinganya untuk mendengar apa yang keduanya tengah perbincangan kan, dengan tetap menutup wajahnya agar tidak membuat curiga.
Pagi tadi, Dylan memberikan tugas ini karena Dylan khawatir dengan pertemuan Kenari dan juga Alexander. Tidak mungkin Dylan yang mengawasi keduanya, maka Dylan pun meminta Kalona untuk melakukan ini.
Di meja sebrang, dimana ada Kenari dan juga Alexander yang tengah berbincang. Tangan Alexander terus menggenggam tangan Kenari, membuat Kalona mual melihatnya.
”Percaya sama aku, kemarin itu aku khilaf karena cemburu.” Ucapan manis keluar dari mulut Alexander dan Kenari pun begitu saja percaya. Kalona yang mendengar itu saja mual. Bisa-bisanya Kenari tahan dengan gombalan dari lelaki di depannya itu.
Menurut Kalona, sepupunya Dylan ini tidak kekurangan apapun malah lebih dari lelaki di hadapan Kenari. Ganteng iya, kaya iya, bucin sudah pasti. Apalagi coba yang membuat Kenari tidak menyukai Dylan.
”Aku sama Dylan cuman temen biasa. Lagian dia bos aku, jadi kamu nggak perlu cemburu.”
”Tetap saja, aku yakin dia pasti punya rasa sama kamu.”
”Biarkan saja.” Kenari tentu tidak akan bercerita bagaimana awal dirinya mengenal Dylan.
”Aku ke toilet dulu sebentar?” Ucap Alexander kemudian, lalu Kenari pun mengangguk.
Jam makan siang sebentar lagi selesai dan Kenari bersyukur masalah dirinya dengan Alexander tidak berlarut-larut. Ya, Kenari memberi kesempatan bagi Alexander dengan begitu saja.
Tugas Kalona sebenarnya adalah cukup mengawasi Kenari, karena Dylan khawatir Kenari akan mendapatkan perlakuan kasar dari Alexander. Namun ketika Alexander meminta izin untuk pergi ke toilet, Kalona pun seperti tergerak untuk mengikuti.
Alexander sudah memasuki toilet laki-laki dan Kalona masih berdiri di depan pintu masuk. Berfikir sejenak apakah perlu dirinya untuk masuk kedalam. Tapi bagaimana kalau nanti didalam ada lelaki lain yang tengah memakai toilet. Bisa-bisa dirinya di usir dan di teriaki cabul nanti.
”Ah, bodo deh, gue masuk.”
Kalona masuk dan bersyukur didalam sana tidak ada siapapun, hanya ada Alexander tengah mencuci tangannya. Kalona pun bersembunyi di balik tembok. Penasaran dengan apa yang akan di lakukan lelaki itu.
”Ya, semua beres. Tenang saja. Kenari urusan kecil, dia gampang banget di begoin, hahahha,,” Kalona pun terdiam mendengar Alexander berbicara di telfon dengan seseorang. Menyebut nama Kenari dan mengatainya, pasti ada yang tidak beres pikir Kalona. Kalona pun segera pergi dari sana ketika Alexander sudah selesai dengan telfonnya.