Happy reading ❗
Ruang rawat Kenari kembali ramai karena kehadiran tiga sahabatnya yang terus ribut ingin mengelus perut Kenari yang masih rata. Terlebih Luna dan juga Meeya.
Sore ini, ketiganya baru saja mendapatkan kabar jika Kenari kembali ke rumah sakit. Ketiganya panik, mereka pikir Kenari kembali mengalami traumanya. Meskipun ini tidak bisa di bilang hal sepele akan mengapa alasan Kenari masuk ke rumah sakit. Ketiganya bersyukur bayi dan Kenari masih bisa selamat.
Ketiganya membawa banyak makanan dan minuman sehat untuk Kenari dan juga Dylan. Bahkan Luna sudah membelikan satu set perlengkapan untuk bayi Kenari nanti. Bahkan bayi itu masih sangat kecil untuk mengerti, tapi sahabat Kenari terlalu excited.
Sebelum Kenari di izinkan pulang oleh dokter yang menanganinya, Dylan meminta kembali untuk di lakukan pemeriksaan USG untuk meyakinkan bahwa janin yang di kandung oleh Kenari baik-baik saja. Dylan pun ingin melihat kacang kecil yang ada di perut Kenari.
Sebenarnya di awak kedatangan Kenari ke rumah sakit dokter jaga sudah melakukan pemeriksaan USG, tetapi demi kebaikan semuanya, dokter akan melakukannya sekali lagi.
”Dy, kamu kelihatan gugup, kenapa?” Sebentar lagi Kenari akan di bawa oleh Bidan ke ruang USG, tetapi Kenari melihat Dylan terlihat gugup. Bahkan, Kenari sendiri terlihat lebih tenang dari Dylan.
”Mau lihat kacang kecil jadi aku sedikit gugup.” Jawab Dylan.
”Haha, kacang kecil? Yakin, bayi akan baik-baik aja.” Kenari, meraih tangan Dylan yang terasa berkeringat. Menenangkan lelakinya.
Ketika, Kenari sudah berbaring di ranjang pasien. Gel dingin di tuangkan di atas perut rata Kenari, lalu dokter pun siap mengarahkan transduser untuk melihat janin yang ada di perut Kenari.
Dokter perempuan bernama Ellisa itu menjelaskan secara mendetail apa yang ada di layar pada Kenari dan juga Dylan. Pun dokter perempuan itu menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan dengan sangat mendetail dan begitu ramah pada keduanya.
Bayi kecil yang masih berbentuk kacang itu terlihat di pandangan Dylan. Dylan pun menitipkan air matanya, bukan karena sedih tetapi Dylan terlalu bahagia. Tautan tangan kedua tak lepas sedikitpun.
Sesampainya di kamar rawat, Dylan lebih terlihat manja pada Kenari. Lebih manja daripada Kenari yang tengah beristirahat. Dylan terus menciumi kening dan juga perut Kenari.
”Dy, malu ih, nanti ada yang datang kesini.” Seharusnya, Dylan sudah merapihkan barang-barang mereka dan bersiap-siap untuk pulang karena dokter sudah mengizinkan Kenari istirahat di rumah. Tetapi Dylan lebih tertarik untuk mendusal manja pada Kenari
”Sebentar, aku masih mau cium perut kesayangan aku. Nanti perut kamu pasti lucu kalau bayi kacang udah besar.”
”Masih lama ih, kamu masih sayang aku kan kalau aku jadi gendut nanti?”
”Jangan raguin sayang aku sama kamu dong yang, kamu gendut atau nggak aku tetep sayang. Kamu pasti empuk kalau gendut nanti.”
”Dasar mesum!”
”Mesum apa sih? Kamu tuh pikirannya. Ya, kalau kamu mau aku siap sih.”
”Dylan Samudra!” Bantal kecil melayang ke arah Dylan yang lebih dulu menghindar.
”Nanti bayi dengar!” Ucap Kenari lagi.
”Maafkan, Ayah ya kacang kecil.” Dylan kembali mendekati Kenari, lalu kembali mencium perut rata Kenari, yang kini sudah menjadi candu bagi Dylan.
Perut Kenari seperti ada kupu-kupu yang menggelitik. Panggilan 'Ayah' untuk Dylan membuatnya geli dan hangat. Kenari bahagia, sungguh sangat bahagia.
Dylan tidak menunggu lagi untuk membereskan barang-barang Kenari untuk di kemas ke dalam tas. Setelah melakukan pembayaran dan mengambil beberapa obat dan vitamin yang di resep kan dokter Ellisa untuk Kenari minum nanti di rumah.
