Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pada pukul tujuh pagi, Dylan baru keluar dari kamarnya. Semalaman Dylan tidak bisa tidur memikirkan Kenari. Memikirkan Kenari yang mungkin saja tidur satu kamar dengan Alexander. Pemikiran itu terus menari-nari di pikiran Dylan hingga menjelang pagi. Hanya dua jam Dylan terlelap dan pagi ini suara berisik dari anak-anak membangunkan dirinya.
Dylan keluar dari kamar dengan muka bantal dan rambut acak-acakan. Melihat sekeliling dan mencari keberadaan Kenari. Kenari dan Alexander selalu bersama dan kini keduanya tengah berada di dapur bersama.
Dylan pun berjalan ke arah sofa untuk bergabung dengan yang lainnya. Menikmati camilan pagi yang sudah ada di atas meja, entah siapa yang membuatnya. Dylan duduk bersama anak-anak yang tengah menonton film kartun dengan sangat serius.
Duduk di atas karpet bersama dengan anak dari Emir dan juga Luna. Dylan membantu anak dari Luna memakaikan tali rambut dengan aksesoris Cherry. Anak-anak mereka semua sangat mudah dekat dengan orang baru termasuk Dylan. Dylan pun senang bermain dengan mereka semua, lucu dan sangat menggemaskan. Dylan mau satu juga yang begini.
Mereka semua suka berdekatan dengan Dylan, bahkan ketika Dylan duduk sudah ada yang langsung ikut duduk di pangkuan Dylan.
"Pak Dylan mau kopi?" Dylan menoleh pada Meeya.
"Tidak usah, saya nanti bisa buat sendiri."
Prrranngg!!
Bunyi gelas pecah menggema di dalam ruangan. Tepatnya di dapur, dimana ada Kenari dan Alexander disana. Semua yang ada disana langsung mengalihkan perhatiannya pada dapur. Seketika mereka semua termangu dengan keadaan yang ada.
Alexander dengan sadar melempar gelas ke arah Kenari, membuat Kenari menggigil ketakutan dan menangis. Setelahnya tanpa menenangkan Kenari, Alexander pergi begitu saja meninggalkan Kenari. Kejadiannya begitu cepat dan sangat tiba-tiba.
Dylan dengan cepat mengejar Alexander, perbuatan Alexander tidak bisa Dylan maklumi, perdebatan apa yang membuat Alexander dengan begitu berani melayangkan gelas pada perempuan secantik Kenari.
Alexander berjalan cepat ke arah mobilnya, Dylan pun tidak kalah cepat untuk mengejar Alexander.
"Tunggu,"
Ucapan Dylan menghentikan Alexander yang akan membuka pintu mobilnya. Alexander pun menoleh ke arah Dylan, masih dengan emosi di wajahnya.
"Lo, berniat pergi begitu aja setelah membuat Kenari menangis dan ketakutan?" Alexander tertawa remeh dengan ucapan Dylan.
"Bukan urusan, Lo."
Alexander kembali ingin membuka pintu mobilnya namun di tahan oleh Dylan.
"Selesaikan masalah kalian, baru Lo bisa pergi."
"Bisa tidak, tidak usah ikut campur urusan gue sama Kenari. Sumber masalah disini itu ya Lo." Dylan pun di buat bingung.
"Jangan jadi lelaki pengecut." Alexander kembali tertawa kecut pada Dylan.