Happy reading ❗
"Tidak, saya tidak mau menyalahgunakan sumpah dokter saya."
Ruangan yang semula terasa hidup kini berubah menjadi dingin setelah perdebatan dua orang lelaki dewasa di dalamnya.
"Hahahahaha,,," Tawa Respati menggema di ruangan itu, setelahnya tawa itu berubah menjadi tatapan tajam yang sinis pada sang dokter dengan jubah putihnya.
"Kamu pikir dengan kita bekerjasama, sumpah yang kamu ucap itu masih berlaku? Saya bayar mahal untuk kamu menuruti semua keinginan saya."
"Tapi Kenari sudah sangat banyak mendapatkan suntikan itu, jika lebih banyak lagi akan berakibat fatal."
"Apa saya terlihat perduli? Lakukan perintah saya, atau nyawa kamu sebagai gantinya!"
"Alex, bawa dokter ini ke kamar Kenari dan awasi dia. Awasi sampai obat itu masuk ke dalam tubuh Kenari." Respati berteriak memanggil Alexander, sekaligus memberi perintah.
Dokter lelaki itu terpaksa mengikuti perintah. Dari awal memang bukan inginnya untuk melakukan ini. Respati dan Alexander mengancam dirinya untuk melakukan keinginan mereka. Sialnya, dirinyalah yang terpilih dari sekian banyaknya dokter.
Dengan sedikit di seret oleh Alexander, dokter itu berjalan ke arah kamar Kenari. Kamar Kenari berada di lantai dua rumah mewah yang sengaja Respati sewa.
Di dalam kamar, Kenari masih tertidur. Rasanya seperti tenaga Kenari terkuras habis meski Kenari hanya berdiam diri di dalam rumah. Tidur Kenari tidak pernah terasa menyenangkan meski Kenari merasa sangat lelah. Kenari bingung dengan keadaan tubuhnya sendiri.
Tidur Kenari kembali terusik dengan suara dua orang di dalam kamarnya. Kenari pun membuka matanya dan kaget melihat dokter itu lagi. Pasti setelah ini Kenari akan tidur sangat panjang.
Alexander, dia seperti orang asing bagi Kenari. Mungkin, Alexander mendekati Kenari dengan tujuan ini dan inilah Alexander yang sesungguhnya. Dingin dan terasa asing.
Meskipun Kenari terus menatap Alexander tetapi lelaki itu tetap diam tidak bergeming. Pandangan Kenari beralih pada sang dokter. Dokter itu membuka tas medisnya dan tengah menyiapkan sesuatu.
Dokter itu pun menatap Kenari dan bergantian ke arah Alexander.
"Jangan coba-coba untuk mengelabuhi saya!" Ucap Alexander sangat dingin.
Kenari pun menutup matanya dan menghembuskan nafas lelah. Tidak ada cara untuk keluar dari sini.
"Percuma memasang wajah iba seperti itu. Saya tidak akan berbaik hati dengan kamu." Oh, inilah Alexander yang sesungguhnya.
Alexander berjalan kearah sang dokter mengabaikan tatapan Kenari terhadapnya.
"Cepat lakukan sekarang, jangan membuang waktu percuma." Alexander menarik kerah jas si dokter yang bertambah gemetar ketakutan.
"B-baik"
"Please, jangan lakukan ini." Kenari mengiba pada sang dokter. Si dokter pun terdiam, merasa kasihan pada Kenari. Naluri dokternya tidak ingin melakukan ini tetapi dirinya juga punya keluarga yang harus di jaga.
"Cepat lakukan, jangan hiraukan dia!"Alexander kembali berucap.
Jarum suntik sudah di tangan dengan obat di dalamnya. Siap untuk membuat Kenari kembali tertidur. Dokter itu pun menelan ludahnya takut ketika kembali menatap Alexander. Alexander terlihat dingin dan kejam.
Sebelum menyuntikkan obat itu pada Kenari, dokter itu membisikkan sesuatu pada Kenari dan itu membuat Alexander curiga.
"Jangan coba-coba membodohi saya, atau tamat sudah riwayat kamu dokter bodoh." Alexander menodongkan satu pisau tajam pada leher si dokter.
