28

1.1K 143 8
                                        

Suasana malam benar-benar menjadi suasana yang tepat untuk gadis itu, menatap keluar jendela tanpa ingin mengatakan  apapun. Hanya menatap dengan air mata yang masih saja jatuh sejak tadi, tapi rasanya kantuknya benar-benar sudah hilang.

Helaan nafas kerap kali terdengar, tapi sopir sendiri pun tidak berani berkomentar bahkan hanya sekedar menanyakan kabar dari gadis itu.

Baru lah saat jam menunjukkan pukul 2 malam lewat, mobil itu berhenti di sebuah rumah besar yang walaupun tidak sebesar rumah di jakarta  tapi terlihat begitu hidup.

Tok tok

Gadis itu tersadar, dia dapat melihat  seseorang mengetuk kaca mobil yang di tumpanginya dari luar.

Ko hendrik, kakaknya yang selalu siap siaga memberinya perlindungan. laki-laki tinggi berkulit putih dengan baju kaos sedang berdiri di hadapannya itu mulai tersenyum.

Tapi senyuman itu juga yang semakin membuat sheva ingin kembali menangis.

"Koko?" Panggilnya yang membuat pria itu menghela nafas lalu menarik sheva kedalam pelukannya.

"Semua akan baik-baik saja! Jangan menangis, okay?"

Sheva menggeleng, suara lembut ko hendrik benar-benar mampu membuatnya menjadi gadis yang begitu lemah. Dan benar saja, air matanya jatuh begitu saja bersamaan dengan elusan tangan sang kakak.

"Maaf" cicitnya dengan suara yang begitu parau, tapi respon ko hendrik malah membuatnya sedikit mendongak.

Ko hendrik tersenyum lalu menggeleng.

"Bukan salah kamu, dek! Jangan salahkan diri kamu, udah saatnya memang kamu menentukan jalan kamu yang baru"

"Tapi sheva kecewain mereka, ko! Sheva takut"

Ko hendrik terdiam sejenak, kembali mengelus rambut sang adek dengan begitu lembut.

"Kecewa pasti ada, tapi bukan kewajiban kamu untuk selalu membuat mereka senang! Kewajiban kamu itu yah buat diri kamu nyaman dulu dek, mereka tidak tau tentang kamu, dan mereka tidak perlu tau" jelas Ko Hendrik yang membuat sheva terdiam

"Udah yah,Masuk dulu! istirahat terus besok baru kita bicara lagi" ujarnya yang diangguki oleh gadis cantik itu "cengeng! Masa gitu ajah lemah"

Shevara memanyungkan bibirnya yang membuat ko hendrik tertawa.

"Tidur yah dek! Jangan di pikirin, koko bantu kok"

Shevara tersenyum lalu mengangguk "Terimakasih ko"

Dengan wajah lelah, shevara berjalan kearah tangga, tapi kembali berbalik saat merasakan ko hendrik mengikutinya.

"Koko juga istirahat, aku baik-baik ajah sekarang!"

Ko hendrik terlihat ragu tapi tetap mengangguk saat melihat senyuman paksa dari wajah cantik  sang adek.

"Mimpi yang indah, cantik! Jangan nangis lagi"

Sheva tersenyum lalu mengangguk. Sheva kembali berbalik lalu mulai menaiki tangga dengan di tatap diam oleh ko hendrik.

"Siapa yang berani menyakiti kamu, dek? Kakak tidak bisa lihat kamu seperti ini" gumamnya lalu berbalik menuju kamarnya.

Sedangkan sheva juga kini sudsh berada di dalam kamarnya, menatap kesegala penjuru kamar hingga matanya bertemu dengan foto masa kecilnya.

Fotonya dengan shena dan juga ada gracio disana.

"Aku terkadang iri dengan hidup kamu, shen! Kamu bebas dan bisa bersama dengan  orang yang mencintai kamu, kamu bahkan bahagia di jepang tanpa ingin kembali ke Indonesia!" Sheva tersenyum dengan air mata yang jatuh "mereka menakutkan, shen! Gracio juga sudah berubah, aku takut sekarang! Kapan kamu datang dan peluk aku?"

POSESIF (DELSHAN) [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang