Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumah sakit Harapan Kita, menjadi tujuan dari Dylan. Rumah sakit menjadi tempat yang tidak ingin Dylan kunjungi. Namun kini Dylan harus menginjakkan kakinya kembali ke rumah sakit. Dulu ketika Kenari harus berhadapan kembali dengan traumanya dan kini Kenari kembali ada disini.
Perdarahan? Satu kata itu yang Kalona katakan padanya tadi. Dylan yakin ia tidak salah mendengar, meskipun ia di panda panik dan sangat buru-buru.
Bau obat dari rumah sakit begitu tercium di penciuman Dylan. Langkah kaki nya pasti namun seakan langsung langkah kaki Dylan ragu untuk menuju ruangan dimana Kenari berada.
Suasana hening di lorong ruang rawat Kenari, karena hari memang masihlah pagi untuk aktivitas para perawat yang berjaga malam. Pikiran kalut menyelimuti pikiran Dylan. Dylan tidak mau terjadi sesuatu yang membuat Kenari terluka ataupun bersedih. Dylan merasa sangat bersalah karena tidak ada di saat Kenari membutuhkan dirinya.
Kekasihnya pasti merasa sangat ketakutan sendirian meminta pertolongan. Dylan tarik nafas panjang sebelum menarik kenop pintu ruang rawat kekasihnya.
Disana, Kenari lagi dan lagi terbaring di atas ranjang pesakitan dengan selimut putih di dada. Mata terpejam dengan raut wajah pucat. Tidak ada rona merah yang biasa Dylan lihat dan selalu menjadi candunya untuk memandangi wajah Kenari.
Haris Atmaja, ayah dari Kenari setia menemani sang anak dengan kantuk yang menyerang. Haris terbangun begitu suara pintu bergeser dan melihat kehadiran Dylan yang sudah di tunggu.
”Maaf, saya terlambat.” Ucap Dylan dengan sesal. Haris memaklumi itu. Bagi Haris, Dylan adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab.
”Kenari masih syok dan butuh istirahat.” Haris menjelaskan, mungkin saja Dylan bertanya-tanya mengapa Kenari ada disini. Bukan ranah Haris untuk menjelaskan.
”Tunggu sampai Kenari bangun dan menjelaskan semuanya. Yang pasti semuanya sudah baik-baik saja.” Terang Haris lagi.
Haris merebahkan tubuhnya di atas sofa ruangan itu. Haris sudah jauh lebih tenang karena Dylan sudah ada untuk anak perempuan cantiknya. Haris kembali terlelap mengarungi mimpi yang terputus.
Dylan duduk di kursi dekat dengan ranjang Kenari, meraih tangan lemas Kenari dengan sang empu yang masih setia memejamkan matanya. Dylan bersyukur jika semuanya baik-baik saja, meskipun Dylan sendiri masih tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
Dylan membawa tangan Kenari untuk ia dekap dengan sangat hati-hati. Merebahkan kepalanya pada ranjang yang Kenari tempati. Dylan tidak memejamkan matanya, ia hanya merebahkan sambil terus mendekap tangan Kenari.
Dylan tidak sedikitpun berani untuk terlelap ataupun meninggalkan Kenari sendiri. Dylan takut hal tak terduga akan terjadi dan membuat dirinya menyesal seperti saat ini.
Sementara itu, Kenari terbangun dari tidurnya. Setelah melewati hal berat yang menimpa dirinya dan Kenari begitu takut. Takut jika sesuatu yang ia jaga dan ia tunggu akan pergi tanpa Kenari bisa berbagi dengan orang terkasihnya. Kenari bersyukur hal berat telah terlewati meskipun ia harus ekstra lebih berhati-hati setelah ini.