Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sabtu pagi yang cerah, dengan warna langit biru menghiasi. Sepertinya, semesta tahu jika Dylan berniat mengajak perempuan cantiknya untuk piknik bersama.
Langit yang cerah bersinar seperti itulah wajah perempuan cantiknya saat ini. Dylan tidak pernah lepas pandangan dari Kenari yang fokus dengan buku bacaan yang perempuannya bawa.
Mata indah Kenari terus berbinar lucu ketika buku bacaan itu begitu menarik minatnya untuk terus membaca sampai akhir cerita. Kenari begitu menyukai novel dan sejarah. Itu Dylan tahu setelah beberapa bulan tinggal bersama dengan Kenari.
Rambut hitam Kenari terus bergoyang-goyang karena angin yang bertiup sedikit kencang pagi ini. Pipi putih Kenari terus menggembung bulat sangat lucu karena perempuan cantik nya tidak henti mengunyah buah yang Dylan siapkan.
Kadang kala bibir tipis itu bergerak-gerak lucu membuat Dylan semakin menyamankan posisinya. Memandangi wajah ayu, Kenari tidak pernah sedikitpun terlintas akan kebosanan di dalamnya.
Dylan yang menjadikan paha Kenari sebagai bantal empuk terus menyamankan posisinya. Melihat wajah kekasih cantiknya dari bawah membuat Dylan berkali-kali lipat terpesona. Bosan adalah kata mustahil bagi Dylan.
”Dy, apa kamu ingin tahu apa yang aku baca sekarang ini?” Suara itu lembut seperti angin segar di telinga Dylan. Hampir saja Dylan tertidur karenanya.
”Kisah romantis pangeran berkuda putih dan tuan putri cantiknya.” Tebak Dylan sangat asal. Kekehan kecil keluar dari tawa Kenari.
”Kita, seperti ketidaksengajaan yang telah di atur baik oleh Tuhan.”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kata-kata manis dari Kenari membuat Dylan bangun dari paha Kenari. Dylan menatap lekat wajah Kenari penuh sayang.
”Kata-kata itu manis seperti kita saat ini bukan, Dy?” Kenari kembali berujar. Mengalihkan atensinya pada Dylan seorang. Wajah tampan itu, Kenari begitu tergila-gila pada berondong kecilnya.
”Seperti kita untuk sampai di tahap ini.” Dylan menggenggam tangan mungil Kenari. Keduanya memandang jauh ke arah depan, dengan langit biru cerah yang masih menghiasi piknik kecil keduanya.